Cerita Cinta (Kinan Dan Aziza)

Cerita Cinta (Kinan Dan Aziza)
Awal kebahagiaan


__ADS_3

Nenek Ratih terdiam di tempatnya sebentar, di ranjang rumah sakit terbaring lemah seorang lelaki dengan tubuh kurusnya, mendengar pintu terbuka dia menoleh ke arah pintu. senyuman nya terukir saat matanya menangkap sosok yang sangat di rindukan nya,entah mengapa keegoisan nya menghancurkan hidupnya nya sendiri.


"Ratih..!" ucapnya lirih.


Nenek Ratih berjalan pelan mendekati orang yang bertahun-tahun lalu selalu di rindukan nya, Rasa haru menguasai hati wanita yang tak lagi muda ini, entah mengapa rasa kesal pad sang suami yang meninggalkan dirinya beberapa tahun lalu sudah hilang. Mata lelaki baya itu berkaca-kaca ketika wanita yang dia panggil mendekati nya.


"Ratih...maaf kan aku!!" ucapnya lirih, tangan keriput itu berusaha menggapai tangan nenek Ratih, rasa cinta pada wanita yang dulu pernah menemani hari-hari nya dulu masih sama, penyesalan beberapa tahun belakangan ini yang selalu membuat lelaki tua itu terlalu banyak memikirkan sang istri dan anak sulung nya Kinan.


"Ratih..."


"Aku di sini Sam...." ucap nenek Ratih memanggil Samir sang suami, mengengam erat tangan keriput tersebut.tangisan kakek Samir tak terbendung lagi, Kinan hanya diam saja sambil mendekap lengan Pras.Entah apa yang di pikirkan wanita penyandang autis tersebut. Dia hanya menatap ke arah sang ayah sambil meremas lengan kemeja Pras, sesekali lengan Pras dia jadikan sasaran kuku-kukunya yang belum sempat di potong.


"Kinan sini!.... ini ayah! sini....!"


panggil nenek Ratih, Kinan hanya diam, Kanaya yang melihatnya tak mampu menahan tangisnya lagi, bahkan Fredo sudah mendekap erat tubuh Kanaya yang seakan tak bisa berdiri dengan tegak. Kinan memandang ke arah Pras, entah apa yang di pikirkan Kinan, namun karena sedari tadi Pras lah yang menenangkan dirinya, dia seakan meminta persetujuan dari papa kandung anaknya tersebut.


"Kinan..sini...!" panggil nenek Ratih lagi.


Setelah mendapat senyuman tanda setuju dari Pras, Kinan melepaskan dekapannya pada lengan Pras.Kinan melihat sang ayah yang kurus.

__ADS_1


"Ayah.....ayah....!" panggil Kinan pelan


"Sini.....sini Kinan!"


panggil kakek Sam sambil merentangkan tangannya, meminta Kinan memeluk nya.


Kinan menerima perlakuan lelaki tua tersebut, seketika kakek Sam menangis sejadi-jadinya, ini adalah pelukan pertama kakek Sam untuk Kinan sejak tahun anaknya mengidap sindrom autis sejak kecil.


"Maafkan ayah Kinan! maafkan Ayah!! maafkan Ayah!!"


Kinan hanya diam saja, namun dia mengangguk tanda memaafkan sang ayah, suasana haru menyelimuti ruangan tersebut, Kanaya bersujud di kaki sang ibu, namun ibunya tak membiarkan itu berlangsung lama, mereka saling berpelukan, Kinan senang sekali memeluk Kanaya lama, membelai wajah adik yang dulu selalu di buntuti kemanapun Kanaya pergi bermain. Zia juga di perkenalkan pada sang kakek juga tantenya tersebut.


Kinan sedang berada di cafe rumah sakit, membeli beberapa makanan bersama Pras, Edo dan Fredo sudah kembali ke kantor masing-masing. karena urusan kantor Pras akan si selesai kan oleh Edo.


"Kamu bahagia? bisa sama ayah dan ibu juga adikmu?" tanya Pras saat duduk di cafe rumah sakit usai makan dan menunggu makanan di Bungku.Kinan mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu ingin tidak Zia seperti kamu juga?"


Kinan memandang dengan wajah penuh tanya, Pras tau ekspresi wajah Kinan.

__ADS_1


"Kamu mau gak? Zia tinggal sama kamu, sama aku, sama ibu dan ayah kamu dalam satu rumah!"


"Mau....mau... Kinan mau...!" jawab Kinan Setelah sekian lama tak bersuara sama sekali sedari tadi berangkat pertama kali ke rumah sakit.


"Kalau begitu! Kinan mau ya..nikah sama mas?"


tanya Pras penuh harap, dia tau bahwasanya Kinan mengidap autis, namun terapi dan obat yang dia konsumsi dan lakukan rutin membuat banyak perubahan di dalam diri Kinan.


"Kinan mau?" tanya Pras lagi,kali ini sambil menggenggam tangan Kinan.


"Iya ibu mau!" jawab Zia yang ternyata sedari tadi di belakang mereka berdua.


"Mau ya bu? ibu menikah sama papa?" tanya Zia.


Kinan memandang mereka berdua, lalu tertawa kecil hal itu membuat Pras dan Zia melongo..


"Mau... Kinan mau....!"


Pras mengecup tangan Kinan berulang kali, beberapa bulan belakangan ini memang Pras menaruh hati pada Kinan namun dia belum ada waktu untuk mengungkapkan semuanya, dan saat ini di rasanya tepat, dan benar-benar Waktu yang tepat.

__ADS_1


bersambung...


__ADS_2