
"Mau makan apa? hemm?"
tanya Romi yang sedang ada di depan Zia, Zia baru saja muntah- muntah hanya karena mencium bau parfum Devan. Devan hanya menatapnya dan duduk agak menjauh dari Zia.
"Aku sudah tidak memakai parfum nya Zi!" kata Devan masih dengan gayanya, dingin dan datar.
"Iya...aku tau!..kata dokter Tania,aku tidak akan mengalami mual dan muntah!! tapi ini sampai lemes!" kata Zia.
"Aku beliin bakso! gimana?" bujuk Romi.
"Tidak!! itu tidak sehat!! aku masakin bola-bola daging aja!" kata Devan sambil berjalan ke arah dapur,di ikuti Romi yang sedang memapah Zia.
"Tapi aku ingin martabak Dev!" ucap Zia lirih.
"Martabak terlalu berminyak Zi!" saut Devan, dan dia tetap saja mengambil daging cincang dan beberapa bahan makanan di kulkas, Romi hanya dia sambil mengupas jeruk untuk Zia. Zia dan Romi menunggu Devan masak, Zia begitu kagum dengan kecekatan Devan dalam memasak.
"Apa kalian pandai memasak semua? Kamu juga sangat pandai memasak kan Rom?" kata Zia, Zia memang 8 tahun lebih muda dari mereka bertiga, namun mereka sepakat hanya Zidan yang memanggil dengan embel-embel kakak!.
"Semua ilmu yang papa kami ajarkan, kami serap dengan baik!" kata Romi yang sedang bermain dengan ponselnya.
"Waahh benarkah??" kata Zia berbinar, apalagi Devan sudah selesai memasak dan meletakkan sup bola-bola dagingnya di depan Zia.
"Di makan Zi!" pinta Devan.
__ADS_1
"Dev....aku masih ingin.....!" kata Zia namun terpotong dengan omongan Devan.
"Nurut Zi!" kata Devan tegas, kemudian Devan berdiri untuk mengambil kan minuman untuk Zia.
"Nanti aku beliin!! sekarang makan dulu sup bikinan Dev!!" bisik Romi, membuat senyuman Zia melebar. Setelah berbisik Romi menjauh kembali dari Zia.
"Rom...aku nanti ke kantor dulu! kamu ikut kan?" tanya Devan sambil meletakkan minuman di depan Zia.
"Iya....tapi aku ke restoran dulu, nganter Zia!" ucap Romi sambil mengelus puncak kepala Zia yang sedang lahap memakan sup bikinan Dev, Zia hanya diam saja sedangkan Dev sudah menatap tangan Romi yang berada di kepala Zia.
"Memang Zia mau kemana? ke restoran? jangan!! istirahat saja di rumah!" kata Devan tegas,entah mengapa dia tak suka jika Romi terlihat perhatian penuh pada Zia.
"Dev, boleh ya aku ketemu teman-teman aku, sebentar saja! lalu aku akan ke rumah sakit ketemu mama!"
"Deeevv.....!" rengek Zia sambil memanyunkan bibirnya, seketika Romi menatap Zia yang di rasanya mengeluarkan suara imutnya.
"Berhenti merengek Zi!! Ayo berangkat Rom!" ajak Devan.
"Pergi dulu... Cute!!" kata Romi yang gemas dengan Zia, dan mencubit pipi Zia.
"Hentikan Rom!! jangan buang waktu!!" kata Devan kesal dan berlalu terlebih dahulu.
"Dia cemburu!!" ucap Romi pada Zia dengan bahasa isyarat mulut nya tanpa mengeluarkan suara. Zia hanya melotot tak percaya dengan apa yang di katakan Zia memandang ke dua lelaki tersebut.
__ADS_1
"Tampan!" ucap Zia.
"Siapa? Romi apa Devan?" tanya seseorang yang tiba-tiba ada di sampingnya.
"Ehh copot!! bi Narti!!" ucap Zia terlihat malu.
"Hehehehe sudah non jangan melamun, ini bibi bawa orang yang mau kerja di sini!"
"ohh nambah pengawai lagi bi?" tanya Zia.
"Iya ini dia orangnya non!... sini kamu!" panggil bi Narti.
"Pagi non! nama saya Tasya! saya yang akan bekerja di sini!" kata Tasya, dia mencoba mengingat wajah wanita di depannya itu, seperti nya tak asing.
"Tasya? Tasya Adelia?" tanya Zia
"Non mengenal saya?" tanya balik Tasya.
"Ketika semua orang mengucilkan aku karena kemiskinan ku dan karena aku tak punya papa! kamu lah orang pertama yang mau berteman dengan ku!" ucap Zia, seketika Tasya melotot.
"A-Aziza??? kau kah ini?"
bersambung
__ADS_1