Cerita Julia dan Korea Selatan

Cerita Julia dan Korea Selatan
Episode 64 / Luka pisau.


__ADS_3

~~ Selamat membaca, semoga suka.


Seseorang tiba-tiba menarik lengan Julia hingga si empunya tersandar dikedua dada bidang orang tersebut dan membiarkan Julia menangis histeris dihadapannya. “Huhuuuhuuu” Dengan penuh kelembutan tangannya sigap membelai kepala Julia hingga menepuk-nepuk pelan punggungnya. Kacamatanya terlepas begitu saja membiarkan air matanya membasahi mantel kokoh Abu-abu pria tersebut.


Entah kenapa sandaran itu membuat Julia nyaman dan betah menangis didalamnya atau karna memang Julia butuh sandaran saat ini untuk melepas rasa emosinya.


Siapakah pria itu???


Julia masih terisak dalam pelukan seorang lelaki yang ia bahkan tidak menyadari itu siapa. Mungkin ia berfikir itu bisa jadi Chen atau Hanbi yang selalu mengekori kemana ia pergi. Tapi rasanya aneh. Mereka suka memberi batasan, karna Julia adalah seorang atasan baginya maka hal seperti yang Julia rasakan ini sangatlah ganjil. Isakan tangisnya berhenti karna rasa penasarannya akan lelaki yang meminjamkan dada kokohnya untuk disandar.


Ia pelan-pelan melepaskan rangkulan tersebut dan melihat ke arah orang yang memeluknya. Hasilnya membuat ia terlonjak kaget, bukan apa-apa tapi Julia tidak mengenal siapa pria dihadapannya ini.


“Si siapa kamu?” Tanyanya yang sambil berdiri dan memundurkan langkahnya.


“Maaf saya lancang memelukmu, saya tidak bisa melihat wanita menangis dan sendirian ditempat yang sepi.” Pria itu pun ikut bangkit.


“Jadi maksudmu jika tidak ada orang lantas kau bisa memelukku sesukamu?” Tanya Julia tidak suka.


“Sekali lagi maaf, aku minta maaf” Lelaki dihadapan Julia ini tampak tulus meminta maaf kepada Julia sambil menundukan punggungnya. Dengan satu lagi orang asing yang berada dibelakangnya yang dipastikan mungkin saja itu adalah asisten atau pesuruhnya.


“Maaf aku membuatmu terganggu, aku akan pergi setelah aku meletakkan bunga ini” lelaki itu meletakkan bunga disamping makam Kyungsoo. Laura Kim, nama nisan yang tidak sengaja terbaca oleh Julia.


“Tuan, bukankah anda ingin curhat dengan Ibu anda? Kenapa anda ingin pulang?” Tanya sang bawahan kepada pria tersebut yang langsung dibalas sinis olehnya. Tatapan sinis itu membuat bawahannya langsung terdiam dan menundukan pandangannya.


Julia tentu saja merasa bersalah, awalnya ia berfikir laki-laki ini mungkin saja sengaja membuat hal-hal yang tidak baik kepadanya, namun ternyata lelaki itu punya tujuan menjenguk ibunya.


“Jika kau merasa terganggu, aku akan pergi. Toh besok aku masih bisa kesini lagi” Ucapnya kepada Julia.


“T-tidak, tidak. kau lanjut saja. Aku minta maaf karna berprasangka buruk padamu. Maafkan aku. aku saja yang pergi” Pikirnya yang langsung saja ia berbalik dan meninggalkan lelaki tersebut.


“Jika kau masih ingin lanjut, lanjutlah. Jangan terburu-buru. mungkin saja ia merindukanmu” Kata-kata lelaki itu sontak membuat langkah Julia terhenti. Ada benarnya juga kata lelaki tersebut. Julia masih ingin berlama-lama disana.


Akhirnya dari pertemuan itu, menjadi buah perkenalan bagi mereka.

__ADS_1


“Kenalkan, namaku Jansen Kim” Sambil menjabat tangan.


“Aku Julia Kyung” Akhirnya mereka berjabat tangan tanda memulai perkenalan.


“Aku sedang menjenguk Ibuku, dan kebetulan sekali kuburannya berdekatan dengan......” Jansen tidak melanjutkan kalimatnya karna ia bingung entah kuburan siapa yang wanita itu temui


“Suamiku. ini adalah kuburan suamiku” Sambung Julia dengan segera menyempurnakan kalimat Jansen. Dan tentu saja dibalas dengan kalimat membulat dari bibir tipisnya.


Semenjak pertemuan itu mereka menjadi dekat, Entah suatu kebetulan atau ada kesengajaan yang dibuat-buat mereka dapat bertemu disana. Bagi Julia mungkin itu pertama kalinya karna ia baru melihat sosok Jansen hari itu, tapi bagi Jansen itu adalah pertemuan yang kedua kalinya. Mereka masih berada disekitar lokasi pemakaman sambil berbincang-bincang. Entah apa yang mereka perbincangkan, namun dari raut wajah keduanya jelas bahwa pembericaraan mereka saling sambung menyambungi.


“Oh ya minggu depan adikku akan menikah, aku akan mengundangmu untuk datang ke acara pesta adikku besok”


“Bukankah seharusnya pengantin yang mengundangku? kenapa harus kamu?” Tanya Julia.


“Karna ini adalah pesta untuk adikku maka aku bisa mengundang siapapun yang akan aku mau”


“Baiklah, aku akan datang” Jawab Julia.


---


Wajah cerah pengantin dihari bahagianya mengingatkan Julia akan dirinya dulu. saat ia menjadi raja dan ratu sehari. Jansen mencari sosok Julia ditengah kerumunan orang di acara itu. Dan saat ia menangkap wajah cantik Julia yang ia yakini, Jansen segera mendekatinya.


“Apakah kau sudah lama datang?” Tanyanya yang membuat Julia terlonjak dan melihat ke arah sumber suara yang ia kenal.


“Tidak juga, baru beberapa menit yang lalu.” Jawabnya


Julia merasa bosan didalam acara, ia memilih duduk diluar dan menghindari acara sambil menikmati kesunyian. Dibelakang Ballroom terdapat kolam air mancur dan tempat duduk didekatnya. Julia duduk dan menyandarkan badannya ke kursi.


“Apakah anda nona Julia?” Tanya seseorang yang membuatnya terkejut dan segera bangkit.


“S-siapa anda?” Tanya Julia ragu.


“Aahh aku kebetulan adalah tamu disini. aku pernah dengar tentang dirimu. Bolehkah aku ikut duduk?” pria jangkung blasteran dan berkecamata yang sama sekali tidak Julia kenal ini tiba-tiba datang menghampirinya. Julia bingung apakah ia harus membiarkan pria itu duduk disampingnya atau tidak.

__ADS_1


“Boleh, silahkan” Jawab Julia ragu.


Pria itu pun duduk. dengan kedua kaki saling berayun-ayun menandakan ketidaknyamanan. Julia duduk walaupun tampak ragu-ragu. Ingin sekali rasanya ia pergi jika Jansen memanggilnya.


“Jansen datanglah. aku tidak berani disini” Pikirnya.


“Sayang” Seseorang memanggilnya dari belakang hingga si empunya dan pria disampingnya terlonjak kaget dan melihat ke arah sumber suara yang sangat-sangat familiar.


“Abe” Pikirnya saat itu.


“Yang mulia.” Ujar Julia memanggil Abe dengan jarak antara mereka berkisar lima meter.


“Julia shi” Teriak Jansen tiba-tiba keluar pintu ballroom dengan raut wajah ketakutan dan khawatir. Pria itu terhenti tiba-tiba saat Julia melihat ke arahnya. Lalu sebuah tarikan kasar mengunci kedua tangan Julia kebelakang hingga si empunya merasa kesakitan. Dan dengan sigap pria itu menghunuskan pisau didepan leher Julia sebelum pisau itu menyentuh kulit mulusnya.


Abe dan Jansen terbelalak tiba-tiba. Pria disamping Julia langsung sigap mengambil tindakan menjadikan Julia sebagai tawanannya malam itu.


“Leo, jangan gegabah” Pinta Jansen yang membuat Julia ketakutan.


“Tolong aku” Lirih Julia.


“Pengawal, bereskan pria itu” Titah Abe yang langsung dibalas anggukan oleh pengawalnya yang siap-siap mengeluarkan sebuah senjata dari masing-masing pengawal.


“Letakkan senjata kalian atau wanita ini akan aku bunuh” Pinta pria bernama Leo tersebut.


“What?” Tanya abe dengan alis naik sebelah,


“Turunkan senjata kalian, itu pintanya” Julia mentranslate kan bahasa Leo kepada Abe.


Leo pun mengulang kembali kata-katanya menggunakan bahasa inggris.


“Letakkan senjata kalian atau wanita ini akan aku bunuh” Teriak Leo lebih naik satu oktaf yang membuat suasana semakin mencekam. Semua tamu berdatangan keluar ballroom melihat kondisi yang terjadi dibelakang. Adegan senjata yang menakutkan membuat para tamu ketakutan. Wanita cantik menjadi sasaran tawanan dan membuat acara menjadi kacau balau.


“Leo, tenangkan dirimu. Dia tidak salah apa-apa” Pinta Jansen Kim. Teriakan Leo barusan membuat pisau ditangannya mengikis kulit leher Julia. Sementara Julia menangis ketakutan menahan goresan pisau yang sudah melukai lehernya. Setetes darah kecil mengalir dari balik lukanya.

__ADS_1


Cobaan apalagi yang didapat Julia. Tunggu diepisode selanjutnya ya. Jangan lupa dukung terus novel ini dengan Komen, Like, Favorite dan sharingnya ya. Gumauwo.


__ADS_2