
Hari demi hari dilalui dengan sangat bahagia, hingga pernikahan mereka berjalan hampir dua bulan lamanya, hampir setiap malam Pras tak pernah absen menjelajahi setiap jengkal tubuh sang istri, dia sangat berharap Kinan bisa hamil lagi, dan sesuai harapan semua orang, Kinan hamil, pagi ini bahkan dia sudah mual-mual dan beberapa kali muntah.
"Sayang.... istirahat saja ya...jangan masak!" kata Pras yang begitu perhatian pada Kinan, bahkan mbak Wati kakak perempuan Pras hampir setiap hari datang ke rumah Kinan hanya untuk memberikan masakan yang dia buat! atau makanan yang dia beli dari luar rumah hanya untuk Kinan.
Zia ikut antusias dengan kehamilan sang Mama, ya sudah satu bulan ini Zia memanggil Kinan dengan sebutan Mama, karena sebelumnya dia memanggil Kinan dengan sebutan ibu.
"Mas makan apa?" tanya Kinan saat tak di perbolehkan memasak.
"Ada bi Jumi yang nanti bakalan masak!" kata Pras
"udah tidur aja ya, nanti biar di bawakan makanan ke kamar!"
hari ini Pras benar-benar tidak mengijinkan Kinan untuk keluar dari kamar,dia butuh istirahat total! karena di kehamilan yang sekarang Pras benar-benar ingin menjaga Kinan,karena pada saat mengandung Zia,Pras tidak bisa menjaganya,dia tak tahu dimana gadis itu berada kala itu.Apalagi karena jarak kehamilan yang terlalu jauh, Kinan merasa seperti hamil pertama kali, sering letih, malas bahkan kadang bisa seharian dia tidak mandi saking malasnya. nenek Ratih memakluminya karena memang bawaan orang hamil berbeda-beda.
__ADS_1
Dan benar saja sampai kehamilan Kinan yang sudah hampir 8 bulan, dia masih susah makan, kadangkala mual walaupun tak sampai muntah.
Kinan dan Pras sering mengajak Zia tidur bersama, karena setiap kali di sentuh oleh Zia, perut Kinan selalu enakan bahkan tak mengalami mual sama sekali.
Pagi ini menghebohkan rumah Pras, mbak Wati juga di panggil karena tak memungkinkan nenek Ratih untuk mendampingi sang istri.
"mbak ini gimana?" tanya Pras yang memang tidak berpengalaman dengan wanita hamil.
Pras merasa bodoh karena panik yang berlebihan, dia tak tega melihat sang istri kesakitan, Pras langsung membayangkan bagaimana Kinan berjuang sendiri melahirkan Zia beberapa tahun yang lalu. air mata Pras langsung mengalir begitu saja dia benar- benar tak sanggup melihat sang istri kesakitan. Mbak Wati pun tak tega melihat Pras mengemudikan mobilnya, karena kaki dan tangannya terlihat gemetaran,terpaksa Mbak Wati mengemudi sendiri mobil Pras dan meminta Pras untuk menenangkan Kinan. Mbak Wati sengaja tak memperbolehkan nenek Ratih dan juga kakek untuk ikut,karena mereka terlalu tua untuk ikut panik di rumah sakit!Mbak Wati berencana untuk membawa mereka setelah anak Kinan lahir.
setelah beberapa saat sampai lah mereka di rumah sakit,di ruang persalinan Pras minta ditemani Mbak Wati untuk menemani Kinan melahirkan.
"Mbak Pras mohon!! temani Pras ya!" mohon Pras
__ADS_1
"Kamu itu Pras!! sudah tua tapi masih gak berani nemeni Kinan lahiran!! bikin dia hamil aja kamu beraninya!!!" ucap mbak Wati.
setelah meminta izin pada dokter dan suster untuk menemani Kinan melahirkan karena seharusnya 1 orang yang menemani Kinan untuk melahirkan tapi karena melihat Pras yang ketakutan Dan panik, namun masih ingin menemani sang istri melahirkan akhirnya dokter mengizinkannya.
"Selamat bu..pak...anaknya lelaki!!" ucap sang dokter Setelah sekian menit membantu Kinan melahirkan.
"Zidan sudah lahir sayang! cup..cup... cup..." Pras menciumi istrinya yang di rasa nya sangat kuat, bahkan tanpa jeritan kesakitan yang memilukan, Kinan seakan bisa menahan segala rasa sakit tersebut.
"Zidan?" tanya Kinan.
"Ya..anak kita Zidan Putra Wiguna!"
bersambung
__ADS_1