Cerita Julia dan Korea Selatan

Cerita Julia dan Korea Selatan
Episode 6


__ADS_3

Hari semakin sore, aku duduk


termenung didepan taman rumah sakit dengan secarik kertas yang ku pegang dengan


kedua tanganku. kertas itu terisi biaya rumah sakit ibuku yang baru 1 hari dan


totalnya sudah 8 Juta lebih, sementara tabunganku hanya 3 Juta.


 


1.5 jam berikutnya.


“Ibuk hanya bisa membantumu segini”


memberikan sebuah amplop berisi uang ke tangan Julia.


“ Ini hanya 1.5 Juta, kamu tahu


sendiri, sepupumu masih banyak butuh biaya, kami juga lagi sedang pembangunan


rumah baru jadi sudah tidak cukup lagi” sahut kakak kandung ibu dihadapan


Julia.


Kakak kandung Ibu Julia sebenarnya


termasuk golongan kaya, memiliki beberapa puluh hektar sawit dan Ruko yang


berjejeran. dia menyekolahkan anaknya sampai S2 kedokteran dan Farmasi, mobil


yang yang tidak hanya 1 dan beberapa mobil truk untuk penunjang transportasi


lahan sawitnya. dalam setahun mereka selalu bepergian ke luar negri. mereka


bahkan juga pernah menghampiriku ke Korea tahun lalu. dan mereka hanya bisa


membantuku 1.5 Juta. mungkin mereka takut aku tidak mampu membayarnya


dikemudian hari.


BUT !!! positif thinking saja Julia.


Setidaknya uang itu bisa mengurangi bebanmu untuk membayar biaya rumah sakit.


walaupun besoknya dia harus memutar otak bagaimana caranya ia bisa mendapatkan


uang untuk biaya rumah sakit ibunya.


Dan ditaman ini seorang mata-mata


yang dikirim oleh Kyungsoo sedang memperhatikan Julia dari Jauh sambil menelfon


seseorang.


“Lunasi semua biaya rumah sakit


ibunya, untuk saat ini rahasiakan itu dan jangan memberitahunya jika itu dariku”


Ujar kyungsoo yang sedang menelf mata-matanya.


“Baik tuan” jawab si mata-mata


tersebut.


1 Minggu berlalu. dan Ibu Julia


belum bisa keluar dari ruang ICU dan masih mendapatkan perawatan insentif. dan


ia pun pergi menuju kasir dan meminta biaya rumah sakit ibunya. kasir rumah


sakit langsung memberikan secari kertas nota biaya rumah sakit yang telah


terstempel lunas dikertas tersebut. Julia terkejut dan tidak percaya karna


biaya rumah sakit ibunya sudah terbayar lunas.


“Mbak ini nggak salah kan ? apa ini


memang atas nama ibu saya ? dan sudah lunas ?? Julia bertanya penuh takjub dan


heran. nilai biaya rumah sakit itu 54 Juta dan sudah terstempel lunas.


“ Benar mbak Julia, seseorang telah

__ADS_1


membayar lunas pengobatan ibu anda “ jawab si kasir rumah sakit.


“siapa yang membayar ini ? apakah


ada namanya ?


“Beliau tidak mau disebutkan


namanya mbak” Jawab si Kasir.


“Apakah ini hamba Allah ?” Ujar


Julia dengan nada pelan dan terharu.


Biaya itu dikatakan akan terus


berlanjut sampai pengobatannya rawat inapnya selesai.


Julia masih tidak percaya dan


bertanya-tanya siapa orang yang berbaik hati yang sudah membayarkan pengobatan


ibunya ? dia sangat lega sekali akhirnya dia bisa berfikir jernih. dia berlari


kecil ke arah adik perempuannya yang sedang belajar didepan ruang tunggu ICU


dan segera memeluk adiknya. adiknya yang terheran-heran lalu membalas pelukan


kakaknya.


“Kenapa kk ?” Tanya adiknya.


“Alhamdulillah biaya rumah sakit


Ibu lunas” sahut gembira sang kakak.


Kedua matanya melotot dan mulutnya


ternganga mendengar perkataan kakaknya “serius kk ?”


“iia serius” sambil menganggukkan


kepalanya.


kakaknya dan melompat kegirangan.


“kak akhirnya kakak nggak perlu


pikir-pikir gimana caranya bayar biaya rumah sakit ibu. kita bisa fokus dengan


kesehatan Ibu sekarang”


Julia mengangguk-angguk sambil mengusap


manja kepala adiknya.


Seluruh rumah sakit heboh. Semua


staff layanan baik dokter, perawat maupun staff sibuk kesana-kemari. Kami


bingung melihat kondisi saat itu dan Julia pun menanyakan hal itu kepada dokter


muda tampan Jeremy.


“Apa yang terjadi dok ? “ Tanya Julia.


“ Rumah sakit ini sudah pindah alih


dan dibeli oleh seorang investor” jawab sang dokter dengan senyum ahlinya.


“ Ooh begitu “ jawab singkat Julia yang


akhirnya terpecahkan.


Seorang suster juga ikut meramaikan


pembicaraan kami dengan dokter Jeremi.


“ Kabarnya investor ini masih


sangat muda, tampan dan masih jomblo pastinya” Gumam seorang perawat yang telah


lama jomblo dari lahir.

__ADS_1


“Dia juga bukan warga negara


Indonesia, tapi investor luar negri dari Korea Selatan, makanya saat ini kami


semua pada sibuk sebab beliau hari ini akan memperkenalkan diri sebagai


President Direktur rumah sakit ini” Info seorang perawat yang entah dari mana


datang sumbernya.


“ Oo Orang Korea toh “ Gumam Julia


dengan santai.


“ Hhmmm ayo kita kembali bekerja,


tidak baik dilihat pasien kalau kita bergosip” Ujar dokter jeremi kepada


perawatnya.


‘’ Kak aku sudah 1 minggu tidak


masuk sekolah, buku tulisku juga sudah habis. bisa kakak belikan ?? sahut sang


adik.


Julia baru tahu ternyata buku tulis


adiknya habis dan dia sengaja tidak bersekolah. “baiklah kakak akan belikan


sekarang. Kamu jaga ibu ya ?” Julia memberikan pesan kepada sang adik.


Adik Julia masih SMA kelas 1.


adiknya pintar dan selalu mendapat Juara. Nama adiknya Lexa Jasmin. adiknya


juga selalu mendapat Beasiswa dari SD sampai bangku SMA. semenjak SMA adiknya


mulai mengenal lawan jenis. Lexa sering curhat dengannya kalau banyak pria yang


mengganggunya disekolah ataupun anak sekolah lain. ya karna Lexa cantik dan banyak


dikagumi dari kalangan pria seusianya. sama halnya dengan kakaknya. mereka


sama-sama memiliki tinggi yang berbeda. Tinggi Julia 171 sedangkan Lexa 160.


sama-sama berkulit putih bersih, dagu panjang, hidung mancung, bibir tipis dan


mereka sama-sama memiliki rambut panjang dan lurus. dan mereka benar-benar


mirip satu sama lain.


Dulu waktu masih sekolah dan Ayah


masih hidup. beliau selalu antar jemput kami dan harus tepat waktu, jika tidak


anak-anaknya akan diganggu didepan gerbang sekolah oleh laki-laki yang menggodanya.


namun saat Ayah meninggal, Ibulah yang selalu mengantar jemput Lexa sekolah.


Saat ini karna kondisi ibunya mau tak mau Julia lah yang harus mengantar


adiknya sekolah.


“Hallo Lexa” sebuah panggilan


terdengar dan kami menoleh ke arah sumber suara tersebut.


“Hallo Jun” Ucap Lexa.


Ternyata itu adalah teman Lexa di


sekolah yang sedang menjenguk Ibu. dia membawa beberapa roti dan buah untuk


kami. dan situasi ini sudah hampir seminggu kami rasakan semenjak Ibu dirawat


dirumah sakit ? Dan kami kenyang berkat teman-teman Lexa tanpa memikirkan isi


perut.


Jadi bakat alami inilah yang


membuat kami merasa sangat-sangat terbantu, walaupun dibalik itu tentu ada

__ADS_1


resikonya.


__ADS_2