
"Ma-mama!!"
pekik Willy kaget karena di pergoki sang mama sedang makan siang bersama Devan dan Zia, dua orang yang sangat di benci mamanya.Tiba- tiba Devan berdiri dengan tangan gemetaran, matanya tiba-tiba terlihat ketakutan,dia memandang lekat ke arah belakang Anggela,Tak ada yang menyadari keadaan Devan, karena Zia pun fokus pada Anggela yang menatap tajam Willy dan juga dirinya.
''Devan....!" ucap lirih orang yang ada di belakang Anggela, dia adalah adik dari Anggela, Denada.Devan memandang nya dengan mata ketakutan, bertahun-tahun tak bertemu pada akhirnya dia harus di pertemukan kembali dengan wanita tersebut,Devan seakan di hantam dan di hempaskan ke masa lalu yang mati-matian ingin dia hapuskan dari hidupnya.
Tiba-tiba Zia menyadari tatapan wanita tersebut tertuju pada Devan,Zia langsung menatap suaminya tersebut dan betapa kagetnya Zia, melihat wajah ketakutan dari di Devan, tangannya sudah gemetaran tak karuan, bahkan di sudah tak bisa menopang tubuhnya lagi, seketika dia duduk kembali ke kursinya.
"Dev....'' panggil Zia pelan sambil memegang pipi Devan, seketika Devan menepis tangan Zia, Willy juga merasa kaget dengan reaksi Devan, sedangkan Anggela juga merasa heran dengan keadaan yang ada.
"Dev.....!" panggil Zia lagi mulai panik melihat wajah Devan, Devan terus menatap wanita yang sekarang ada di samping Anggela.
"Apa kau mengenal Devan?" tanya Zia penuh selidik, dia jelas tau tatapan Devan kemana.
Sedangkan di kantor, tiba-tiba Raksa berlari setelah mendapatkan telpon dari orang suruhan nya yang membuntuti Devan, terus terang saja Raksa tak pernah bisa membiarkan Devan pergi seorang diri, jika tanpa dia maka Raksa akan menyuruh orang untuk membuntuti Devan.
__ADS_1
"Rom,ikuti aku ke cafe yang aku kirim alamat nya barusan!'' kata Raksa di sambungan teleponnya.
"Baik!" kata Romi cepat.
tut.....
"Ada apa mas?" tanya Tasya panik karena saat ini mereka sedangkan berada di kantor Romi.
"Sayang ..ayo ikut aku!"
"Dev...hiks....hiks..... Devan!" kata Zia sambil berusaha memegangi tangan Devan, namun Devan berulang kali menepisnya.
"Devan... maafkan aku!!" ucap lirih Denada, namun tak ada seorang pun yang mendengarnya, hanya Zia yang menyadari gerakan mulut Denada, Denada berusaha mendekati Devan,namun tiba-tiba.....
"Berhenti!!! jangan sekali-kali kamu menyentuh Devan!!" kata Zia.
__ADS_1
"Aku tak tau ada apa dengan kamu dan Devan!! tapi aku yakin dia seperti ini karena kamu!!" ucap Zia sambil berdiri di depan Devan yang tengah menutup telinga nya dan terlihat ketakutan sambil komat-kamit tak jelas.
"Dev......!" teriak Raksa yang tiba-tiba berlari masuk ke cafe.
"Dev.... Devan...lihat ini Raksa!!" ucap Raksa ketika sudah ada di hadapan Devan.
"Raksa...... Romi.... Romi.... Raksa...!!!" kata Devan dengan tatapan kosong sambil memanggil dua orang yang selalu ada untuk nya.
"Dev....ini... Romi!!ayo kita pergi!" kata Romi yang langsung menutup wajah Devan dengan masker dan memberikan topi pada kepala Devan.Raksa yang akhirnya membawa Devan keluar dari cafe dan masuk ke dalam mobil.
"Dengar ya....jangan pernah lagi muncul di hadapan kami!! kalau tidak!! tanganku benar-benar akan membunuhmu!!!" ancam Romi pada Denada, Anggela dan Willy sangat bingung melihat nya, apalagi Anggela pasalnya sang adik baru saja beberapa jam di Indonesia setelah bertahun-tahun ikut sang suaminya ke luar negeri.
Zia akhirnya pergi bersama Romi dan Tasya, sejak tadi Tasya sudah mendekap erat Zia yang sedang menangis di dekapan nya, meninggalkan tanda tanya di benak Willy dan sang mama.
bersambung...
__ADS_1