
Setelah sekian lama mereka berdua menangis, pada akhirnya Devan mengajak Zia untuk masuk ke rumah, dan Zia menunjukkan di mana kamar Zia, karena Devan tak pernah tau bahkan ini adalah pertama kali dia masuk ke rumah mama Kinan. di lihatnya kamar yang tak terlalu besar, tak seperti kamarnya yang besar dan terlihat mewah, kasurnya pun tak terlalu besar namun masih cukup untuk di pakai berdua.
"Kamu menginap di sini?" tanya Zia memastikan.
"Hemmm!" kata Devan sambil melihat koleksi buku-buku milik Zia, dia berkeliling di kamar yang tak begitu besar itu.
"Apa sudah tidak apa-apa?" tanya Zia dengan cemas.
"Aku akan berusaha dengan baik! aku janji!" kata Devan sambil melihat dengan lekat Zia seakan menyakinkan wanita tersebut.
"Baiklah, aku ambilkan dulu baju tidur ya, ada milik papa yang belum pernah di pakai!" kata Zia sambil keluar dari kamarnya.
"Tunggu!" kata Devan sambil memeluk Zia dari belakang, namun kini tangannya tidak terlalu bergetar seperti sebelumnya.
"Jangan lama-lama!" kata Devan.
"Iya Dev!"
"Sekalian bikinin jahe madu hangat ada?" tanya Devan.
"Ada...aku bikinin ya!"
Setelah beberapa saat, Devan berganti baju yang di bawa oleh Zia, meminum jahe madu hangat bikinan sang istri, Zia yang sudah mulai mengantuk membaringkan dirinya di atas kasur miliknya. Devan menyusul naik ke atas kasur.
"Maaf ya...tiap hari bikin kamu tidur sendiri!" kata Devan sambil memeluk Zia.
__ADS_1
"Dedek...rewel gak?" tanya Devan
"Dedek?" saut Zia bingung.
"Ini...dedek rewel gak?" tanya Devan lagi.
"Enggak....dia baik-baik aja!" kata Zia
"Dev lepas! nanti kamu.....!"
"Sttttt.....diem deh Zi, udah tidur aja, besok pagi aku gak ada jadwal ke kantor....jadi kita lanjutkan ngobrol nya besok aja!"
Benar saja, Devan beberapa kali terbangun,namun dia berusaha untuk tak menganggu Zia, entah mengapa bayangan masa lalu itu terlihat nyata di dalam mimpinya, bahkan seketika Devan melepaskan pelukannya di tubuh Zia, namun setelah memastikan bahwa itu adalah Zia dan bukan orang lain, Devan kembali memeluk tubuh sang istri.
Di rumah besar, nampak Romi duduk di meja dapur dengan lampu temaram,segelas wine nampak di putar-putar olehnya.
"Kangen gue sama Zia!!" kata Romi sendu.
Raksa tau, Zia begitu di sayangi oleh Romi, namun sejak sakitnya Devan Zia lebih banyak berada di rumah sang Mama.Raksa juga tau bahwa Romi menganggap Zia seperti Rena adik kecilnya yang ikut menjadi korban bencana bertahun-tahun yang lalu.
"Besok juga kembali!" kata Raksa sambil meneguk air di tangannya.
"Beneran?" kata Romi berbinar.
"Hemmm..malam ini Devan menginap di rumah mama Kinan!" kata Raksa sambil berlalu ke arah kamarnya.
__ADS_1
"Oohh Zia!!! aku kangen banget sama kamu!!" teriak Romi walaupun tak keras.
Tasya yang tadinya ingin memasak mie instan mengurung kan niatnya,karena melihat Romi di sana, bahkan dia mendengar apa yang dikatakan Romi, Tasya hanya heran sebenarnya siapa suami Zia, mereka bertiga memberikan perhatian yang sama dengan gaya mereka masing-masing.
"Mau kemana?" tanya Romi, ternyata kedatangan Tasya di sadari oleh Romi.
"Mau masak mie tuan! tapi tidak jadi!! sudah kenyang!" ucap Tasya cepat.
"Duduk!! sini!!.....ayo sini!! mana mie nya!"
Romi dengan cekatan memasak mie instan milik Tasya bahkan dia sudah memodifikasi resep mie instan tersebut dan memberikan beberapa tambahan di dalam mangkuk mie tersebut.
"Waaahhh tuan!! tuan hebat sekali memasak!!" puji Tasya tanpa sadar begitu Romi meletakkan mangkuk mie tersebut.
"Coba dulu!" kata Romi
"Pasti istri tuan akan sangat bahagia suaminya pandai memasak!!" kata Tasya lagi.
"Benarkah?" tanya Romi senang
"iya tuan!" kata Tasya sambil mengaduk mie dengan sumpit nya, mengangkat nya dan meniup nya sebelum memasukkan nya ke dalam mulut.
"Kalau gitu kita nikah yuk!!"
"uhuk.....uhuk.....uhuk"
__ADS_1
bersambung