
~~ Selamat membaca, semoga suka.
“Berhentilah membual Chen. Sampai kapan pun kau mencarinya kau tidak akan bisa menemukannya karna ia telah mati” Ia pun berbalik dan meninggalkan Chen sendirian di cafe itu dengan wajah penuh emosi. Pilihannya untuk bertemu dengan Chen adalah salah.
Chen menatapi kepergiannya hingga punggungnya menghilang semakin jauh. Ia mengurung wajahnya diantara tangan yang terlipat diatas meja cafe. Sungguh ironis kepahitan yang ia dapatkan saat ini.Jjalannya masih terbilang cukup rumit untuk mencari kebenaran. Ia akan mencoba lagi besok dengan cara yang berbeda.
---
Julia berlari disepanjang pegunungan disalah satu pelosok Seoul dipagi hari. Pelosok yang hanya terlihat pegunungan dan jarang ada rumah warga disana. Disana sangat cocok dijadikan tempat untuk berolahraga karna disuguhi pemandangan disekitar danau dan udara yang bersih. Julia berlari mulai dari jalanan sepi. Ia terus
berlari dan berlari lagi. Keringat yang mengucur deras dibalik pelipis dan lehernya membasahi kulit mulusnya.
Ia berlari terus menerus dan sesekali berhenti mengambil nafas lalu kembali berlari lagi. Hampir 5km Julia berlari hingga pelepasannya terhenti tepat dihamparan danau yang tenang. Ia melepaskan rasa letihnya dipinggiran danau dan menundukkan punggungnya untuk bisa menetralisirkan paru-parunya dan kedua bahunya yang saling berlomba-lomba naik turun seiring laju nafas yang terengap-ngap.
Berlari sejauh 5kg dan sepanjang itu mengharuskan dirinya untuk berhenti dan istirahat. Deru nafas yang berpacu, keringat yang bercucuran dan sudah membasahi sebagian kaosnya. Dan kali ini ditambah umpatan yang keluar dari mulutnya karna lupa membawa air mineral untuk menghilangkan rasa hausnya. Shit!.
Julia menampung air danau dengan merapatkan kedua telapak tangannya dan meminum air tersebut. Tidak mungkin baginya menahan rasa haus dahaga disaat kerongkongannya pun ikut mengering. Setelah cukup meminumnya ia pun kembali ke tepi dan lebih memilih berbaring diatas pasir tepi danau menghadap ke langit-langit pagi hari yang cerah. Dengan sisa nafas yang masih berpacu, tatapan langit membuatnya dapat menghayal seketika.
“Hidup bukan lah menunggu kapan badai berlalu, melainkan belajar menari disaat hujan” Kutipan itu baru saja membuat ia mempelajari bagaimana bisa menghadapi kenyataan dan belajar untuk bisa belajar menguatkan diri sendiri. Bukan waktu yang penting, tapi usaha yang penting.
__ADS_1
Julia baru saja menyelesaikan olahraga sehatnya dan bergerak menuju tempat makan yang cukup sepi didekat danau tersebut. Bisa dibilang pagi itu baru ia seorang pelanggan yang datang. Kedatangan Julia disambut hangat si pemilik tempat makan. Mungkin saja pelanggan ditempat itu sepi entah mungkin karna tempat yag kurang strategis atau pun makanan yang kurang enak. Julia pun duduk disalah satu meja yang sembarang ia pilih. Ia mulai memilih menu yang terdapat diatas dinding.
“Ahjumma aku ingin seporsi sup ayam dan ice tea” Ahjumma yang tampak tua dengan raut muka sangat ramah ini langsung segera membuat menu yang diinginkan Julia. Dibantu suaminya yang juga bergelut didapur yang mudah dilihat dari meja pelanggan, Julia tampak memperhatikan mereka bekerja dari punggung mereka yang terlihat sangat senang karna adanya pelanggan.
kali ini pelanggan selanjutnya tiba. Sebuah mobil van terparkir jelas didepan. Beberapa orang pun keluar dan salah satunya menarik perhatian. Terlihat jelas lelaki yang baru keluar menggunakan jas tersebut memasuki tempat yang mungkin kita fikir mungkin itu bukan levelnya. Dan memang terlihat jelas diraut wajahnya yang kurang menyukai tempat makan ini.
Dengan cepat Ahjumma beranjak keluar dan mulai menanyakan keinginan empat orang yang baru saja duduk diseberang Julia.
“Selamat datang. Kalian ingin pesan apa? tanya Ahjumma yang penuh ramah itu kepada mereka.
“Kau gila? kalimat itu langsung keluar dari mulut pria berjas tersebut kepada salah satu temannya.
Harusnya mereka bisa mengecilkan volume suara mereka ketika berbicara satu sama lain. Terutama lelaki yang berjas tersebut yang seolah-olah tidak terima untuk bisa makan ditempat kecil dan kumuh. Bahkan wajah Ahjumma tersebut terlihat merasa bersalah. Bukan marah tapi melainkan merasa bersalah. Oh My God Julia yang mendengar
cukup geram mendengarnya dan hanya mendengus kesal ke arah mereka yang untung saja mereka tidak perhatikan.
“Aku hanya mau Ice tea” Ucap pria berjas tersebut.
“ Kau yakin Ndrew?” Tanya seorang wanita disebelahnya yang perawakannya seperti laki-laki.
__ADS_1
“ Kau saja yang makan” Balasnya kembali kepada wanita tersebut.
“Karna aku supir jadi aku akan makan sup kimchi dan berikan kami coffe agar aku tidak mengantuk”
“Andrew jika kau tidak makan kau akan sakit. Setelah ini kita harus ke studio. Kau masih ada pemotretan. Lagian tempat ini lumayan dan sepi. Tidak akan ada paparazzi atau pun fans yang mengenalimu”
“Kau yakin??” Tanya nya kepada managernya
“Apakah wanita dibelakang kita tidak mengenalku?” Sambung Andrew kembali.
Julia hanya sibuk membaca ipadnya yang ia bawa dari dalam mobilnya sambil melihat perkembangan saham yang baru saja ia beli. Dan setelah itu melihat beberapa email masuk yang menampilkan beberapa laporan Trisemester dari perusahaannya yang harus ia cek. Tentu saja kesibukannya ini tidak akan membuat ia tahu bahwa baru saja ia
diperhatikan oleh beberapa orang dihadapannya.
“Kalau dia benar-benar mengenalmu seharusnya saat kita masuk dia akan terkejut atau berpura-pura memainkan ponselnya untuk mengambil gambarmu. Tapi yang dia lakukan sekarang memainkan ipadnya dan tampaknya lokasi ipad yang ia pegang bukan sedang mengambil fotomu” Kata seorang wanita tomboy tersebut.
Setelah selesai memesan, Makanan Julia pun tiba. Tanpa babibu Julia langsung melahap makannanya. Sambil makan Julia terus memperhatikan Ipad yang berada disampingnya. Menyentuh dan menggesernya ke tempat yang sesuai.
__ADS_1
~~ yorebeun, novel ini akan tamat beberapa episode lagi ya. Karna aku sudah setel dengan baik-baik ceritanya. Tapi tenang aja, Akan ada sesion dua nantinya yang nggak kalah bagus nanti. Hihihi. Annyeong.