
Anna mencengkeram bahu Saga hingga kukunya tertancap disana. Ini sungguh sangat sakit, tapi dia tidak bisa berteriak karena Saga menyumpal bibir Anna dengan bibirnya.
Mata Anna melotot setiap kali Saga menghentak kuat. Tapi rasa sakit itu perlahan hilang dan berganti dengan rasa yang sukar diungkapkan.
Bukan lagi jerit kesakitan yang dia keluarkan, melainkan desa han karena tubuhnya terasa melayang layang. Hingga akhirnya, mereka sama sama mencapai puncak.
Keduanya, baik Anna maupun Saga, masih terdiam sambil mengatur nafas. Saga menoleh, kesamping, melihat Anna yang masih memejamkan mata, meresapi apa yang baru saja mereka lakukan. Rasanya masih tak percaya, jika akhirnya, dia dan Anna melakukan sunah Rasul.
Tak ada cinta, tapi tak bisa dipungkiri, jika Saga sangat menikmatinya. Dan Anna, sepertinya dia juga sama, terbukti dari desa han yang selalu keluar dari bibirnya meski diawal merasa ketakutan.
Saat membuka mata, wajah Anna seketika memerah, malu karena Saga ternyata sedang memandanginya.
"Gimana?" goda Saga
"Apanya?" Anna pura pura tak mengerti.
"Mau lagi?"
Mata Anna membulat sempurna, segera dia menarik selimut yang awalnya sebatas dada menjadi sebatas leher. Miliknya masih terasa perih meski tak dapat dipungkiri jika tadi dia juga menikmati. Rasanya belum siap jika harus mengulang lagi.
Saga terkekeh melihat ekspresi Anna. Dia mendekatkan wajahnya pada wanita itu lalu mencium keningnya.
"Terimakasih."
Anna seperti terhipnotis dengan kata kata itu. Tak percaya jika Saga akan memperlakukannya dengan manis seperti ini. Padahal tak ada cinta diantara mereka.
Kruyuk kruyuk
Saga tak bisa menahan tawa mendengar suara yang berasal dari perut Anna. Muncul perasaan bersalah, disaat Anna lapar sejak tadi, bukannya mengajaknya makan, dia malah memakannya.
__ADS_1
"Laper." Anna mengusap perutnya yang tertutup selimut.
"Mau makan apa?"
"Kak Saga mau masakin buat aku?"
"Kan ada ponsel." Saga mencontoh apa yang tadi Anna katakan, membuat wanita itu mengerucutkan bibirnya. Ekspektasinya terlalu tinggi, berharap Saga akan memperlakukannya seperti dicerita novel, memasak untuknya.
"Mau Ramen?" tawar Saga.
Anna langsung mengangguk cepat. Ramen memang salah satu makanan favoritnya, tak menyangka jika Saga juga sama.
Saga menyingkap selimut yang menutupi setengah badannya, turun dari ranjang lalu berjalan menuju meja untuk mengambil ponsel.
Anna dibuat terbengong bengong. Bisa bisanya suaminya itu tanpa rasa malu berjalan tanpa memakai apa apa.
"Ramen aja, atau mau lainnya juga?" tanya Saga sambil membalikan badan menghadap Anna.
"Buat apa malu, toh kamu udah lihatkan tadi."
"Ya tapikan." Anna bingung menjelaskan.
Saga hanya geleng geleng sambil menatap Anna. Setelah memesan ramen, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Anna turun dari ranjang, memunguti pakaiannya dan segera mengenakannya. Dia menggigit bibir bawahnya sambil mendesis akibat perih di pusat intinya. Ternyata benar apa yang dia baca di novel. Malam pertama itu nikmat, tapi juga menyakitkan. Memang parah hingga tak bisa berjalan, hanya saja rasanya kurang nyaman saat berjalan.
Senyum Anna mengembang saat melihat bercak darah disprei. Dia bangga, setidaknya itu adalah bukti akurat jika dia masih perawan. Dia mengambil ponsel lalu memfotonya.
"Buat kenang kenangan." Anna cekikikan sambil menatap foto dilayar ponsenya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, Saga keluar kamar mandi dengan hanya memakai handuk yang dililitkan dipinggang sambil menggosok rambutnya yang basah. Badan kekarnya yang masih sedikit basah membuat Anna menelan ludah.
"Kak Saga sini." Dengan wajah bersemangat, Anna melambaikan tangannya ka arah Saga.
"Lihat ini, bukti jika aku masih perawan?" Dengan bangganya dia menunjuk sprei yang ada noda darahnya.
Astaga, aku pikir ada apa. Ternyata dia begitu bersemangat karena itu.
Saga tersenyum lalu mengacak puncak rambut Anna. "Good girl." Puji Saga sambil tersenyum. Setelah seminggu menikah, baru hari ini dia merasa beruntung menikahi Anna. Disaat jaman sekarang, banyak gadis yang sudah kehilangan kegadisannya, Anna masih bisa menajaganya.
Tak menyangka jika gadis tengil dan bar bar itu mampu menjaga kehormatannya hingga titik terakhir, yaitu malam pertama dengan suami sah.
Ting tong ting tong
Keduanya saling bertatapan saat mendengar suara bel berbunyi. Sepertinya makanan mereka sudah datang.
"Biar aku aja yang buka." Saga hendak melangkah tapi ditahan oleh Anna.
"Biar aku saja. Kak Saga kan gak pakai baju." Anna tak suka suaminya itu terlalu sering pamer badan didepan orang. Siapa tahu kali ini kurir makanannya perempuan. Bisa bisa terhipnotis sepertinya tadi.
"Yakin kamu yang buka, gak sakit?" Saga menunjuk dagu kebagian intim Anna.
"Sedikit." Anna lalu berjalan menuju pintu. Gaya jalannya yang sedikit aneh membuat Saga tersenyum geli.
Saga mengambil pakaian dialmari lalu segera memakainya. Disaat bersamaan, Anna berteriak memanggilnya. Menyuruh Saga keluar karena makanan mereka sudah sampai.
Anna sedang menyiapkan makanan saat Saga datang. Pria itu masih saja fokus melihat cara jalan Anna. Hanya sedikit berubah, tapi masih terlihat wajar.
"Kak Saga, gitu banget sih ngeliatin akunya?"
__ADS_1
"Sepertinya kamu baik baik saja. Satu ronde lagi malam ini, sepertinya tak ada masalah."