
~~ Selamat membaca, semoga suka.
“Leo, tenangkan dirimu. Dia tidak salah apa-apa” Pinta Jansen Kim. Teriakan Leo barusan membuat pisau ditangannya mengikis kulit leher Julia. Sementara Julia menangis ketakutan menahan goresan pisau yang sudah melukai lehernya. Setetes darah kecil mengalir dari balik lukanya.
“Tuan, tenangkan dirimu. Bicaralah baik-baik. Pasti ada jalan keluarnya” Julia mencoba berbicara dari hati ke hati dengan pria yang kini menyendranya.
“Jalan keluar? Wanitaku sekarang telah menikah dengan sahabatku sendiri. Mereka ternyata main dibelakangku selama ini” Teriakannya membuat kuping Julia sakit. Pria ini baru saja ditinggal nikah oleh sang kekasih. dan kekasihnya itu yang menikah saat ini. Dan kekasihnya itu adalah adik dari Jansen Kim.
“Ahh,” Leo tak sengaja kembali meiris pisau dileher Julia sehingga darah mengalir sedikit lebih banyak. “S-sakitt” Pinta Julia kesakitan.
Abe murka “Kalian tunggu apa lagi. dia baru saja menyayat lehernya”
“Stop” Suara seseorang baru saja mendominasi lokasi kejadian membuat seisi tamu melihat ke arah sumber suara. Sang pengantin perempuan dengan selayarnya mendekati Leo dan Julia.
“Maaf aku memilih pria lain dan bukan dirimu. Kau tak perlu menyandera orang lain atas dosaku”
“Kenapa?? Kau takut acara mu hancur?” Ujar pria tersebut.
“Ya, aku memang takut kalau kau akan menghancurkan acaraku” Sang pengantin wanita tegas menjawabnya yang membuat Leo semakin naik pitam.
“Aku tidak ingin denganmu karna kau suka main tangan. Kau suka memukulku kalau aku salah sedikit. Kau suka berkata kasar jika tak mau. Dan aku nggak mau punya pria sepertimu” Ujarnya lantang.
Sang pengantin pria mulai ketakutan. Sementara Julia nafasnya mendebu-debu. Bahunya naik turun ketika nafasnya terseok-seok menahan cengkaraman Leo.
Seorang penembak jitu telah berada diposisi atas gedung untuk menembak Leo. Penembak tersebut hanya menunggu seorang arahan dari atasannya untuk bisa memulai tembakannya ke arah objek. Kali ini penembak harus hati-hati, karna jika salah saran maka bisa jadi Julia bisa tertembak. Kali ini predikatnya sebagai penembak jitu terbaik di kepolisian korea juga ikut dipertaruhkan.
“Kau sudah siap?” Suara sang komandan dari earphonenya mulai mengarahkannya dan dijawab dengan anggukan pelan yang dapat dilihat langsung oleh komandannya dari jarak jauh.
“Oke, siap-siap bidikan. 1 2 tembak”
Dorr.......
Suara tembakan mengenai sasaran dan besi panas tertancap di bahu kiri Leo yang membuat si empunya kesakitan dan melepaskan sanderanya. Dengan sigap pengawal Abe langsung menyekap Leo dan Abe pun menyelamatkan Julia saat itu juga.
Semua tamu langsung terbirit-birit lari ketakutan mendengar suara tembakan dan melihat Leo tergeletak jatuh dan pingsan.
__ADS_1
“Julia. Kau tidak apa-apa?” tanya Abe yang dengan sigap merangkulnya.
Jansen pun buru-buru berlari ke arah Julia.
“Julia. kau tidak apa-apa?” Tanya Jansen yang penuh kekhawatiran.
“Aku tidak apa-apa” Kesadaran Julia mulai melayang-layang seakan-akan dunia seperti berputar. Darah dilehernya mengalir dan memberi tanda basah pada kain yang melilit dilehernya. Abe pun menggendongnya dan membawanya ke rumah sakit.
“Aku harus membawanya kerumah sakit” Ujar Abe.
“Aku ikut kalian”
“Terserah” Ujar Abe yang mulai mendelik tak suka.
---
Julia telah tiba dikediamannya bersama Abe. Lehernya telah siap diobati dan ia pun beristirahat dikamarnya setelah Abe menggendongnya dan meletakkan tubuh Julia diatas ranjang. Abe pun keluar kamar untuk menemui Jansen yang menunggu diluar kamar Julia.
“Dia sudah istirahat. Terima kasih karna kau telah ikut menyelamatkannya”
“Maaf aku sudah membuatnya dalam bahaya. Aku sangat-sangat teledor” Ujar Jansen merasa tak enak.
Abe kembali masuk ke kamar Julia. Ia melihat Julia tertidur pulas setelah meminum obat dari dokter. Ia merasa bersalah karna tidak berada disisi Julia selama ia di Bilyon. Lelaki itu bertekad bahwa ia akan selalu berada disisi Julia dan menjaganya. Takut terjadi apa-apa dengannya, Abe pun tidur disamping Julia.
---
Pagi telah terik. Julia masih tertidur. Sedangkan Abe telah sap-siap membawa sarapan pagi untuk Julia. Rasanya ia sangat enggan membangunkan Julia yang masih terlelap. Ia pun meletakkan sarapannya itu di atas meja.
“Apa aku harus membiarkan dia istirahat dulu sampai ia bangun?” Gumam Abe dalam hatinya.
Tak lama kemudian Julia terbangun. Saat ia menyadari ada Abe dihadapannya ia pun berangsur duduk dan memegang leher bekas jahitannya yang agak menegang dan sakit.
“Apa kau sudah baikan sayang?” Tanya Abe yang langsung memeluk Julia tiba-tiba.
“Y-yang mulia?” Panggil Julia bingung.
__ADS_1
“Aku sangat takut. Untung saja kau tidak apa-apa hanya saja kau terluka dilehermu”
“M-Maafkan aku?...”
“Ssssttt, jangan menyalahkan dirimu” dengan sigap Abe menempelkan telunjuk jarinya dibibir Julia yang membuat siempunya terdiam.
Abe mengambil sarapan pagi Julia yang terletak diatas meja. Setelah mengambilnya ia duduk dihadapan Julia dan menyuapi wanita itu.
“Aku bisa sendiri”
“Tidak. Biar aku yang lakukan” Maha benar Abe dengan segala tindakannya. itulah yang harus Julia sadari saat ini jika melawan. Dan mau tak mau Julia harus bersedia.
Setelah selesai sarapan, Julia ingin mandi.
“Aku ingin mandi” Ujar Julia
“Apa aku temani?” Dengan segera Abe menawarkan diri.
“Tidak” Jawab Julia sigap. Wajahnya merona saat Abe mulai menggodanya.
“Dasar lelaki mesum” Pikir Julia.
---
Setelah selesai mandi dan berpakaian. Julia keluar kamar dan pergi menuju taman. Yang membuat Julia heran. Saat ia melangkah ke arah taman. Beberapa pengawal mengikutinya.
“Kenapa kalian mengikutiku?” Tanya Julia mulai tak menyukai.
“Kami harus menjaga nyonya 24jam” Jawab sang pengawal.
“Apa??” Julia keheranan. Matanya tebelalak sempurna.
Abe dan Julia duduk di bangku taman.
“Aku tidak bisa membiarkanmu disini. Ayo kita pulang ke Bilyon.” Ujar Julia yang disambut dengan lonjakan heran dari si empunya.
__ADS_1
~~ Jangan lupa dukung terus Cerita Julia dan Korea Selatan dengan Like, Favorite, Komen dan sharingnya ya. Untuk yang kenal author silahkan follow ig thor di @yulia.fernanda__