
Hari semakin sore, aku duduk
termenung didepan taman rumah sakit dengan secarik kertas yang ku pegang dengan
kedua tanganku. kertas itu terisi biaya rumah sakit ibuku yang baru 1 hari dan
totalnya sudah 8 Juta lebih, sementara tabunganku hanya 3 Juta.
1.5 jam berikutnya.
“Ibuk hanya bisa membantumu segini”
memberikan sebuah amplop berisi uang ke tangan Julia.
“ Ini hanya 1.5 Juta, kamu tahu
sendiri, sepupumu masih banyak butuh biaya, kami juga lagi sedang pembangunan
rumah baru jadi sudah tidak cukup lagi” sahut kakak kandung ibu dihadapan
Julia.
Kakak kandung Ibu Julia sebenarnya
termasuk golongan kaya, memiliki beberapa puluh hektar sawit dan Ruko yang
berjejeran. dia menyekolahkan anaknya sampai S2 kedokteran dan Farmasi, mobil
yang yang tidak hanya 1 dan beberapa mobil truk untuk penunjang transportasi
lahan sawitnya. dalam setahun mereka selalu bepergian ke luar negri. mereka
bahkan juga pernah menghampiriku ke Korea tahun lalu. dan mereka hanya bisa
membantuku 1.5 Juta. mungkin mereka takut aku tidak mampu membayarnya
dikemudian hari.
BUT !!! positif thinking saja Julia.
Setidaknya uang itu bisa mengurangi bebanmu untuk membayar biaya rumah sakit.
walaupun besoknya dia harus memutar otak bagaimana caranya ia bisa mendapatkan
uang untuk biaya rumah sakit ibunya.
Dan ditaman ini seorang mata-mata
yang dikirim oleh Kyungsoo sedang memperhatikan Julia dari Jauh sambil menelfon
seseorang.
“Lunasi semua biaya rumah sakit
ibunya, untuk saat ini rahasiakan itu dan jangan memberitahunya jika itu dariku”
Ujar kyungsoo yang sedang menelf mata-matanya.
“Baik tuan” jawab si mata-mata
tersebut.
1 Minggu berlalu. dan Ibu Julia
belum bisa keluar dari ruang ICU dan masih mendapatkan perawatan insentif. dan
ia pun pergi menuju kasir dan meminta biaya rumah sakit ibunya. kasir rumah
sakit langsung memberikan secari kertas nota biaya rumah sakit yang telah
terstempel lunas dikertas tersebut. Julia terkejut dan tidak percaya karna
biaya rumah sakit ibunya sudah terbayar lunas.
“Mbak ini nggak salah kan ? apa ini
memang atas nama ibu saya ? dan sudah lunas ?? Julia bertanya penuh takjub dan
heran. nilai biaya rumah sakit itu 54 Juta dan sudah terstempel lunas.
“ Benar mbak Julia, seseorang telah
__ADS_1
membayar lunas pengobatan ibu anda “ jawab si kasir rumah sakit.
“siapa yang membayar ini ? apakah
ada namanya ?
“Beliau tidak mau disebutkan
namanya mbak” Jawab si Kasir.
“Apakah ini hamba Allah ?” Ujar
Julia dengan nada pelan dan terharu.
Biaya itu dikatakan akan terus
berlanjut sampai pengobatannya rawat inapnya selesai.
Julia masih tidak percaya dan
bertanya-tanya siapa orang yang berbaik hati yang sudah membayarkan pengobatan
ibunya ? dia sangat lega sekali akhirnya dia bisa berfikir jernih. dia berlari
kecil ke arah adik perempuannya yang sedang belajar didepan ruang tunggu ICU
dan segera memeluk adiknya. adiknya yang terheran-heran lalu membalas pelukan
kakaknya.
“Kenapa kk ?” Tanya adiknya.
“Alhamdulillah biaya rumah sakit
Ibu lunas” sahut gembira sang kakak.
Kedua matanya melotot dan mulutnya
ternganga mendengar perkataan kakaknya “serius kk ?”
“iia serius” sambil menganggukkan
kepalanya.
kakaknya dan melompat kegirangan.
“kak akhirnya kakak nggak perlu
pikir-pikir gimana caranya bayar biaya rumah sakit ibu. kita bisa fokus dengan
kesehatan Ibu sekarang”
Julia mengangguk-angguk sambil mengusap
manja kepala adiknya.
Seluruh rumah sakit heboh. Semua
staff layanan baik dokter, perawat maupun staff sibuk kesana-kemari. Kami
bingung melihat kondisi saat itu dan Julia pun menanyakan hal itu kepada dokter
muda tampan Jeremy.
“Apa yang terjadi dok ? “ Tanya Julia.
“ Rumah sakit ini sudah pindah alih
dan dibeli oleh seorang investor” jawab sang dokter dengan senyum ahlinya.
“ Ooh begitu “ jawab singkat Julia yang
akhirnya terpecahkan.
Seorang suster juga ikut meramaikan
pembicaraan kami dengan dokter Jeremi.
“ Kabarnya investor ini masih
sangat muda, tampan dan masih jomblo pastinya” Gumam seorang perawat yang telah
lama jomblo dari lahir.
__ADS_1
“Dia juga bukan warga negara
Indonesia, tapi investor luar negri dari Korea Selatan, makanya saat ini kami
semua pada sibuk sebab beliau hari ini akan memperkenalkan diri sebagai
President Direktur rumah sakit ini” Info seorang perawat yang entah dari mana
datang sumbernya.
“ Oo Orang Korea toh “ Gumam Julia
dengan santai.
“ Hhmmm ayo kita kembali bekerja,
tidak baik dilihat pasien kalau kita bergosip” Ujar dokter jeremi kepada
perawatnya.
‘’ Kak aku sudah 1 minggu tidak
masuk sekolah, buku tulisku juga sudah habis. bisa kakak belikan ?? sahut sang
adik.
Julia baru tahu ternyata buku tulis
adiknya habis dan dia sengaja tidak bersekolah. “baiklah kakak akan belikan
sekarang. Kamu jaga ibu ya ?” Julia memberikan pesan kepada sang adik.
Adik Julia masih SMA kelas 1.
adiknya pintar dan selalu mendapat Juara. Nama adiknya Lexa Jasmin. adiknya
juga selalu mendapat Beasiswa dari SD sampai bangku SMA. semenjak SMA adiknya
mulai mengenal lawan jenis. Lexa sering curhat dengannya kalau banyak pria yang
mengganggunya disekolah ataupun anak sekolah lain. ya karna Lexa cantik dan banyak
dikagumi dari kalangan pria seusianya. sama halnya dengan kakaknya. mereka
sama-sama memiliki tinggi yang berbeda. Tinggi Julia 171 sedangkan Lexa 160.
sama-sama berkulit putih bersih, dagu panjang, hidung mancung, bibir tipis dan
mereka sama-sama memiliki rambut panjang dan lurus. dan mereka benar-benar
mirip satu sama lain.
Dulu waktu masih sekolah dan Ayah
masih hidup. beliau selalu antar jemput kami dan harus tepat waktu, jika tidak
anak-anaknya akan diganggu didepan gerbang sekolah oleh laki-laki yang menggodanya.
namun saat Ayah meninggal, Ibulah yang selalu mengantar jemput Lexa sekolah.
Saat ini karna kondisi ibunya mau tak mau Julia lah yang harus mengantar
adiknya sekolah.
“Hallo Lexa” sebuah panggilan
terdengar dan kami menoleh ke arah sumber suara tersebut.
“Hallo Jun” Ucap Lexa.
Ternyata itu adalah teman Lexa di
sekolah yang sedang menjenguk Ibu. dia membawa beberapa roti dan buah untuk
kami. dan situasi ini sudah hampir seminggu kami rasakan semenjak Ibu dirawat
dirumah sakit ? Dan kami kenyang berkat teman-teman Lexa tanpa memikirkan isi
perut.
Jadi bakat alami inilah yang
membuat kami merasa sangat-sangat terbantu, walaupun dibalik itu tentu ada
__ADS_1
resikonya.