
Julia tidak menghiraukan rumah
sakit. Dia pun mulai menyadari jika adiknya ingin buku baru. karna buku
tulisnya telah habis. dia pun pergi keluar untuk membeli buku tulis. 1/5 jam
kemudian ia kembali dengan beberapa buku tulis ditangannya. Julia berjalan
cepat sambil melihat buku yang ia beli tanpa melihat jalan. Dia memeriksa isi
tas belanjanya dan baru mulai menyadari jika ada yang kurang. Dia pun mencoba
berbalik tanpa mengalihkan wajahnya melihat isi plastik dan..
Buggg !!!...........
Julia menabrak seseorang dan
kepalanya tepat tersentuh dibidang dada seorang Pria muda.
“Auu..” ketus suara kecil Julia.
Julia menabrak sesorang laki-laki
tinggi berjas hitam, kulit putih mulus dan sangat tampan . jelas sekali kalau
pria itu bukan waga negara Indonesia dan rasanya Julia sangat familiar dengan
wajah tersebut.
“ Apakah nona sudah puas melihat
wajah tampan saya ???“ Ujar Kyungsoo dengan penuh kepedean tinggal tinggi.
“ Suara ini tidak asing dan
berbahasa Korea pula” sahut Julia dalam hati.
Julia pun membalas dengan bahasa
Korea juga “Ahh Cosonghamnida/aku minta maaf.”
Julia pun segera mengambil langkah seribu
dan pergi meninggalkan laki-laki yang ia rasa mungkin ia tidak mengenalinya. dan
laki-laki itu menatap punggung Julia yang lama kelamaan menjauh dari
pandangannya.
Kyungsoo memainkan telunjuknya disamping
wajahnya menandakan kalau ia memanggil Chen untuk mendengar perintahnya. “terus
awasi dia jangan sampai lengah, keselamatan dia yang terpenting” ucap gagah laki-laki
yang mulai membuat dia mengalihkan pandangannya kepada gadis tersebut.
“Baik tuan” Jawab tegas sang
sekretaris.
Kyungsoo dan pasukannya pun kembali
melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang Aula yang sudah di set oleh menejemen
rumah sakit untuk menyambut kedatangannya.
Suara riak riuh pecah di Aula rumah
sakit lantai 8 rumah sakit. suara itu tidak akan menimbulkan kebisingan kepada pasien
__ADS_1
karna lantai itu hanya khusus ruang pertemuan saja. tidak ada kamar pasien
dilantai itu. Sementara Julia sibuk mengajari adiknya belajar.
Tutt...tut...tutt.... suara dari
alat pendeteksi jantung memberikan alarm bahwa denyut nadi melemah. gerakan
nadi irama jantung yang biasanya selalu berjalan seperi cacing kepanasan, kini
berubah menjadi datar. Pandangan Julia langsung mengalihkan ke arah sang Ibunda
yang terengap-engap menarik napas. Oh Tidak !!!
“Dokter” suara parau Julia
terdengar pilu saat berteriak memanggil dokter jaga untuk segera melihat
kondisi ibunya.
Sementara dokter Jeremi yang sedang
berada di Aula “Kringg kring kring...” tiba-tiba mendengar lalu merogoh
koceknya dan mengambil handphonenya “oke saya langsung kesana” Dokter tampan
itu langsung permisi dan beranjak dari tempat duduknya untuk segera menangani
Ibu Julia yang sedang mengalami lemah denyut jantung.
Kyungsoo yang saat itu sedang masih
di panggung aula melihat ke arah dokter tersebut dan langsung melirik ke arah
sekretarisnya. si Chen telah paham apa yang diminta atasannya. Dia langsung
mencari tahu penyebab dokter itu tergesa-gesa meninggalkan Aula. dan tak lama
denyut jantungnya lemah”
Kyungsoo rasanya ingin menghentikan
acara itu saat mendengar laporan dari Chen. dia pun langsung meninggalkan acara
dan menyerahkan sisanya kepada menejement rumah sakit.
di Ruang ICU beberapa dokter dan
perawat sibuk keluar masuk ruang ICU yang sedang melakukan tindakan kepada
Ibunda Julia. Julia dan adiknya menangis histeris melihat kritis ibundanya dari
balik jendela.
“Ibu..” Suara lirih Lexa memanggil
ibunya dengan tidak berenergy.
Julia mencoba menguatkan diri
masing-masing dan memeluk adiknya. dokter Jeremi yang sekuat tenaga memberi
pompa jantung tanpa henti selama 5 Menit berharap layar pendeteksi denyut
jantung bisa berubah normal kembali. tapi rasa lelahnya dan keringat yang
bercucuran tidak menunjukan hasil pada layar monitor. sampai akhirnya layar
monitor itu tidak menunujukan apa-apa lagi alias sudah tidak ada lagi
tanda-tanda aktifitas jantung atau bisa dikatakan jantung telah berhenti
__ADS_1
berfungsi. semua dokter dan perawat yang awalnya masih berharap-harap cemas
lalu terdiam saling memandangi satu sama lain. dokter jeremi pun tetap berusaha
memompa jantung ibunya berharap akan ada perubahan sampai salah satu dokter
memegang punggung tangannya memberi tanda kepada rekannya untuk berhenti.
Jeremi mulai melihat ke arah rekannya dan setelah itu pelan-pelan melihat ke
monitor sambil tetap memompa jantung pasiennya namun hasil keringatnya yang ia
kucurkan tidak membuahkan hasil pada pasiennya.
Hingga akhirnya dia tahu usahanya
sia-sia beberapa detik kemudian dan mulai melepaskan tangannya ditubuh Ibunda Julia.
Dokter Jeremi tertegun sesaat dan berusaha pasrah. Kyungsoo pun melihat Julia
dan adiknya yang menunggu dibalik jendela ICU dengan rasa iba.
Dokter jeremi keluar dari ruang ICU
dengan langkah yang tidak pasti. wajah kusut penuh keringat perlahan-lahan
menghampiri Julia dan adiknya hingga mereka mendekat saling berpapasan. Dan
langkah dokter itu berhenti dan berjarak 3 kaki dari Julia. Dengan wajah rasa
bersalah Jeremi melihat ke arah Julia.
“ Maafkan saya Julia” ucap jeremi
terhenti.
“ Allah telah memanggil ibumu lebih
cepat “ dengan suara sumbang.
Julia yang mendengar pernyataan
dokter itu pun tidak percaya dan langsung melihat kondisi ibunya dan berjalan
sempoyongan masuk kamar ICU tempat ibunya berada. langkah kaki kecilnya
pelan-pelan menghampiri tubuh Ibunya yang telah ditutupi seluruh kain sampai ke
kepala itu.
“Hiks.....” airmata menetes namun
langkah kakinya belum sampai di hadapan jasad wajah Ibunya.
Diikuti adiknya dari belakang.
Julia berusaha tegar meskipun airmatanya terus menetes tanpa henti membasahi
pipinya.
Julia pun pelan-pelan membuka kain
penutup wajah ibunya dan menyaksikan sendiri ibunya telah pergi meninggalkannya
dari Dunia ini bersama seorang adik disampingnya.
“Iiibbbbuuuuuuuu....” Tangis Lexa
pecah seketika menghalau kesunyiam ruang ICU.
** Kasih komen dan Love kalian buat aku dong biar aku semangat. Kamsahamnida !!! **
__ADS_1