
~~ Selamat membaca.
Dikamar Hotel, otaknya berfikir keras bagaimana caranya ia bisa melihat dan menjenguk Kyungsoo. Rumah sakit itu dikelilingi beberapa bodyguard sehingga Julia tidak bisa masuk melihatnya. Sementara Ibu Kyungsoo setiap saat selalu berada ditempat itu. Julia akhirnya hanya bisa terkurung dihotel tanpa bisa melakukan apapun.
Bukannya ia tidak diperbolehkan keluar, namun pikirannya saat ini hanya ingin melihat keadaan lelaki tersebut.
Saat ini kondisi Kyungsoo masih kritis. Luka tusukannya cukup dalam dan mengenai paru-parunya. Dokter dan perawat setiap saat selalu berlalu lalang melihat kestabilan Kyungsoo. Lelaki itu masih koma dalam tidurnya. Ibunya hanya bisa menggigit jari melihat kondisi anaknya. Ia tidak henti-hentinya mengumpat kekesalannya terhadap anaknya yang mengorbankan nyawa untuk wanita yang meninggalkannya.
---
Julia saat ini berada disebuah taman kota mnunggu kedatangan seseorang.
“Selamat siang Nona” Ujar Chen yang datang dari belakang.
Julia pun segera memutar badannya melihat ke arah sumber suara yang ia dengar.
“Chen, bagaimana kabar Kyungsoo?” Ujarnya was-was
“Saat ini kondisi tuan masih kritis. Beliau masih koma” Sahut Chen sambil menundukan pandangannya.
Detak Jantung Julia seakan ingin berhenti. Selain tidak dapat melihat kondisi Kyungsoo secara langsung. Ia hanya bisa mengandalkan informasi dari Chen Sekretaris pribadinya.
Chen seperti tampak lelah. Lingkaran hitam dimatanya terlihat jelas bila lelaki itu kini pasti lebih sibuk dibanding biasanya. Ia harus menggantikan pekerjaan tuannya disaat tuannya dalam kondisi kritis. Chen termasuk pegawai yang sangat setia.
Flasback
Chen adalah salah satu dari dua bersaudara yang tinggal didesa Yangdong. Dia adalah anak tertua dan satu adik perempuannya yang masih berusia 7 tahun. Kedua orang tua mereka kecelakaan jatuh dari atas tebing saat hendak mencari rumput untuk memberi makan ternak. Keluarganya termasuk keluarga yang dengan pendapatan
pas-pasan atau tergolong miskin. Semenjak kematian kedua orang tuanya, ialah yang mencukupi kebutuhan sehari-hari. Ia sampai harus memutuskan sekolahnya dikarenakan tidak memiliki uang dan pekerjaan. Umurnya yang masih terbilang cukup muda cukup sulit untuk mencari pekerjaan.
Saat itu umurnya hanya 15 tahun dan ia harus berhenti dari sekolahnya. Saat itu ia pertama kali bertemu dengan Kyungsoo. Kyungsoo datang ke kampung halamannya untuk melakukan survey lahan untuk membuka Resort mewah. Saat itu adik Chen mengalamai demam tinggi dan harus membawa adiknya ke klinik setempat. Chen
harus berlarian diderasnya hujan membawa adiknya dengan selimut tebal miliknya. Walaupun akhirnya selimut itu basah saat sampai diklinik tersebut.
“Dokter, tolong adik saya” Ujar Chen yang khawatir dan berlinang air mata.
__ADS_1
“Sabar ya, saya akan periksa adik kamu” Ujar sang dokter lelaki berusia 40an.
Selang beberapa lama mngecek kondisi adiknya dokter itupun datang menghampiri Chen dengan wajah yang khawatir.
“Nak. adikmu sepertinya terkena Tumor diperutnya. Ia harus dirawat dirumah sakit. Di Klinik ini tidak lengkap untuk menangani penyakit adikmu. Adikmu harus dioperasi” Ujar sang dokter.
Mendengar kata tumor membuat Chen terkejut. Selama ini ia tidak tahu bahwa adiknya terkena penyakit aneh yang baru saja ia dengar. Dengan wajah memelas ia berusaha menguatkan hatinya. Ia tidak tahu harus berbuat apa untuk menyembuhkan adiknya.
Akhirnya sang adik dirawat diklinik itu sementara sampai Chen membawanya ke Kota untuk dilarikan ke rumah sakit. Disamping itu Chen yang sedang mencari rumput untuk ternak milik orang lain sesekali termenung dibawah pohon. Apa yang yang harus ia lakukan untuk kesembuhan adiknya.
Tak lama Kyungsoo datang. Awalnya ia hanya penasaran dengan lelaki yang ia lihat terlihat duduk bermenung dibawah pohon.
“Apa yang kau lakukan disini?” Ujar Kyungsoo sambil berdiri dihadapan Chen.
“Aku hanya bermenung” Ujar Chen tanpa melihat ke arah Kyungsoo.
“Bermenung??” Sahut Kyungsoo bingung.
“Apakah kau sedang mencari rumput ?” sambil memperhatikan gendongan besar yang berisi beberapa rumput didalamnya.
Chen tidak mendengar apa yang Kyungsoo tanyakan dan tetap bermenung fokus ke arah yang berbeda. Dan Kyungsoo pun melanjutkan pembicaraannya yang menggantung “Tanah ini akan dibangun olehku. Tempat ini akan jadi resort mewah nanti” Gumam Kyungsoo yang membuat Chen mengalihkan pandangannya ke arah Kyungsoo.
“Apakah adikmu sakit?” Tanya Kyungsoo.
“Sudahlah, kalian orang kaya jika sakit hanya perlu kerumah sakit dengan fasilitas yang mewah. Di desa ini yang hanya ada klinik kecil. Tidak bisa menangani penyakit-penyakit aneh seperti adikku.
Kyungsoo merasa bersalah telah menyebutkan pembangunan resort ditanah itu.
“Kalau begitu pergilah kerumah sakit. Kenapa kau masih bermenung disini jika tidak membawanya??” Ujar Kyungsoo .
Chen lagi-lagi tidak mengubris Kyungsoo dan bangun meninggalkan Kyungsoo. Dengan berjalan malas ia pergi menjemput adiknya diklinik. Menggendong tubuh kecil itu menuju kediaman gubuk reotnya. Kyungsoo mengikuti dari jauh. Ia penasaran dengan laki-laki yang baru ia temui tadi.
Malam hari Chen menghidupi lampu. Bukan lampu listrik, melainkan lampu dari minyak tanah menggunakan sumbu sambil mengompres dahi adiknya.
Tokk tokk tokk.
__ADS_1
Sebuah ketukan pintu membuatnya segera mmbuka pintu rumahnya dan ia melihat Kyungsoo berdiri didepan pintu itu.
“Apa yang kau lakukan disini? Apa tanah ini juga akan kau beli untuk membangun resort?” Ujar Chen yang terlihat sedikit kesal dengan Kyungsoo.
Kyungsoo hanya memandangi ke sekeliling dalam rumahnya dari pintu. Bisa dibilang rumah itu tidak layak untuk dihuni dengan penerangan lampu api.
“Apakah kau hidup dijaman Joseon?. Sekarang sudah ada lampu listrik. Kenapa masih menggunakan api? Bagaimana jika rumahmu terbakar?” Sahut Kyungsoo yang masih berdiri didepan pintu.
“K-Kakkkkk...” Suara rintihan adik Chen memanggil dari bilik kecil. Suara itu mengalihkan perhatian Chen dan Kyungsoo dan mereka segera masuk ke bilik itu. Dilihatnya wajah adiknya yang sudah tidak sanggup menahan sakit dibagian perutnya.
“Kkkaaakkk” Sahut adiknya kesakitan.
“Apa sakit lagi??” Ujar Chen khawatir. Mata Chen mulai berkaca-kaca. Ia tidak sanggup melihat adiknya yang begitu menderita.
Kyungsoo tidak tinggal diam. Dia mengambil benda pipih disaku celananya dan mendial nomor seseorang.
“Cepat bawa mobil kemari. Ada yang sakit disini” Gumam Kyungsoo dengan perintahnya.
Adik Chen segera dilarikan kerumah sakit besar di Seoul. Malam itu juga Kyungsoo menemaninya membawa adiknya kerumah sakit. Saat tiba dirumah sakit adiknya langsung mendapat penanganan dari dokter.
“Tuan” Ujar sang dokter sambil membungkuk ke arahnya.
“Segera beri dia penanganan yang terbaik” Kata-kata itu membuat Chen bingung, kenapa lelaki itu membantunya.
Diruang tunggu operasi Chen menunggui adiknya yang sedang dioperasi didalam. Disana Kyungsoo juga menungguinya diseberang tempat duduk.
Tak lama dokter pun keluar. Dokter itu berjalan agak pelan dan membuka pelan maskernya. Chen dan Kyungsoo segera menghampiri dokter tersebut. Dokter itu lekas membungkuk ke arah Chen. “Maaf, nyawa adikmu tidak tertolong lagi. kami sudah berusaha semampunya.” Ujar sang dokter yang kemudian membuat Chen
tersungkur ke lantai. Kyungsoo segera memegangi kedua pundak Chen yang terlihat tak sanggup menghadapi kenyataan.
Dua hari kemudian adik Chen dimakamkan. Semua biaya adiknya telah diselesaikan oleh Kyungsoo. Saat dipemakaman pun Kyungsoo juga menemaninya. Kyungsoo memegang sebelah pundak Chen.
“Ikutlah denganku” Ujarnya yang seketika pandangannya teralihkan ke arah batu nisan adiknya chen. “Kau bisa bekerja denganku di Seoul” Sambung Kyungsoo. Ajakan itu langsung di Ia kan oleh Kyungsoo.
Kyungsoo menyekolahkan Chen hingga tamat dan menguliahkannya di Hardvard University. Semenjak itulah Chen setia mengikuti Kyungsoo hingga saat ini.
__ADS_1
Dukung terus novel ini dengan like dan komennya ya. Kamsahamnida.