
Setelah menandatangani surat perjanjian tadi pagi,kini Zia sedang duduk di kamar milik nya,dia benar-benar tak habis pikir apa yang sudah dia lakukan! namun semuanya terlanjur dia lakukan.Zia memandang sebuah foto lelaki dan seorang gadis kecil, itu adalah foto dirinya dan sang papa.Selama ini Zia selalu bersikap sabar dan tenang di hadapan semua orang, walaupun tak dapat di pungkiri, Zia yang dulu sosok yang ceria kini sudah tak ada lagi,Gadis yang hampir berumur 19 tahun ini berubah menjadi sosok gadis dewasa.
"Papa..... Zia benar kan? Zia benar kan pa?....Dia wanita pujaan papa! aku menjaganya demi papa! Zia benar kan pa?" ucap Zia sambil mengusap bingkai foto sang papa, foto sang papa yang tersenyum lebar seakan menjadi penguat bagi Zia, foto itu seolah berkata" Semuanya akan baik-baik saja Zia!". Setelah lama di dalam kamarnya,Zia keluar dan melihat Zidan sedang menggambar, Zia melihat setiap gambar dari Zidan sangat lah bagus, Sayangnya Zia yak bisa membelikan kuas lukis beserta peralatannya pada Zidan.
"Gambar apa Zidan?" tanya Zia.
"Kebun binatang!" jawab Zidan singkat.
"Bi Ola mana?" tanyanya.
"Sedang ke warung!" jawab Zidan sambil terus menerus gambar nya.
"Zidan.....!" panggil Zia.
"Zidan.....!" panggil Zia lagi karena tak mendapatkan respon dari Zidan.
__ADS_1
"Kakak akan menikah!! Zidan setuju?" kata Zia sukses membuat Zidan berhenti menggambar.
"Kenapa?kapan?" tanya Zidan.
"Namanya kak Devan, orangnya baik! jadi kakak mau menikah dengannya!"
"Kakak akan meninggalkan rumah ini kalau sudah menikah?" tanya Zidan.
"Kok kamu bilang gitu! kakak gak akan pergi!"
"Zidan gak punya nenek! apa Zidan akan kakak tinggalkan bersama bi Ola?" tanya Zidan sambil berkaca-kaca matanya.
"Zidan segala nya buat kakak!! hanya Zidan dan mama yang kakak punya saat ini! Zidan gak akan pernah berpisah dari kakak!! ingat itu!!" kata Zia sambil memeluk adiknya, Zidan menangis seketika dia teringat sang mama yang terbaring koma di rumah sakit, teringat sang papa yang bahkan sudah meninggalkan mereka semua.
"Zidan kangen mama kak hiks....hiks....kangen papa!!"
__ADS_1
Zia hanya bisa menangis bersama sang adik, kehidupan masa kecilnya sang susah sebelum bertemu sang papa,Zia tak ingin Zidan mengalami masa sulit seperti dirinya, di mana dia hidup susah, melihat perjuangan sang mama yang tak sempurna seperti mama yang lainnya, di bully dan di hina, Zia benar-benar tak mau semuanya itu terjadi pada adik kesayangannya.Janjinya pada sang papa akan ditepatinya, walaupun dia harus menjual harga dirinya pada Devan, Lelaki yang akan menjadi suami kontrak nya beberapa hari lagi.
"Pa...restui langkah Zia!" batin Zia sambil terus memeluk sang adik, Bi Ola yang sedari tadi di ambang pintu hanya bisa meneteskan airmatanya saja, sebenarnya beberapa hari yang lalu anaknya meminta bi Ola untuk pulang ke Bandung ikut anak semata wayangnya, Namun melihat mereka berdua, bi Ola tidak tega, akhirnya Andita anak bi Ola memutuskan untuk mengijinkan bi Ola tinggal dan menetap di Jakarta.
"Martabak datang!" Teriak wanita berusia 48tahun tersebut, dia selalu ingin melihat keceriaan di rumah ini.
"Wahhh martabak Zidan!" pekik Zia, dan senyuman selalu tertib di wajah Zidan ketika bi Ola ada disampingnya dengan gaya cerewetnya.
"Zidan mau yang potongan besar!!" kata Zidan senang.
"Ini aku juga mau!!" kata Zia
"jangan berebut!!" kata bi Ola, mereka tertawa bersama, menikmati kebersamaan mereka bersama-sama.
bersambung
__ADS_1