
"Iya...adek bayinya tidur pengen di peluk papanya!"
"Hah???"
"Dev...jangan hah..heh..hah..heh aja dong!! tidur aja yuk?" ajak Zia sambil menarik tangan Devan naik ke atas ranjang, dan dapat di lihat Zia bahwa Devan sangat panik.Dia hampir saja mendorong Zia, namun melihat gelagat Devan, Zia langsung memegang perutnya sebagai tanda ada bayi di sana jika Devan berani mendorong Zia.
"Zia stop!!!! Aku gak bisa!! maafkan aku!!" ucap Devan cepat dan mundur beberapa langkah,kemudian dengan cepat tidur di kasur lantai dan membalut tubuhnya dengan selimut.Bayangan masa lalu tiba-tiba menyelinap masuk ke dalam ingatan, tubuhnya bergetar hebat, Zia yang melihat selimut yang di pakai Devan bergerak-gerak pelan merasa sangat bersalah, namun ini adalah salah satu cara agar Devan bisa sembuh dan menerima dia juga anak-nya kelak. Zia juga berpikir bagaimana jika anaknya kelak seorang cewek apa Devan juga tak akan menyentuh nya?
__ADS_1
Trauma yang di alami Devan,hanya dia pendam sendiri sampai suatu ketika Romi dan Raksa mengetahui nya, merkea merasa iba, terlebih Raksa yang sangat menyayangi Romi dan Devan. Bahkan di usia mereka yang ke 18tahun ketika meranjak memasuki bangku kuliah, Raksa pernah mencoba mengobati Devan dengan cara membawanya ke dokter namun Devan menolak bahkan terlihat lebih parah dari sebelumnya.Akhirnya Raksa menyerah, dan kini di usia mereka yang ke 26 dan Raksa 28 tahun, tak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita.
"Dev.....maaf kan aku!! aku akan tidur di kamar Zidan saja ya!" pamit Zia,dia tak ingin membuat Devan semakin parah saja, paling tidak bukan hari ini pikir Zia.Tak ada respon dari Devan,dia hanya diam saja, akhirnya Zia melangkah pergi dari kamar Devan dan menuju kamar Zidan di lantai bawah.
Sulit bagi Zia memejamkan mata, hingga jam menunjukkan pukul 12.30 malam, Zia merasa lapar dan dia memutuskan untuk keluar kamar menuju dapur.Tak disangka ternyata disana dia bertemu dengan Romi.
"Kenapa belum tidur?" tanya Romi
__ADS_1
"Aku lapar!" ucap Zia sambil mengelus perutnya.
"Hemmm keponakan Om laper ternyata!! duduk sini...biar chef Romi yang memasak!" ucap Romi sambil menepuk dadanya, Zia tersenyum dan tertawa kecil melihat tingkah Romi.
"Siap chef!!" saut Zia
setelah beberapa saat memasak Romi akhirnya menyajikannya di piring di depan Zia, tanpa mereka sadari Devan memandang kebersamaan mereka dari lantai dua, dia yang hendak menyusul Zia karena merasa bersalah pada Zia hingga pada akhirnya Zia memilih untuk keluar kamar Mereka. Devan bisa melihat jelas bagaimana Romi mengacak puncak kepala Zia dengan tangannya sambil sesekali tertawa pelan,karena menyaksikan cara makan Zia yang terlihat seperti seorang gadis yang kelaparan, Devan ingin sekali melakukan semuanya itu, dia ingin sekali berdekatan dengan Zia namun traumanya yang tak mengijinkan Devan untuk mendekat ke arah Zia.Karena tak pernah mendapatkan penanganan secara khusus,hingga trauma tersebut masih mendarah daging pada diri Devan, entah mengapa bila melihat Zia, dia begitu bersemangat untuk cepat sembuh Tapi tetap saja sentuhan Zia masih membuat dia begitu bergetar dan mengingat masa lalunya itu.
__ADS_1
bersambung