
Akhirnya nenek Ratih dan juga Kinan bergegas ke rumah sakit, Mereka mengendarai mobil Fredo dan juga mobil Edo, Pras ikut mendampingi Kinan dan juga Nenek Ratih menuju ke rumah sakit begitu pula dengan Zia. entah kenapa tangan Kinan begitu dingin Pras dengan setia menggenggam tangan Kinan dan mencoba menenangkan wanita yang berada disampingnya tersebut. Kinan hanya menunduk saja menata hatinya saat nanti bertemu dengan sang ayah, Kinan sadar betul bahwa sang ayah tidak pernah menyukainya.
Kinan tak pernah lupa bagaimana ayahnya begitu membencinya beberapa tahun yang lalu, walaupun tak pernah terbersit dalam hati Kinan sedikitpun ikut membenci ayahnya,dia tetap menyayangi ayahnya dan juga Kanaya yang lebih memilih pergi meninggalkan dia dan ibunya beberapa tahun yang lalu.
nyatanya kecelakaan yang dialami oleh Kinan membawanya ke Jakarta bertemu dengan orang-orang yang dicintainya bahkan mempertemukan Zia dengan papa kandungnya. nenek latih selalu berkata kita harus selalu mensyukuri apa yang kita dapat Kinan dan saat inilah Kinan berusaha untuk mensyukuri apa yang dia dapatkan. Kinan tak pernah meminta lebih kepada Tuhan yang kita inginkan hanyalah kebahagiaan untuk Zia, sedang kan untuknya? Keenan merasa Tuhan selalu memberikan kebahagiaan padanya,begitulah pikir Kinan.Beberapa saat kemudian Kinan dan rombongan sampai ke rumah sakit entah kenapa tangan Kinan semakin dingin bahkan disaat nenek Ratih, Zia dan juga Edo keluar dari mobilnya,Kinan hanya berdiam diri di tempat duduknya. Pras yang akan ikut turun tiba-tiba menyadari keadaan Kinan yg yang hanya terdiam saja.
"Kinan!.....hei....!" panggil Pras sambil menangkup wajah Kinan dengan kedua tangannya, menarik nya agar menghadap ke arah Pras.
"Semuanya akan baik-baik saja! kita akan bertemu ayah dan adikmu!" kata Pras pelan. Kinan masih diam dan hanya menatap Pras, di matanya penuh dengan kesedihan.
__ADS_1
"percaya padaku aku akan selalu menggenggam tanganmu dan akan selalu bisa disampingmu!" kata Pras lagi.
"apa ayah akan marah??.…ayah masih marah?" tanya Kinan pada Pras.
"ayah akan senang kita datang!!Ayah tidak akan marah!!Ayah rindu pada Kinan!!" kata Pras.
"Ayah tidak pergi lagi?...tidak membawakan NAya lagi?Ayah sayang Kinan??" berbagai pertanyaan dilontarkan Kinan pada Pras, lelaki itu hanya memandang Kinan sambil mengeleng kan kepalanya, membawa Kinan ke dalam pelukannya.
"Ayo kita masuk!" ajaknya setelah melepas pelukannya pada Kinan.
__ADS_1
Setelah menunggu sekian lama Kinan akhirnya keluar dari mobil tampak jelas di matanya kesedihan yang teramat sangat. Fredo menunjukkan ruang dimana ayahnya Kanaya di rawat. pelan tapi pasti nenek Ratih berjalan mendekati ruangan di mana sang suami sedang dirawat, bertahun-tahun lamanya dia tak pernah melihat lelaki yang 35tahun lalu memintanya untuk menjadi istrinya tersebut. masih terekam jelas di ingatan nenek Ratih kebahagiaan yang didapatkan ketika sang suami meminta untuk menikah dengannya dulu,menjalani kehidupan tanpa dikaruniai seorang anak pun mereka lalui dengan bahagia.
sungguh tak pernah terbesit dalam pikiran nenek Ratih kehidupan rumah tangganya akan terpisah seperti ini, berpisah dengan orang yang dicintainya dan juga anak bungsunya hanya karena keegoisan semata.
ceklek......... pintu terbuka.
Kanaya kaget ketika dia melihat wanita renta itu berdiri di ambang pintu, airmata nya terjun bebas melewati pipinya, rasa rindu yang lama dia pendam seketika terobati saat melihat tubuh renta sang ibu, namun rasa bersalahnya seakan memaku Kakinya hingga tak bisa mendekati untuk sekedar memeluk tubuh renta sang ibu. di belakangnya diikuti Kinan yang digenggam erat tangannya oleh Pras, sedangkan Zia di gandeng oleh Edo. di ranjang rumah dan sakit terbaring lemah seorang lelaki dengan tubuh kurusnya, mendengar pintu terbuka dia menoleh ke arah pintu. senyuman nya terukir saat matanya menangkap sosok yang sangat di rindukan nya,entah mengapa keegoisan nya menghancurkan hidupnya nya sendiri.
"Ratih..!"
__ADS_1
bersambung.....