
Setelah kepergian Anggela sang mama, Raksa mendekati Devan, trauma yang di derita Devan tak kunjung sembuh, bahkan dengan bantuan seorang psikolog pun sulit baginya, apalagi Devan yang seakan tak percaya dengan orang-orang yang membantu nya, karena sebelum dokter Joshua, dokter yang menangani nya saat ini ada dokter Bandi yang ternyata adalah mata-mata Anggela dan melaporkan semuanya pada Anggela.dan dia tau segalanya tentang Devan dari dokter tersebut.Walaupun, Anggela tak pernah apa penyebab dari trauma Devan.
"Dev....apa kau punya rencana? aku tak rela bila perusahaan yang dibangun susah sama papa di miliki wanita tersebut" Kata Raksa menunjukkan kemarahan nya.
"Kau pikir aku rela Sa?? nggak!! aku pastikan! bahwa perempuan itu tak akan memiliki nya!!! aku pastikan itu Sa!! aku akan tempuh berbagai cara!!"
##########
"Zia..kamu harus mendapatkan biaya tambahan lagi, ini sudah melewati masa 6 bulan pelunasan perawatan Mama kamu, lagian Zidan juga perlu pemeriksaan lagi, setelah penyambungan kaki palsu tersebut!" kata dokter Kana, orang yang mengetahui kejadian kecelakaan keluarga besar Zia. Om Fredo juga tak bisa banyak membantu,karena memang kekayaannya tak seberapa besar, sedang kan om Edo yang di luar negri juga sudah pernah mengirimkan uang untuk Zia,dan Zia tak mau lagi menyusahkan mereka.
Setelah percakapan dengan dokter tersebut, Zia kembali ke restoran dimana dia kerja, dengan susah payah dan badan gemetaran Zia menata hatinya,dia ingin menemui Romi yang di ketahui Zia sebagai pemilik restoran tersebut.Zia tak menduga di dalam sudah ada ketiga lelaki tampan seperti biasanya, namun kali ini pintu nya agak terbuka, sehingga Zia bisa mendengar dengan sangat jelas percakapan mereka ber tiga.
__ADS_1
"Bangsaaat!!!! jadi perempuan itu datang lagi?" Romi nampak emosi mendengar penuturan dari Raksa, sedangkan Devan hanya diam sambil memijit pangkal hidung nya.
"Dev loe harus nikah!!" kata Romi lagi.
"Ada solusi lain?" tanya Devan.
"Gue....gue gak bisa!! loe tau kan! gue....emmmm...jijik!" ucap Devan lirih, Romi dan Raksa hanya bisa menghela nafasnya, kemudian Raksa mendekati Devan dan memeluk bahu Devan dan menenangkan nya, Romi hanya bisa terlihat pasrah dengan trauma yang di alami Devan.
"pokoknya loe harus nikah!! ntar kita cari cara biar istri loe bisa hamil!! gue gak rela Papa tidak tenang di surga hanya gara-gara wanita sialaaan itu!!" lanjut Romi.
"Udah ya....tiduran aja!" Raksa menarik bahu Devan dan membaringkan tubuh Devan ke sofa. Dengan cepat Romi mengambil kan minuman pada Devan melalui Raksa, dengan cepat juga Raksa memberikan obat ke arah mulut Devan dan memberikan minum. Raksa memang yang paling sabar di antara mereka, Romi yang paling sering emosi dan Devan lah si dingin yang paling lemah di antara mereka.
__ADS_1
"Carikan wanita yang bersedia di bayar buat jadi istri gue!! ntar kita cari cara agar dia bisa hamil!" kata Devan sambil memejamkan mata.
"Loe yakin Dev? mending gak usah aja dulu, kita akan cari cara lagi nanti!" kata Raksa.
"Gak!!! gue yakin loe bisa Dev! ntar gue cariin cewek yang mau dibayar buat nikah sama loe!! kata Romi
"Satu lagi!! kita akan melakukan inseminasi buatan! agar wanita itu hamil tanpa loe harus menyentuh nya!! gimana.?" ucap Romi.
"Bagus Rom!!! ide bagus!!! " kata Devan yang masih memejamkan matanya.
Braakk......pintu terbuka agak keras.
__ADS_1
"Saya bersedia tuan!!"
bersambung