Cerita Cinta (Kinan Dan Aziza)

Cerita Cinta (Kinan Dan Aziza)
Hadiah untuk Zia


__ADS_3

" Pak! kita menemukannya!" kata Edo membuat hati Pras langsung menghangat.


Setelah berhari-hari sejak informasi keberadaan Kinan di ketahui, anak buah Edo menyisir kembali tempat yang di yakini sebagai tempat tinggal Kinan.


" ini pak! ini adalah rumah kontrakan nona Kinan dan anaknya!"


"Anaknya? jadi benar dia punya anak do?" ada binar bahagia di mata Pras ketika Edo memberi kabar bahwa Kinan benar-benar punya anak.


"benar pak! seorang anak perempuan dia sudah kelas 1 sd pak!" terang Edo


"Oh Tuhan Edo! dia pasti anakku kan do?"


"Sepertinya seperti pak, karena dari info yang saya dapat dia tidak punya suami dan datang dari kampung dalam keadaan hamil muda pak!"


"Iya..iya do!! oh Tuhan do! aku sudah tidak sabar bertemu dia!"


"Jangan gegabah pak! kita harus mendekati nya dengan hati-hati! saya takut bukannya menerima anda tapi dia malah membenci anda karena ehhmm perbuatan anda di masa lalu pak!"


"Kau benar do! kita harus hati-hati! Tapi do..aku ingin bertemu dengan anak kecil itu do! dan dapatkan rambut nya aku ingin segera memastikan bahwa dia anak kandung ku do! ini bisa jadi bukti suatu hari nanti kalo mereka menolakku do!"


"Baik tuan, akan saya atur bagaimana caranya agar anda bisa bertemu dengan gadis kecil itu pak!"


Sedangkan di sekolah Zia....


"Ya karena kamu gak punya ayah!!! berarti kamu anak pungut!! yang di pungut dari jalanan ha ha ha ha h ha!" ejek Tiara teman satu kelas Zia , Zia hanya bisa diam dan menunduk karena pada kenyataannya memang dia tidak punya ayah!


"Udah jangan diledek terus nanti banjir kelas kita ha ha ha ha ha!" kata Aurel teman Tiara.

__ADS_1


Zia masih saja diam, dan tiba-tiba ada seseorang yang membantunya.


"Heh!! gak ada kerjaan apa? kalo kalian masih ledekin Zia, aku aduin sama bu guru!" bela Tasya teman sebangku Zia.


"Huuh Tasya kamu gak asyik!! ngapain kamu dekat-dekat sama anak yang gak punya ayah!!huuh... udah yuk pergi teman-teman" ajak Tiara pada teman-temannya.


"Lain kali di lawan Zia!! jangan lemah!" omel Tasya yang selalu melihat Zia diam ketika di ledek oleh teman-temannya.


"Tapi yang mereka katakan benar Sya!" ucap Zia lirih.


Didikan lemah lembut dan baik hati dari sang nenek benar-benar membuat Zia menjadi pribadi sang tak gampang tersulut emosi, selalu bisa dia tahan emosi dalam dirinya, namun Zia juga bukan seorang gadis kecil periang seperti temannya Tasya, Tasya selalu menjadi pelengkap hidupnya yang hanya terisi dengan belajar dan membantu sang bunda. keadaan sang bunda juga sedikit banyak membuat dia minder jika harus berteman dengan siapapun, hanya Tasya temannya itupun karena Tasya adalah tetangga satu kompleks nya dan karena Tasya lah yang mengajarkan berteman.


Pulang sekolah Zia berjalan sendirian, jarak sekolah nya memang tak jauh dari rumahnya, dia selalu berjalan jika pulang pergi sekolah, pernah dia minta sepeda namun tak di belikan oleh bundanya karena tak ada uang.


"Zia.... selamat ulang tahun!" ucap sang nenek ketika Zia baru saja dia sampai di rumah.ini memang kejutan untuk Zia.


"Zia ulang tahun ... selamat ya selamat Zia.... bunda senang....senang sekali!" kata Kinan sambil membawa kue tart kecil bikinannya sendiri.


"Terimakasih nenek dan bunda! boleh Zia minta hadiah Zia?" tanya Zia dengan berbinar bahagia.


"tentu..ini..ini...hadiah.... hadiah dari bunda!" kata Kinan antusias memberikan sebuah kotak Hadiah untuk Zia.


"Zia tidak mau ini bunda!" tolak Zia


"kamu minta apa Zia?" tanya sang nenek.


"Ayah!"

__ADS_1


********


Sejak kejadian siang tadi Zia hanya diam saja, dia bahkan tidur lebih awal dari biasanya.


Kinan duduk-duduk di teras rumah nya dengan secangkir teh hangat. bu Kasih yang melihatnya merasa iba, Kinan bukan wanita normal pada umumnya, kadang kala apa yang dipikirkan nya tak bisa dia ekspresi kan dengan baik, atau bahkan tak bisa di bicarakan dengan orang lain, keadaan tubuhnya yang semakin tua membuat wanita itu memikirkan bagaimana nasib anak dan cucunya kelak jika dia sudah tidak ada, akhir-akhir ini kesehatan nya tak begitu bagus.


Semakin hari semakin memikirkan Kinan dan Zia, apalagi setelah Kinan bercerita tentang Kanaya beberapa bulan yang lalu, sudah bertahun-tahun lamanya bu Kasih tak melihat Kanaya, satu hal yang dia ingin lakukan sebelum dirinya menutup mata, dia hanya ingin memeluk anak bungsunya itu sedetik saja, ya sedetik saja rasanya sudah cukup.


Bu kasih menghampiri Kinan dan duduk di sampingnya, Kinan meremasi tangannya sendiri tanda kalo dia cemas atau panik. bu Kasih memenggam tangan putri yang selalu dianggap masih kecil,yang nyatanya sekarang sudah dewasa dan bahkan sudah menjadi ibu.


"Zia belum saatnya tahu!...sudah jangan dipikirkan!"


"Dia marah bu.... Zia marah sama Kinan!!...gak.. gak...gak... Kinan gak suka Zia marah!! gak suka... Kinan gak suka!" ucap Kinan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Sabar nanti kita bicara sama Zia, dia anak yang pintar Kinan!" kata bu Kasih menenangkan hati Kinan.


"Jangan sedih lagi, sudah tidur saja, besok kan libur jualan! katanya mau ngajakin Zia jalan-jalan!"


"Iya... Zia pasti senang! dia akan senang bu...ya kan!" tiba-tiba Kinan berbinar senang.


Dibalik tembok Zia diam mendengarkan obrolan nenek dan bundanya.Zia tak bisa melihat bundanya sedih, walaupun rasanya dia sangat ingin bertemu dengan ayahnya tapi dia tak tau harus bagaimana.


"Tidak apa! punya nenek dan bunda sudah cukup buat Zia!!"


gumam Zia lalu berbalik kembali ke kamarnya, dia berjanji pada dirinya sendiri tak akan mengungkit lagi masalah ayah di depan nenek dan bundanya yang terlihat sangat sedih.


'Tak semua kehidupan kita harus sempurna Zia! karena anak terlahir ke dunia dengan takdirnya masing-masing, kau punya seorang bunda yang hebat! ingatlah itu Zia' begitu lah kata-kata bu guru Zia yang selalu dia ingat, ketika guru tersebut melihat Zia sedih di taman sekolah beberapa hari yang lalu dan dia Zia bercerita tentang keinginannya bertemu dengan sang ayah.

__ADS_1


bersambung...


Maaf masih slow up...lagi nyari-nyari ide juga biar tambah seru๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2