
Di sebuah cafe, seorang wanita paru baya yang nampak masih anggun sedang duduk di depan dua orang laki-laki, hari ini dia menyuruh seseorang untuk menyelakai istri Devan, dia tak mau Devan menang dalam perjanjian mereka, Anggela sungguh sangat kejam kepada anak kandungnya itu.
"Apa yang harus kami lakukan nyonya?'' tanya salah satu dari mereka.
"Setiap hari dia akan belanja ke pasar bersama dengan pembantu nya! tabrak dia!! aku ingin janin dalam tubuhnya lenyap!" kata Anggela dengan tegas.
"Baik nyonya! kami akan melakukan nya dengan sangat rapi!" jawab salah satu dari mereka.
Anggela segera memberikan sebuah amplop coklat sebagai imbalan untuk mereka, dan Anggela berjanji akan memberikan sisanya setelah pekerjaan mereka selesai.
kemudian mereka pergi meninggalkan Anggela seorang diri, ternyata ada Willy yang sedang menyamar dan duduk di belakang Anggela memunggungi Mama nya tersebut, Willy merasa apa yang di lakukan sang Mama tidak benar,dia mendengarkan dengan seksama apa rencana sang Mama.
"Aku tak akan membiarkan kamu menang!! dasar anak pembawa sial!!" gumam Anggela yang dengan jelas di dengar oleh Willy.
Di rumah mama Kinan, Devan sengaja tidak masuk kantor hanya untuk menemani Zia dan juga Mama Kinan, Devan yang tak terbiasa berdekatan dengan perempuan hanya menempel pada Zia tanpa mau mendekati sang mertua.
"Mama apa kabar?'' tanya Devan hanya sekedar ingin berbasa-basi.
__ADS_1
"Baik...mama baik....baik!" kata Mama Kinan kemudian Mama Kinan sibuk dengan kegiatan menyulam nya.
"Mama sudah sembuh total Zi?" tanya Devan sambil melihat mertuanya yang asyik sendiri.
"Hemmm... Mama sembuh, tapi kadang kala ingatannya terganggu, ada beberapa hal yang tak mama ingat dengan baik!" kata Zia.
Devan tiba-tiba menyandarkan kepalanya di bahu Zia, entah mengapa dia sekarang terbiasa bermanja dengan Zia, sejak berbaikan dengan Zia, Devan lebih sering pulang ke rumah mama Kinan untuk menemani Zia.
"Zi....nanti kita pulang ya?" kata Devan.
"Kamu gak betah di sini?" tanya Zia.
"Ya udah kita pulang!" kata Zia
"Kak..... Kapan-kapan boleh tidak temen Zidan ke sini?"
Tanya Zidan yang tiba-tiba datang, kaki Zidan yang baru terlihat sama dengan kakinya yang asli, bahkan Zidan bisa berjalan layaknya orang biasa yang punya kaki lengkap.Kecanggihan teknologi benar-benar dirasakan oleh Zidan.Dan gini Zidan tak malu lagi untuk ke sekolah,dia tidak lagi melakukan home schooling seperti dulu.
__ADS_1
"Boleh! memang kapan mau ke sini?" kali ini Devan yang bertanya.
"Pas ultah Zidan kak! boleh ya?" kata Zidan
"Okey nanti Kak persiapan! okey.…!??"
"Siap kak!!!"
Besok paginya Devan sudah siap-siap untuk pulang ke rumah besar, sedangkan Zia masih bersiap untuk pergi ke pasar bersama bi Ola seperti biasa.
"Ikut lagi non?" kata bi Ola
"Biar sehat bi?." saut Zia.
Akhirnya mereka berjalan berdua ke depan komplek, di sana ada pasar dadakan yang memang hanya ada di pagi hari saja, banyak pedagang yang ada di sana. setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan bi Ola dan Zia akhirnya pulang ke rumah bahkan dia membawakan bubur kesukaan Devan.
ciiiiiiiit ......braaakkk......suara sebuah sepeda motor yang tiba-tiba terdengar di dekat Zia...
__ADS_1
"Nooooonnn!!!!'' teriak bi Ola.
bersambung....