Cerita Cinta (Kinan Dan Aziza)

Cerita Cinta (Kinan Dan Aziza)
Kerasnya kehidupan


__ADS_3

Bu Kasih tergopoh-gopoh menuju klinik bidan Rianti, tadi setelah dari pasar dia melihat di rumah tidak ada Kinan dan tas yang di siap kan bu Kasih untuk kelahiran anak Kinan juga tidak ada jadi tujuan utama nya adalah bidan Rianti.


Wanita tua itu sedikit berlari ke sana, bertemu dengan beberapa warga yang mengenalnya.


"Bu kasih mau kemana?" tanya salah satu ibu-ibu yang sedang menyapu di depan rumah nya.


"Ke klinik bidan Rianti, nyari Kinan!"


"Emang Kinan waktunya melahirkan?"


"Belum sebenarnya masih minggu depan, saya ke sana dulu ya bu mau ngecek!"


"Ya bu...."


Akhirnya bu Kasih melanjutkan jalannya, berharap anaknya baik-baik saja, dan benar sesampainya di sana dia mendapat i Kinan sudah melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik.


"Aziza Nuraini! namanya bagus kan Kin?" kata bu Kasih yang menambahkan nama Aziza pemberian bu bidan di belakang nya. Kinan hanya senyum dan mengangguk, Kinan ibu 18tahun itu tak sama lagi seperti dulu, dia yang dulunya gadis yang ceria, polos gini banyak tau tentang banyak hal dari buku yang dia baca, Rania yang menyediakan buku-buku bekas tersebut. mulai dari majalah ibu hamil, majalah bisnis, novel, majalah fashion dan buku-buku pelajaran semuanya di baca oleh Kinan.


Kinan melihat interaksi antara ibunya dan anaknya, Kinan memang susah mengekpresikan perasaannya, dia cenderung diam atau sekali tempo hanya tersenyum saja, kalo dulu walaupun tanpa ekspresi, Kinan lebih banyak bicara namun Sekarang Kinan lebih banyak diam saja.


Dua hari di rawat di klinik bidan Rianti Kinan akhirnya di perbolehkan pulang ke rumah.


Betapa riweh nya bu Kasih mengurusi Kinan dan Zia panggil an anaknya Kinan.


Tubuhh renta itu sudah banyak terkuras untuk mengurusi anak dan cucunya ditambah lagi dia harus bangun pagi untuk membuat aneka kue dan makanan untuk di jual di pasar.

__ADS_1


Dadanya sering sesak jika bekerja sangat keras.


Namun baginya dia harus bisa memenuhi kebutuhan anak dan cucunya, Kinan hanya bisa menyusuhi anaknya sampai 5 bulan pertama, kini air susunya sudah tak bisa lagi keluar,


Zia sedang asyik di teras depan di pangkuan Rania, Zia asyik berceloteh ria sedangkan Kinan merawat sang ibu sang sedang sakit.


"Minum obat ya..minum obat!" tawar Kinan setelah menyuapi sang ibu.


"Iya...sudah... istirahat saja ibu gak papa, cuma pusing saja!"


Kinan memandang wajah renta ibunya, entahlah apa yang di pikirkan oleh wanita itu, di usianya yang baru saja menginjak 18 tahun sudah harus di hadapkan kehidupan yang tak pernah terbayangkan olehnya sedikit pun.


"Besok Kinan ke pasar.... Kinan jualan ibu. Kinan yang akan jualan!" Kata Kinan kepada sang ibu.


**********


Harusnya dia tak usah teriak-teriak karena di tempat dia jualan memang banyak berlalu lalang orang jalan, namun Kinan tetap melakukan nya agar jualan cepat habis.


Beberapa saat kemudian dagangan habis.


"Anaknya mbak?" tanya seorang wanita kira-kira berusia 25 tahunan


"Iya iya...."


"kok gak di taruh rumah?"

__ADS_1


"ibu sakit....gak gak ada yang jaga!"


"Suaminya kerja juga?" tanya mbak Ana.


"Aduuuhh mbak Ana gak tau ya...dia kan ditinggal sama suami nya!" kata seseorang yang jadi tetangga Kinan, mbak Lastri yang tiba-tiba datang.


"Ah mbk Lastri yang benar?" kata mbak Ana merasa gak enak sama Kinan.


"Iyalah! lihat aja hamil besar sampai melahirkan suaminya gak pernah kelihatan datang! dengar-dengar sih surat nikahnya di bawa suaminya! suaminya kabur gara-gara malu kali punya istri idiot gini!"


"Atau jangan-jangan dia hamil di luar nikah! siapa yang tau ya..kan dia pendatang baru di komplek aku mbak Ana!" ucap mbak Lastri sinis.


Kinan hanya diam saja, bu Kasih sudah mewanti-wanti Kinan bila ada yang bertanya soal suaminya, bu Kasih menyuruh Kinan untuk diam, karena Kinan tak pernah sekali pun berbohong, bu Kasih hanya takut Kinan akan bercerita yang sebenarnya pada semua orang.


"Sudah-sudah mbak Lastri saya pergi dulu...permisi mbak!"


Kinan hanya mengangguk, mbak Lastri si tetangga kepo, masih menatap tajam ke arah Kinan, entahlah apa sebabnya mbak Lastri sangat tidak suka pada Kinan.


"Udah ah.. mending aku pergi juga! takut ketularan idiot juga!" ucap mbak Lastri ketus sambil berlalu dari sana.


Kinan hanya diam, namun hatinya sakit,dia memandang bayi yang tidur di dalam gendongan nya tersebut, dia juga tak tau siapa ayah dari bayinya, Kinan berpikir dia punya ayah, punya ibu, dan punya Kanaya. dia tau siapa ayahnya walaupun ayah akhirnya memilih untuk pergi karena malu padanya, lalu apa ayah Zia juga malu? begitulah pikiran polos Kinan, tanpa tangisan tanpa senyuman dia hanya memandang wajah polos bayi di gendongan nya itu.


"Jangan ngelamun! abang antar pulang ayo!" tawar bang Eko tukang parkir sekaligus tukang ojek di pasar tersebut, bang Eko hanya bisa melihat dari jauh apa yang jadi perbincangan ibu-ibu tadi, namun dia tak ingin terlalu ikut campur urusan Kinan, dia hanya merasa iba akan kehidupan bu Kasih dan anaknya tersebut, karenanya bang Eko sering mengajak bu Kasih atau Kinan tertawa dengan banyolan, walaupun kadang Kinan susah sekali mengekpresikan tawanya.


Kehidupan memang keras, apalagi di kota metropolitan bang Eko berharap kalo Kinan juga bisa berjuang keras dan bertahan dalam keadaan seperti apapun itu.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2