
Kinan tertidur setelah beberapa saat yang lalu bertemu dengan Zidan dan sekarang bi Ola yang sedang menemani Kinan, Zia harus mengantar Zidan,hari ini harus berangkat ke Jepang bersama dengan Raksa,karena dia akan mendapatkan kaki palsu nya yang lebih bagus lagi agar terlihat lebih mirip lagi dengan kaki aslinya.
"Kakak harap kamu gak takut di sana! ingat!! ikuti kata kak Raksa ya!" Zia mewanti-wanti Zidan, Raksa hanya memperhatikan interaksi keduanya sambil tersenyum, sungguh persaudaraan yang membuat iri siapa saja yang melihat nya.Devan malah menatap Raksa yang terus menerus menatap Zia dan Zidan, Raksa yang merasa di tatap oleh Devan hanya menghela nafasnya lalu mendekati Devan, merangkul bahu Devan.
"Jaga Zia dengan baik! kami akan lama di sana!" kata Raksa.
"Berapa lama?" kata Devan entah mengapa dia merasa tak suka jauh dari Raksa, Lelaki yang selalu menemani nya sejak berumur 10 tahun silam.
"Hanya 1 bulan! Jaga Zia dengan baik! ingat dia sedang hamil!" kata Raksa
"Apa aku tidak bisa ikut saja?"
__ADS_1
tanya Devan, Devan benar-benar tak pernah jauh dari Raksa, lelaki 2 tahun lebih tua darinya itu memang tak pernah jauh dari Devan, sejak kecil sang papa sudah meminta Raksa untuk menemani Devan kemanapun Devan pergi sejak kejadian yang dia alami Devan kala itu.Sedangkan Romi,sosok yang lebih suka tak di atur sang papa, lebih ceroboh walaupun sama-sama begitu menyayangi Devan,umur mereka sama!.
"Bodoh!!! siapa yang akan mengawasi perusahaan??! aku juga meminta Romi untuk menjadi asisten mu selama aku pergi" kata Raksa.
Raksa adalah anak tertua dari keluarga AdiRaksa walaupun dia dan Romi adalah anak angkat tuan Adiraksa papa Devan, entah itu takdir atau apa, Tuan Adiraksa menemukan dua orang anak kecil dan membawanya pulang, ternyata namanya juga sama dengan nama besar keluarga Akhirnya Zidan dan Raksa berangkat, Devan yang seakan belum rela Raksa pergi masih memandang ke arah punggung lelaki tersebut, Zia langsung saja mengapit lengan Devan, tiba-tiba Devan kaget dengan perlakuan Zia.
"Ke-kenapa?" tanya Devan gugup.
''Mau sekarang?'' tanya Devan memandang ke arah Zia, namun dia buru-buru membuang pandangannya ke arah lain.
"Mau sekarang!! ayoo.....!"
__ADS_1
"Ck.... seperti anak kecil saja!" ucap Dev sambil melepaskan kaitan tangan Zia di lengannya, terus terang dia masih merasa risih dengan perlakuan seorang wanita padanya, walaupun status nya sudah sebagai istri nya.
"Ada anak kecil di sini!! jadi aku ikutan jadi anak kecil!" Zia kembali mengaitkan tangannya ke lengan Devan, Devan seketika berhenti dan memandang ke arah lengannya,seakan memberi isyarat agar Zia melepaskan nya.
"Anak dalam perut ku yang ingin berdekatan dengan ayahnya!!" ucap Zia dan Devan hanya bisa menghela nafasnya pelan.
Zia tersenyum menang melihat Devan melupakan kepergian Raksa, memang itulah tujuan Zia sedikit agresif terhadap Devan, semuanya semata-mata agar Devan tak bersedih ditinggalkan oleh Raksa.
Zia sangat senang bisa menikmati es cream yang dari kemarin dia inginkan, bahkan Raksa membelikan nya namun ternyata bukan es cream itu yang dimaksudkan, Romi juga membawa es cream dari restoran hanya untuk Zia, karena dia tak mau keponakan nya ileran, seperti kata bi Narti.Kehamilan Zia menjadi semangat tersendiri bagi ke tiga pemuda di rumah tersebut, bahkan terlihat jelas! Zia seperti mengandung anak dari ketiga lelaki yang sama perhatian dan sayangnya pada dirinya.Zia sangat bersyukur.
bersambung
__ADS_1