Cerita Julia dan Korea Selatan

Cerita Julia dan Korea Selatan
Episode 5


__ADS_3

Seseorang terbujur kaku di ruang


ICU, terbaring lemah tak berdaya diatas tempat tidur rumah sakit dipenuh dengan


alat-alat yang menempel di tubuhnya. “Apa saja yang menempel ditubuh ibuku ???”


kata-kata itu langsung terngiang difikirannya seakan-akan menyiratkan bahwa


hidupnya hanya bisa bergantung pada alat-alat itu saja. aku tidak tahu alat apa


saja yang terpasang ditubuh ibuku selain oksigen yang menempel dimulut


kecilnya. sesekali dokter dan perawat masuk melihat perkembangan pasien. sedangkan


aku hanya terpaku melihat dari balik jendela kamar itu. Aku tidak berani


menanyakan hasil diagnosa kepada dokter itu karna aku tidak sanggup


mendengarnya.


Sedangkan adikku duduk lemas dan


menundukkan kepalanya kearah lantai rumah sakit. Dia tidak berani melihat tubuh


kepulanganku yang baru tiba dirumah sakit yang belum menjajahkan badanku untuk


duduk terlebih dahulu dibangku tunggu depan ruang ICU. Mataku tidak akan


berpaling dari tubuh ibuku yang tidak sadarkan diri alias koma itu.


Mengapa ? Kenapa ? Ada apa ?


Aku berfikir kenapa itu bisa


terjadi dengan keluargaku ?. Apakah Tuhan sedang menghukumku karna lalai


menjaga ibu dan adiknya ? ataukah ini teguran ? apa ini cobaan yang Tuhan


berikan karna rasa sayangnya kepada seorang hamba ??


Airmataku menetes, tetes demi tetes


tanpa suara. aku masih berdiri melihatnya tanpa sadar airmataku cukup deras


hingga membasahi pipiku. adikku lebih menangis lagi hingga terisak-isak. mata


dan kepala itu tetap menunduk kearah lantai. dia seperti dihantui rasa bersalah


jika melihat sosok kakaknya.


“Ibuu....” Isak tangis sang adik

__ADS_1


terbata-bata.


Sesekali ia mengusap airmatanya


karna sudah membanjiri pipinya yang chubby.


Suaraku seperti ada yang menahan.


Tidak bisa bersuara seperti adikku yang sudah terisak-isak. apa ini seperti


pasca trauma ?


Seseorang menarik lenganku dan


memelukku sambil menangis histeris. suara tangisannya lebih terdengar ketimbang


adik Julia dan memecah kesunyian ruang sekitar ICU. ternyata itu adalah kakak


kandung Ibuku yang baru tiba dari Riau bersama anak laki dan perempuannya.


mereka memelukku dan menguatkan aku sebagai seorang ponakan dan sepupu bagi


anaknya. aku tetap hanya menangis tanpa suara dan mereka pun melepaskan


pelukannya karna aku mulai terlihat seperti tersesak dengan pelukan mereka.


Situasi kembali sunyi seperti awal.


kami semuanya duduk menunggu didepan ruang ICU. Perawat menyarankan untuk


masuk secara bergantian dan menggunakan jas steril. Aku tidak berani melihat


kondisi ibuku. Aku takut aku akan jadi histeris ketika melihatnya. lalu seorang


dokter laki-laki muda datang dan menguatkan aku.


“Lihatlah ibumu, ibumu pasti


menunggumu didalam. biarpun dia masih koma tapi dia lebih peka ketika anaknya


melihatnya dari dekat. Ucap dokter tampan dan muda tersebut sambil memegang


kedua tanganku.


Mata merah Julia melihat ke arah


genggaman tangan dokter tersebut.


“ Kami akan berusaha semampu kami


untuk menyelamatkan ibumu “ sambung dokter tampan itu kepada Julia.

__ADS_1


Julia pun akhirnya memberanikan


diri masuk bersama adiknya dan dokter tersebut. Baju steril sudah kami kenakan.


begitu pula dengan dokternya. Julia pelan-pelan melangkahkan kakinya mendekati


tubuh Ibundanya hingga ia berhenti tepat berada di depan wajah ibunya yang


mengalami luka bakar namun tidak terlalu parah. dia memandangi seluruh badan


ibunya yang hanya telanjang dan hanya dibaluti kain agar kulitanya tidak


mengelupas. Alat-alat hidup yang terpasang ditubuhnya selain menambah siksa


ditubuhnya namun itulah cara agar dia tetap bertahan menentang maut.


Cukup lama Julia terpaku dan


memundurkan tubuhnya secara perlahan hingga akhirnya ia tersungkur duduk ke


lantai sambil menahan tangis dan membungkam mulutnya yang masih terbuka.


“Hiks...” Julia menangis


terisak-isak. barulah disana ia mengeluarkan suara tangisannya ketika ia lihat


wajah ibu tercintanya.


“Ibu..” isak tangis Julia terpecah


seketika mengundang sang adik perempuannya yang juga ikut menangis.


“Ibu..” panggil Julia


terengap-engap.


Dokter muda itu berusaha menenangkan


kedua kakak adik tersebut. ia juga menggosok pundak Julia untuk tetap sabar.


“Aaaaaa,......” teriak Julia


semakin keras.


Tuhan, kenapa engkau berikan aku


cobaan yang begitu berat untuk kami ? aku tidak sanggup jika kehilangan beliau


! Julia tersungkur duduk ketanah tak sanggup melihat kondisi Ibunya.


Julia berusaha mengusap

__ADS_1


dadanya sambil terisak-isak dan sesekali memandangi tubuh ibunya dari bawah.


adik perempuannya hanya bisa tertegun menangis berjarak 1 meter darinya.


__ADS_2