
"Susah banget tidur!" gumam Tania yang membolak-balikkan tubuhnya di atas ranjang, sampai suara ketukan pintu mengangetkan nya.
tok..tok....tok.....
Suara kamar nya di ketok, Tania hanya diam saja memastikan pendengaran nya.
tok...tok...tok....
Terdengar lagi bahkan sekarang lebih keras Tania buru-buru turun dari ranjangnya,dia membenahi baju tidurnya sebelum membuka pintu.
ceklek.....
"Kau? ada apa malam-malam begini ke sini?"
__ADS_1
tanya Tania heran, melihat Raksa dengan membawa guling dengan rambut acak-acakan. Bukannya menjawab Raksa malah masuk begitu saja ke dalam kamar Tania, Tania yang merasa heran dengan tingkah Raksa hanya menggeleng pelan, kemudian dia menutup kembali pintu kamarnya,Namun Tania kaget karena Raksa tiba-tiba sudah berada tepat di belakangnya.
"A-ada a-apa??" tanya Tania,entah mengapa tiba-tiba dia gugup di depan Raksa, lagi-lagi Raksa tak bersuara dengan cepat dia bahkan menarik Tania naik ke atas ranjang dan merebahkan nya pelan
"Ayo tidur!! aku ngantuk!!" kata Raksa sambil memeluk erat Tania, menarik kepala Tania agak tidur di dada bidangnya.
"Sa.....kamu kenapa?" tanya Tania,jangan tanyakan bagaimana keadaan jantung nya, benar-benar hampir meloncat dari tempatnya.
"Aku mau tidur!" jawaban yang sama sekali tak di ingin kan oleh Tania.
"Jangan banyak bicara Nia!! tidur lah! aku tau kamu sudah tidur!" kata Raksa semakin mengeratkan dekapannya.
Raksa tersenyum tipis kala melirik Tania yang mulai terlelap di dalam dekapannya, ternyata Raksa tau bahwa Tania tak bisa tidur, dengan liciknya tiga hari setelah kamar tamu di tempat i oleh Tania, Raksa memasang kamera tersembunyi di kamar tersebut, Raksa hanya mencoba menyelami hati nya pada Tania, bertatap muka dengan Tania sungguh Raksa tak sanggup,hingga beberapa kali dia berduaan dengan Tania, Raksa memilih menghindar, akhirnya jalan satu-satunya hanya dengan memasang kamera tersembunyi di kamar tersebut, walaupun begitu dia tak pernah melihat Tania berganti baju di kamarnya, Raksa merasa bersyukur untuk itu.
__ADS_1
Raksa menikmati tontonan di layar ponselnya, bagaimana Tania tersenyum dengan ponselnya, bagaimana dia menelpon dengan ekspresi panik,dan kadang dengan ekspresi berbinar,entah apa yang di bicarakan.
Puncaknya Tania tadi pamit untuk kembali ke Singapura, hatinya merasa tak rela,dan keberanian dan tekadnya,malam ini dia mendatangi Tania, berniat untuk melamarnya, umur mereka sudah terbilang tak muda lagi, Raksa yang sudah berkepala 3 begitu pula dengan Tania yang sudah mendekati kepala 3, namun melihat wajah pucat dan mengantuk nya Tania,Raksa mengurungkan niatnya untuk menyatakan cintanya,dia berpikir mungkin besok pagi akan lebih baik tapi malam ini dia ingin membuat Tania bisa tertidur dengan lelap karena melihat wajahnya yang pucat karena kelelahan, dia pun merasa kasihan dan benar saja belum ada beberapa menit Tania sudah tidur di dada bidang milik Raksa, Raksa hanya bisa tersenyum tipis melihat wanita yang sebenarnya sudah mengisi hatinya cukup lama,Namun Raksa merasa ragu akan perasaannya sendiri,dia merasa takut kalau perasaan pada Tania bukanlah cinta melainkan rasa sayang terhadap sahabat wanita satu-satunya,dan kala itu benar maka Raksa hanya akan menyakiti Tania.
"Terimakasih karena mau kembali!" bisik Raksa dan mencium kening Tania sebelum benar-benar ikut terlelap bersama dengan Tania.
Pagi menjelang, Tania merasa ada yang menghimpit tubuhnya, seketika dia teringat tentang kejadian semalam.
"Raksa!" ucap Tania lirih, Sayang nya masih bisa di dengar oleh Raksa.
"Morning girl!.. cup..." satu kecupan mendarat di pipi Tania yang masih terbengong-bengong.
"Tania!" ucap Raksa membalikkan tubuh Tania menghadap ke arah Raksa.
__ADS_1
"Will you marry me?"
bersambung