
Puas berjalan-jalan seharian membuat Julia lelah. Mereka pun kembali ke hotel untuk istirahat. Saat Julia istirahat, ponselnya berdering.
Drrrttttt.....
Julia pun mengangkatnya.
“Julia shi?” Sahut suara yang sudah familiar baginya.
“Nee Kyungsoo shi, ada apa?” Tanyanya.
“Apakah benar kau di Korea sekarang??” Tidak perlu ragu kehebatan Kyungsoo dalam mencari informasi. Tapi ia masih takut untuk jujur dengan lelaki itu.
“Tidak, aku masih di Bilyon” Ujar Julia.
“Oh Bagitu. Apa kau masih membenciku?” Sahut Kyungsoo
“Tidak” Jelas, singkat dan padat. Tapi Kyungso tidak ingin mendengar jawaban sesingkat itu.
Setelah selesai menelfon akhirnya Julia istirahat. Sebelum Kyungsoo menelfonnya Julia sudah mulai mengantuk. Namun setelah itu ia tidak bisa tidur kembali. Ia hanya putar kiri dan putar kanan untuk bisa menghilangkan stressnya. Akhirnya ia memutuskan untuk menghirup udara malam diluar.
Julia berjalan santai menyusuri taman belakang Hotel. Di taman itu ada sebuah Kolam renang yang cukup besar. Ia memperhatikan sekitar taman. Di luar taman akan terlihat jalanan besar perkotaan.
“Tampaknya hidupmu semakin bahagia Julia shi” Ujar seorang wanita sambil menodongkan pistol ke pelipis Julia.
“S-siapa kau?? Ujar Julia yang tidak tahu siapa wanita dibelakangnya.
“Kau bahkan sudah lupa dengan suara sahabatmu sendiri” Julia pun akhirnya tahu dengan suara itu.
“Shin Na??” Julia ketakutan saat Shin Na berbalik ke arahnya dengan arah pistol yang berbeda tepat ditengah-tengah kepalanya.
“Apa yang kau lakukan?” Ungkap Julia tidak mengerti.
“Tentu saja membunuhmu” Ujar Shin Na.
__ADS_1
“Kau Gila” Gumam Julia dengan emosi.
Dorrr....
Sebuah tembakan bersarang ditangan Shin Na. tembakan itu berasal dari anak buah Kyungsoo yang menyelinap di Hotel itu. Kyungsoo segera berlarian mendekati Julia.
“Julia shi” Panggilan itu sontak membuat Julia melihat ke arah sumber suara yang familiar baginya dan semakin mendekat ke arahnya.
“K-Kyungsoo shi?” Dengan mata membulat sempurna.
Sementara Shin Na terjatuh menahan sakit besi panas yang telah bersarang ditangannya. Jong Il yang melihat kondisi itupun langsung menyerang Julia dari belakang menggunakan pisaunya. Tau karna sesuatu mendekat ke arahnya dari belakang, Julia segera berteriak.
“Awass” Teriakan Julia membuat Kyungsoo waspada dan langsung melindungi Julia dari pisau tersebut.
Pisau itu akhirnya salah sasaran dan tertancap sudah dipunggung belakang Kyungsoo.
“Andwae...” Ujar Julia lirih.
“Cepat kejar laki-laki itu” Titahnya kepada seluruh pengawalnya dan langsung bergegas mengejar Jong Il.
“Andwaeee Kyungsoo shi???” Mata Julia mulai berkaca-kaca. Kyungsoo telah menyelamatkan nyawanya dari pisau yang akan menancapnya.
Kyungsoo mulai terkulai lemas dan jatuh ke tanah. Darahnya cukup mengalir banyak keluar dari bekas tusukan pisau yang masih menancap ditubuhnya. Sedikit demi sedikit darah keluar dari mulut.
“Cepat panggilkan ambulance” Teriaknya seraya memberi perintah kepada anak buah Kyungsoo”
“Baik nona”
Anak buah Abe menggotong Shin Na yang sudah tak sadarkan diri ke rumah sakit. Dan Abe pun segera berlari menuju Julia.
“Y-yang mulia, tolong selamatkan dia” Air mata Julia mengalir cukup deras meskipun belum dengan suara isakkan.
Ia tidak percaya lelaki itu sekarat dihadapannya.
__ADS_1
Kyungsoo segera dilarikan ke rumah sakit milikya dan langsung mendapatkan penanganan operasi. Saat itu juga keluarga Kyungsoo langsung berangkat ke Korea untuk menjenguk sang anak. Julia terduduk lemas diruang tunggu operasi. Matanya berkaca-kaca mengingat saat Kyungsoo menolongnya.
Operasi dimulai pukul 02.00 dini hari dan selesai pukul 05.00 subuh.
“Kyungsoo ya, kenapa kau melakukannya??” Sahut Julia dalam hatinya.
Kyungsoo telah dipindahkan diruang ICU. Kondisinya masih dalam masa kritis. Julia masih belum bisa menghilangkan traumanya saat Ibunya masuk ICU dengan berbagai alat yang menempel ditubuhnya. Kini ditubuh lelaki yang mengorbankan nyawa untuknya terpasang juga beberapa alat aneh yang tertempel dibadannya.
Apakah lelaki itu benar-benar sekarat???
Julia menungguinya seharian, Abe pun tak dapat berbuat apa-apa karna lelaki itu juga yang menyelamatkan nyawa Julia. Tak lama kemudian kedua orang tua Kyungsoo tiba. Terlihat Ibunya Kyungsoo mulai tak suka dngan keberadaan Julia.
“I-Ibu” Panggil Julia pelan.
“Jangan pernah panggil aku ibu. Aku bukan mertuamu lagi” Ujarnya dengan nada tak senang.
Julia hanya tertunduk, ia tidak dapat memalingkan wajahnya melihat wanita itu lagi. Ia sungguh merasa bersalah karna telah membuat anaknya dalam marabahaya saat ini. Ayahnya pun hanya bisa terdiam namun sebenarnya ia menaruh iba kepada Julia.
Saat ibu Kyungsoo keluar dari ruang ICU melihat anaknya. Kami masih menunggu diluar. Ibunya mendekati kami dengan langkah santai.
“Kau pergilah. Sudah cukup melihatnya. Kyungsoo akan kami rawat sendiri. Tidak perlu datang lagi”
“T-Tapi Ibu....” Kalimat Julia terpotong begitu saja oleh Ibunya Kyungsoo.
“Jangan melawanku” Ujar sang ibu Kyungsoo yang memotong pembicaraan Julia.
“Ayo kita pergi” Ujar Abe sambil memapah Julia berjalan meninggalkan tempat itu. Julia tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa patuh dengan apa yang diinginkan oleh Ibunya Kyungsoo.
Airmatanya jatuh seketika saat meninggalkan Kyungsoo dari ruangan tersebut. Kali ini ia benar-benar takut kehilangan lelaki itu. Sedangkan Ibu Kyungsoo tetap mematung dan mengepalkan kedua tangannya ketika mereka meninggalkan tempat itu.
Jangan lupa dukung terus Cerita Julia dan Korea Selatan dengan Like dan Komen ya. Kamsahamnida Chinggu.
__ADS_1