
~~ Happy Reading..
Julia ingin adiknya dikebumikan di negaranya yakni di Indonesia berdampingan dengan makam kedua orang tuanya. Permintaan itu tentu disanggupi oleh sang Kaisar. Hari itu juga jenazahnya dibawa dengan pesawat komersial milik kerajaan. Kaisar turut hadir menemani Julia membawa adiknya ke Indonesia. Karna bersifat
tertutup tentunya wartawan dilarang untuk meliput kegiatan pemakaman.
Saat jenazah tiba di Bandara International Soekarno Hatta. Semuanya serba tertutup dan tidak boleh ada yang meliput.
---
Jenazah telah disemayamkan di TPU Jakarta. Julia masih menunggu disamping makam adiknya ditemani rinai hujan. Pengawal dengan setia memayunginya agar Julia tidak basah. Dia terus memegang dan menatap papan nama kematian Lexa. Hatinya sungguh sakit. Jika pada saat itu dia tidak meninggalkannya, mungkin dia akan selamat dan masih hidup sampai saat ini.
“Lexa. Apa kau marah dengan kakak karna meninggalkanmu?? ho ?” Julia berbicara dalam bahasa Indonesia membuat semua orang yang ada disana tidak mengerti dengan ucapannya.
“Sekarang apa yang harus kakak lakukan???”
~~ Flashback
Lexa suka menyempil ke kamar kakaknya untuk tidur. Kala itu dia terkadang takut untuk tidur sendiri. ia berlari kecil dan segera menaiki ranjang kakaknya.
“Oenni.” Sambil merayu kakaknya dan memeluk kakaknya diranjang.
“Ada apa denganmu??” Tanya Julia dengan balik merayu adiknya.
“Pasti kau takut tidur sendirian kan??” Sambung Julia.
“Kau tahu kalau aku tidak bisa tidur sendiri” Rengeknya sambil tetap memeluk kakaknya.
“Ouchhh bayi kecilku” Sambil memeluk erat adiknya.
__ADS_1
Saat di Bilyon pun, Lexa akan tidur dengan pelayannya jika Julia pergi dengan Abe keluar negri. Saat pulang Sekolah, Julia pernah mendapati luka di kening adiknya. Julia pun bertanya kepada adiknya saat adiknya berada dikamar.
“Ada apa dengan kepalamu?” Tanya Lexa.
“A-aku terjatuh” Tentu saja alasan ini bohong.
Lexa disekolahnya tidak lah menjadi mahasiswa layaknya mahasiswa yang lain yang aman-aman saja tanpa ada kendala. Lexa memiliki musuh. Tentu saja bukan karna ia membuat onar dengan orang. Melainkan musuhnya tidak menyukainya. Alasannya sepele, karena kakaknya Julia adalah wanita simpanan versi menurut musuhnya.
Saat kelas berlangsung, Lexa seringkali mendapat ancaman dari musuhnya. Mereka terdiri dari tiga wanita populer di Sekolah tersebut. Nama dari mereka Yakni Mila. Jessika dan Stevani. Sebut saja Mila sebagai ketua dari antara mereka bertiga, karna Jessika dan Stevani selalu membuntuti kemana Mila pergi. Dulunya mereka adalah bunga kampus, namun semenjak Lexa masuk, bunga kampus berubah menjadi milik Lexa. Selain karna cantik, Lexa cukup pintar dan dia calon adik ipar seorang Kaisar.
Dikampusnya, Lexa disukai oleh seniornya bernama Johan. Johan yakni President kampus. Sementara Johan adalah incaran Mila dari dulu. Mila pernah nembak Johan tapi ditolak baik-baik oleh Johan karna Johan tidak menyukainya. Mengetahui Johan menyukai Lexa, Mila pun membully Lexa dikampus. Mulai dari mengerjainya
ditoilet, mengisi loker lexa dengan bangkai tikus, menyuruh Lexa dengan hal-hal aneh, menampar pipi dan memukul jika lexa menolak suruhannya, sampai terakhir Mila membuat Lexa jatuh dari tangga hingga kakinya terkilir.
Hal ini tidak pernah diberi tahu Lexa ke kakaknya karna ia tidak ingin menambah beban pikiran sang kakak. Pengawal yang biasa mengikutinya hanya sampai diluar kampus saja. Pernah luka lebam ditangannya diketahui oleh pelayannya namun ia menyuruh pelayannya untuk tutup mulut dan tidak memberi tahu siapa pun.
“Tapi nona...” Lexa lalu memotong pembicaraan pelayan “Ssssstttt, aku mohon” Ujar Lexa dan dibalas dengan anggukan oleh sang pelayan.
---
Mila melempar sebuah buku tulis dimeja tempat Lexa duduk saat kelas belum didatangi dosen.
“Cepat salin catatanmu dibukuku” Ujar Mila merintah.
“Tidak akan sempat menyalin catatanmu, sebentar lagi Prof Glen akan masuk” Lexa menjawab dengan hati-hati.
“Sssss ku bilang salin ya salin, bawel amat sih” Mila semakin geram melihat Lexa.
Saat Lexa menyalin catatannya ke buku Mila, prof Glen memasuki kelas.
__ADS_1
“Silahkan rangkumannya kalian kumpul” Ujar prof yang sedari tadi hanya melihat buku yang ia buka helai demi helai tanpa melihat ke para mahasiswanya. Asisten dosen pun langsung bergerak satu persatu ke semua mahasiswa untuk mengumpulkan rangkuman.
Lexa tidak sempat lagi menyalin catatannya, tiba-tiba Jesika merebut buku catatannya dan mengumpulkannya kepada asisten dosen. Lexa segera menahan tangan Jesika namun Jesika segera melerainya. Buku catatan Lexa pun diganti menjadi nama Mila, sehingga yang dicatat barusan oleh Lexa berarti untuk dirinya. Tentu saja rangkuman itu tidak bisa dikumpul dan hanya sedikit.
Setelah semuanya terkumpul. prof itu melirik satu persatu mahasiswanya.
“Lexa, apa kau tidak mengumpul rangkumanmu?” Ujar sang profesor.
Lexa tidak tahu harus berbuat apa, catatan isi rangkumannya telah direbut paksa oleh Mila. Padahal rangkuman itu adalah penentuan nilai semesternya untuk mata kuliah profesor tersebut.
“M-maaf profesor, s-aya tidak membuatnya. S-saya....” Suara Lexa tertahan, ia tidak tahu lagi harus beralasan apa.
“Oke point kamu saya kurangi menjadi dua” Mendengar hal itu Lexa terkejut. Point dikampus tiap mata kuliahnya diberi nilai empat. Jika mahasiswa rutin absen dan mengikuti semua kegiatan termasuk membuat tugas, maka nilai akan tetap bertahan, jika salah maka point akan dikurangi tergantung siapa dosennya. Jika point Lexa dikurangi dua maka total pointnya untuk mata kuliah profesor tersebut adalah dua. Point dua adalah nilai buruk, nilai satu adalah nilai paling buruk.
Lexa syok, nilai kuliahnya anjlok, padahal itu bukan kesalahannya. Karna Mila lah nilainya turun. Sementara itu Mila dan temannya tersenyum sumringah menandakan kemenangan terhadap pembullyannya terhadap Lexa.
Ia mengutuk dirinya yang tidak bisa kuat seperti yang lainnya. Ia lemah menghadapi sikap Mila yang selalu memojokinya dan menyiksanya terus-terusan.
Lexa berjalan pelan dikoridor kampus. Langkahnya sedikit malas. Hal yang diingatnya tadi membuatnya frustasi. Ia sudah menemui Prof Glen dan meminta keringanan terhadapnya namun Profesor itu menolaknya. Memang Profesor itu sedikit ganas dan sengat ketat dengan aturan.
“Hei Lexa” Suara berat dan seksi itu memanggilnya. Ia lalu menghadap kedepan melihat sumber panggilan itu. Ternyata Johan si pangeran kampus.
“ hei juga kak Johan” Ia seperti malas berurusan dengan Pria ini, pasalnya semua mata wanita yang memujanya menatap Lexa dengan tatapan jijik. Lexa berusaha untuk menjaga jarak agar laki-laki itu peka namun nihil. Ia juga tidak pernah duluan untuk menemui lelaki itu. Malah sebaliknya, laki-laki ini selalu mencari keberadaan Lexa. Ia tidak nyaman sebetulnya tapi jika ia terus terang pria itu mungkin akan kecewa.
“ Makan siang dikantin yuk, hari ini Spaghetinya enak” Johan langsung menarik paksa tangan Lexa dan membawanya ke kantin.
Sementara disudut lain ada sepasang manik tak suka melihat pemandangan Johan menarik tangan Lexa.
~~ Dua adik kakak yang selalu mendapat cobaan yang tiada henti. Tunggu episode selanjutnya ya, jangan lupa komen, like dan favoritenya. Gumauwo.
__ADS_1