
Braakk......pintu terbuka agak keras.
"Saya bersedia tuan!!" kata Zia,bahkan sampai ketiga lelaki yang ada di dalam ruangan tersebut berdiri spontan.
"Saya bersedia tuan!! saya mau menjadi wanita yang tuan sebut kan tadi! asal.....asal... tuan mau membantu saya juga!" kata Zia yang akhirnya menunduk kan kepalanya.mereka bertiga saling berpandangan, Raksa memandang lekat ke arah Zia, mencoba mencari kebenaran di wajah gadis muda tersebut.Romi yang tau bagaimana karyawan nya itu sedikit heran, namun sepertinya dia tau kemauan dari Zia, Romi banyak mendengar bahwa kehidupan Zia sangat susah, ibunya di rumah sakit,serta adiknya yang bahkan tak mau bersekolah karena salah satu kakinya palsu, dia merasa malu.sedangkan Devan hanya memandang Zia dengan ekspresi yang sulit dia artikan.
"Bantuan apa Zia?" tanya Romi, seketika Raksa memandang tajam Romi, seakan berbicara bahwa ini tak boleh terjadi, Zia masih terlalu kecil.
"Berapa usia kamu Zia?" tanya Romi yang tau tatapan elang sepupunya itu.
"18tahun lebih tuan, saya....saya hanya minta tuan memberikan uang pengobatan untuk mama saya!! dia...dia harus di berikan perawatan!"
brukk... tiba-tiba Zia bersujud di depan mereka bertiga.
"Saya akan melakukan apapun yang tuan-tuan mau!! asal dokter tidak melepaskan alat bantu pengobatan mama saya!! saya mohon tuan!! saya bersedia melakukan apapun yang kalian mau!" kata Zia yang sudah berusaha setegar karang, namun demi melihat sang mama sembuh, harga dirinya pun sudah tak ada artinya lagi.
"Hei... berdirilah!!" pinta Raksa sambil memegang bahu Zia dan membantu nya berdiri,namun Zia hanya diam saja sambil menggelengkan kepalanya,dia mau jawaban dari ketiga lelaki tersebut.
"Kau di terima!" jawab Romi.
"Rom!!" Devan dan Raksa bersamaan.
"Apa??" tanya Romi sok polos
"Kita saling membutuhkan kan? benar Zia?" tanya Romi pada Zia dan Zia hanya mengangguk saja, saat ini Zia benar-benar tak berpikir bagaimana nasibnya nanti, yang dia tau mama nya harus harus selamat! hanya itu!.
"Sebentar!!"
__ADS_1
Raksa membantu Zia duduk dan Devan yang memang tak begitu menyukai wanita, bahkan tak mau duduk dengan sedikit berdekatan saja, Devan memilih berdiri agar Zia bisa duduk di sofa.
"Duduklah!" kata Devan yang di bantu oleh Raksa.
Entah apa yang dilakukan Romi, dia berkutak dengan laptop di depannya, setelah 15 menit berlalu, Romi nampak membawa kertas yang dia ambil dari mesin printer di samping meja kerjanya.
"Ini Zia! bacalah!! ini peraturan yang akan kita sepakati bersama!"
Zia mulai membacanya...
Peraturan dalam perjanjian Devan-Zia :
Menikah secara resmi
3.Tidak ada kontak fisik walau hanya bertujuan membantu Devan.
Bersedia hamil dengan cara inseminasi buatan.
__ADS_1
Tidak berhak menuntut apapun.
Devan bersedia membayar biaya pengobatan mama Zia dan membiayai hidup Zia selama menjadi istri Devan.
7.Setelah melahirkan, Zia wajib meminta cerai dari Devan tanpa memberikan syarat apapun,dan tidak ada penuntutan harta gono-gini.
8.Menyerahkan bayi mereka sepenuhnya pada Devan.
Zia membaca semuanya, dia merasa sanggup melakukan apapun yang tertulis di dalam surat perjanjian demi kelangsungan hidup sang mama, dan juga home schooling yang akan di lakukan oleh Zidan, adiknya karena belum mau sekolah umum dan Zia tidak mau hidup Zidan hanya sia-sia saja, Zia meminta Romi menambahkan poin untuk Zidan, memang psikolog anak untuk adiknya, dan mereka menyetujui nya.
"saya siap tuan!!" kata Zia sambil menanda tangani berkas di depannya.
"Gadis mulia!" batin Raksa
"Mama yang beruntung!" batin Devan.
"Hanya dengan ini aku membantu Devan dan Zia, mereka sama-sama saling membutuhkan!" batin Romi
__ADS_1
bersambung