Cerita Julia dan Korea Selatan

Cerita Julia dan Korea Selatan
Episode 63 / Sandaran.


__ADS_3

~~ Selamat membaca, semoga suka.


Jansen Kim adalah Pria pemilik perusahaan Kimmy Group yang bergerak dibidang alat penyedia transportasi seperti Kapal, Bus, Kereta Api dan Pesawat. Selain Korea Selatan yang memakai alat transportasinya, negara lain yang menjadi pelanggan tetapnya adalah China, Malaysia, Jepang, Australia dan Amerika Serikat. Pria ramah namun tegas ini adalah pilihan diantara jutaan umat wanita yang dipilih sebagai kandidat tipe suami ideal dan sempurna. Tinggi 187 dengan berat badan proporsional, mata bulat nan tegas, hidung mancung, rahang yang kokoh, bibir tipis, Alis mata tebal, dan senyum bagaikan maut. Berbeda dengan Kyungsoo yang punya watak dingin, Jansen memiliki aura yang hangat dan ramah.


Manik-manik Kei tak henti-hentinya melirik ke arah pria yang baru saja menjadi incarannya. Kei memukul pelan lengan Hye Ra yang berada disampingnya yang sedari tadi sebenarnya fokus melihat berlian-berlian yang menggoda batinnya.


“Hei kau lihat lelaki yang diujung sana? dia melihat ke arah sini. sepertinya diamelihatku” Ujar Kei yang membuat Hye Ra penasaran dan melihat ke arah sebuah tunjukan dagu dari Kei.


Mata Hye Ra langsung membulat sempurna seakan-akan ingin keluar dan segera mengalihkan pandangannya, sama hal nya dengan Kei, ia merasa lelaki itu juga melihat ke arahnya. Padahal yang Jansen lihat adalah sosok Julia yang berada disamping mereka.


“Apa kau yakin dia melihatmu??” Tanya Hye Ra sambil berpura-pura fokus melihat ke arah panggung.


“Tentu saja, memangnya dia lihat siapa lagi?” Kei yakin banget kalau si Jansen melihat ke arahnya.


“Sepertinya yang dia lihat itu aku” Ujar Hye Ra meyakinkan Kei.


---


Setelah selesai dengan sesi perkenalan mode terbaru perhiasan, para tamu disediakan jamuan makan malam. Julia berbaur dengan para pengusaha lain dan saling berinteraksi satu sama lain. Dan dari jarak beberapa meter Jansen kembali intens mencuri pandang ke arah Julia. Sama hal nya dengan Julia, Jansen kim juga berbaur dengan kolega perusahaan lain dan saling berinteraksi berbicara mengenai bisnis yang tak ada habisnya.


Biarpun ia sedang bersama para rekan sesama pengusaha, manik-manik Jansen cukup lihai menatap wajah bening Julia.


Chen berbisik dibelakang Julia.

__ADS_1


“Nyonya, apakah anda ingin membeli satu perhiasan disini??”


“Apakah kita harus beli?” Tanya Julia.


“Rata-rata semua pengusaha disini mereka akan membeli salah satu perhiasannya. Jika nyonya tidak membelinya maka......” Chen tidak melanjutkan kalimatnya karna Julia sudah paham sendiri. Tidak mungkin seorang pemilik Kyung Group tidak membeli salah satu perhiasan yang ada di pameran ini.


“Baiklah, ambil saja satu” Sahut Julia yang langsung di anggukan oleh Chen.


---


Kei terlihat murung saat masih dilokasi acara. Ternyata lelaki yang menjadi incarannya setelah Kyungsoo dan Abe lalu kini berlanjut jadi Jansen rupanya sering curi pandang dengan atasannya. Dan itu membuatnya frustasi.


Sebegitukah???


Acara pun selesai. Semua tamu satu persatu pulang meninggalkan acara tak terkecuali Julia.


---


Rambut yang menyanggul dikepalanya dengan kacamata hitam sebagai penahan sinar matahari, tapi bukan itu saja fungsinya, melainkan sebagai penutup dari derasnya air mata yang akan menghujani pipinya.


Julia melirik dan terdiam sesaat. Dilihatnya lekat-lekat nama Kyungsoo yang terukir jelas dibatu nisan itu. Meskipun hanya sebuah batu nisan yang bertuliskan nama, namun didalamnya telah ada orang istimewa yang sudah terbujur tidur sebagai tempat istirahat terakhirnya.


“Kyungsoo ya. aku datang” Ucanya lirih. Julia kembali meneteskan air mata.

__ADS_1


“Sekarang kau dimana?? Apakah kau sudah di surga?? atau kau sedang menanggung perbuatanmu.?” Isakkan Julia cukup membuat kalimatnya menggantung untuk berusaha mengambil nafas dengan baik.


“Percayalah, aku sudah memaafkanmu” Julia menyesal, sungguh teramat menyesal. Meskipun ia masih hidup, tidaklah gampang untuk menjalani kehidupan selanjutnya. Ada seseorang yang mati karnanya. Yang seharusnya adalah dia yang terbujur dalam tanah itu melainkan orang yang dulu sudah ia khianati malah mengorbankan nyawa


untuknya.


Julia tersungkur dihadapan nisan Kyungsoo. Rasanya kakinya tidak dapat menopang badannya seketika saat emosinya berbanding kalah dengan energinya. Seakan pikirannya telah otomatis memberi isyarat agar segera kedua lututnya bersimpuh dihadapan makam Kyungsoo. Bukan karna ia teguh ataupun tegar seperti nama


orang, melainkan ia tak kuasa dengan hidupnya.


“Hukumlah aku jika kau ingin. hukumlah” Ucapnya yang begitu lirih.


Kesunyian dikala Julia seorang diri. hanya terdengar suara samar-samar angin bersama isak tangisnya. Guguran daun yang berjatuhan dari pepohonan disekitar pemakaman, cukup terlihat untuk menjadi teman dikala Julia terpuruk. Sambil menundukan kepalanya Julia memohon


“Jjebal/aku mohon. Hukumlah aku jika kau ingin, Jjebal...”Kali ini isak tangisnya naik satu oktaf dari yang sebelumnya.


Seseorang tiba-tiba menarik lengan Julia hingga si empunya tersandar dikedua dada bidang orang tersebut dan membiarkan Julia menangis histeris dihadapannya. “Huhuuuhuuu” Dengan penuh kelembutan tangannya sigap membelai kepala Julia hingga menepuk-nepuk pelan punggungnya. Kacamatanya terlepas begitu saja membiarkan


air matanya membasahi mantel kokoh Abu-abu pria tersebut.


Entah kenapa sandaran itu membuat Julia nyaman dan betah menangis ddalamnya atau karna memang Julia butuh sandaran saat ini untuk melepas rasa emosinya.


Siapakah pria itu???

__ADS_1


 


~~ Jangan lupa dukung terus novel Cerita Julia dan Korea Selatan dengan Komen. Like, Favorite dan sharingnya ya. Gumauwo.


__ADS_2