
Seseorang terbujur kaku di ruang
ICU, terbaring lemah tak berdaya diatas tempat tidur rumah sakit dipenuh dengan
alat-alat yang menempel di tubuhnya. “Apa saja yang menempel ditubuh ibuku ???”
kata-kata itu langsung terngiang difikirannya seakan-akan menyiratkan bahwa
hidupnya hanya bisa bergantung pada alat-alat itu saja. aku tidak tahu alat apa
saja yang terpasang ditubuh ibuku selain oksigen yang menempel dimulut
kecilnya. sesekali dokter dan perawat masuk melihat perkembangan pasien. sedangkan
aku hanya terpaku melihat dari balik jendela kamar itu. Aku tidak berani
menanyakan hasil diagnosa kepada dokter itu karna aku tidak sanggup
mendengarnya.
Sedangkan adikku duduk lemas dan
menundukkan kepalanya kearah lantai rumah sakit. Dia tidak berani melihat tubuh
kepulanganku yang baru tiba dirumah sakit yang belum menjajahkan badanku untuk
duduk terlebih dahulu dibangku tunggu depan ruang ICU. Mataku tidak akan
berpaling dari tubuh ibuku yang tidak sadarkan diri alias koma itu.
Mengapa ? Kenapa ? Ada apa ?
Aku berfikir kenapa itu bisa
terjadi dengan keluargaku ?. Apakah Tuhan sedang menghukumku karna lalai
menjaga ibu dan adiknya ? ataukah ini teguran ? apa ini cobaan yang Tuhan
berikan karna rasa sayangnya kepada seorang hamba ??
Airmataku menetes, tetes demi tetes
tanpa suara. aku masih berdiri melihatnya tanpa sadar airmataku cukup deras
hingga membasahi pipiku. adikku lebih menangis lagi hingga terisak-isak. mata
dan kepala itu tetap menunduk kearah lantai. dia seperti dihantui rasa bersalah
jika melihat sosok kakaknya.
“Ibuu....” Isak tangis sang adik
__ADS_1
terbata-bata.
Sesekali ia mengusap airmatanya
karna sudah membanjiri pipinya yang chubby.
Suaraku seperti ada yang menahan.
Tidak bisa bersuara seperti adikku yang sudah terisak-isak. apa ini seperti
pasca trauma ?
Seseorang menarik lenganku dan
memelukku sambil menangis histeris. suara tangisannya lebih terdengar ketimbang
adik Julia dan memecah kesunyian ruang sekitar ICU. ternyata itu adalah kakak
kandung Ibuku yang baru tiba dari Riau bersama anak laki dan perempuannya.
mereka memelukku dan menguatkan aku sebagai seorang ponakan dan sepupu bagi
anaknya. aku tetap hanya menangis tanpa suara dan mereka pun melepaskan
pelukannya karna aku mulai terlihat seperti tersesak dengan pelukan mereka.
Situasi kembali sunyi seperti awal.
kami semuanya duduk menunggu didepan ruang ICU. Perawat menyarankan untuk
masuk secara bergantian dan menggunakan jas steril. Aku tidak berani melihat
kondisi ibuku. Aku takut aku akan jadi histeris ketika melihatnya. lalu seorang
dokter laki-laki muda datang dan menguatkan aku.
“Lihatlah ibumu, ibumu pasti
menunggumu didalam. biarpun dia masih koma tapi dia lebih peka ketika anaknya
melihatnya dari dekat. Ucap dokter tampan dan muda tersebut sambil memegang
kedua tanganku.
Mata merah Julia melihat ke arah
genggaman tangan dokter tersebut.
“ Kami akan berusaha semampu kami
untuk menyelamatkan ibumu “ sambung dokter tampan itu kepada Julia.
__ADS_1
Julia pun akhirnya memberanikan
diri masuk bersama adiknya dan dokter tersebut. Baju steril sudah kami kenakan.
begitu pula dengan dokternya. Julia pelan-pelan melangkahkan kakinya mendekati
tubuh Ibundanya hingga ia berhenti tepat berada di depan wajah ibunya yang
mengalami luka bakar namun tidak terlalu parah. dia memandangi seluruh badan
ibunya yang hanya telanjang dan hanya dibaluti kain agar kulitanya tidak
mengelupas. Alat-alat hidup yang terpasang ditubuhnya selain menambah siksa
ditubuhnya namun itulah cara agar dia tetap bertahan menentang maut.
Cukup lama Julia terpaku dan
memundurkan tubuhnya secara perlahan hingga akhirnya ia tersungkur duduk ke
lantai sambil menahan tangis dan membungkam mulutnya yang masih terbuka.
“Hiks...” Julia menangis
terisak-isak. barulah disana ia mengeluarkan suara tangisannya ketika ia lihat
wajah ibu tercintanya.
“Ibu..” isak tangis Julia terpecah
seketika mengundang sang adik perempuannya yang juga ikut menangis.
“Ibu..” panggil Julia
terengap-engap.
Dokter muda itu berusaha menenangkan
kedua kakak adik tersebut. ia juga menggosok pundak Julia untuk tetap sabar.
“Aaaaaa,......” teriak Julia
semakin keras.
Tuhan, kenapa engkau berikan aku
cobaan yang begitu berat untuk kami ? aku tidak sanggup jika kehilangan beliau
! Julia tersungkur duduk ketanah tak sanggup melihat kondisi Ibunya.
Julia berusaha mengusap
__ADS_1
dadanya sambil terisak-isak dan sesekali memandangi tubuh ibunya dari bawah.
adik perempuannya hanya bisa tertegun menangis berjarak 1 meter darinya.