
Anna tersenyum manatap pantulan tubuhnya dicermin. Bisa bisanya Saga membuatnya mirip macam tutul. Tak hanya leher dan dada, bahkan lengan dan bagian tubuh lainnya tak lepas dari tanda merah kepemilikan. Suaminya itu sungguh luar biasa semalam. Selain kamar hotel yang dihias ala kamar pengantin, perlakuan Saga padanya juga seperti pengantin baru. Rasanya, tadi malam tak ubahnya seperti malam pertama yang kembali terulang
"Apa masih kurang?" tanya Saga yang tiba tiba memeluknya dari belakang.
Anna tersenyum, membalikkan badan lalu menyandarkan kepala didada Saga. Saat ini, memeluk pria itu dari depan rasanya sangat susah. Perut besarnya membuatnya tak bisa melakukan itu.
"Mau mandi bersama?" Tanpa menunggu persetujuan dari Anna, Saga langsung mengangkat tubuh istrinya itu dan membawanya kekamar mandi.
Keduanya berendam didalam bathtup yang penuh dengan busa. Memutar lagu cinta sambil menyalakan lilin aroma terapi. Saga duduk dibelakang Anna. Kedua lengannya memeluk perut besar itu sambil mengusapnya lembut.
"Ingin sesuatu, atau ingin kesuatu tempat hari ini? Setidaknya, sebelum aku berangkat, aku ingin membahagiakanmu."
Anna menggeleng. Saga akan berangkat nanti malam, dia tak mau membuat suaminya itu lelah. Apalagi perjalanan Jakarta ke US tidaklah sebentar.
"Aku tak ingin kemana mana."
"Ck, tidak seru."
"Aku tak mau kamu lelah Kak." Anna menoleh kebelakang, memegang rahang Saga lalu mencium bibirnya. Keduanya berciuman lumayan lama, seolah tak ada lagi hari esok dimana mereka bisa kembali berciuman.
"Aku akan selalu meneleponmu saat disana. Jaga diri dan baby baik baik." Pesan Saga saat pagutan bibir mereka terlepas.
"Pasti." Anna mengusap dada bidang Saga sambil kembali menciumnya dalam. Ciuman terus menerus dan rabaan didada membuat sesuatu yang tadinya tidur jadi terbangun. Hal menyenangkan itu tak bisa terelak. Keduanya kembali mengarungi surga dunia.
__ADS_1
Sore hari, keduanya ke rooftop hotel sesuai permintaan Anna. Meski Saga mengizinkan, bukan berarti dia membiarkan Anna melakukan apa saja disana. Dia hanya mengizinkan Anna duduk ditengah.
Duduk lesehan di roottop hotel sambil menikmati semilir angin dan sunset. Sungguh sesuatu yang membahagiakan bagi seorang Anna.
"Kau suka?" tanya Saga sambil menggenggam tangan Anna dan menciumnya.
"Hem." Anna mengangguk. "Apapun itu, jika sama Kakak, aku pasti suka." Anna menyandarkan kepalanya dibahu Saga. "Aku sangat beruntung memiliki suami seperti Kakak."
"Aku yang beruntung karena memilikimu."
Anna mengambil ponselnya, melakukan beberapa kali foto selfi dengan Saga. Foto itu sangat cantik karena berlatar pemandangan sunset yang sangat indah.
I will always miss you, my hubby
"Apa kamu masih takut melahirkan?" tanya Saga sambil mengelus perut Anna.
"Takut itu pasti ada karena tak ada melahirkan yang tak sakit. Tapi aku sudah tak memikirkan itu. Bagiku, memiliki Kakak sebagai suami, sudah sangat membahagiakan. Jika ditambah lagi dengan kehadiran baby girl, kebahagiannku pasti akan berlipat. Rasa sakit itu pasti langsung musnah saat aku melihat kebahagiaan Kakak dan wajah cantik baby girl." Mereka memang selalu menyebut bayi dalam kandungan itu dengan nama baby girl. Karena jenis kelaminnnya perempuan.
"Makasih sayang, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu." Saga mengecup kening Anna lama.
"Aku juga mencintaimu."
Kalau saja bisa, ingin sekali waktu berhenti untuk sejenak. Tapi itu tak mungkin, mereka harus mengakhiri kebersamaan itu karena Saga harus segera ke bandara.
__ADS_1
Dengan diantar papa Jeremi dan mama Luisa, mereka berangkat ke bandara. Rasanya seperti mengulang kejadian masa lalu. Tapi saat ini, rasanya jauh lebih berat karena perkiraan melahirkan Anna yang makin dekat.
"Jaga diri baik baik." Saga memeluk Anna sambil membelai rambut panjangnya.
Meski dirumah tadi sudah diwanti wanti mama Luisa agar tidak menangis, tapi tetap saja, air mata itu keluar dengan sendirinya.
"Jangan menangis, aku akan segera pulang." Saga menyeka air mata Anna. Dia bisa bilang jangan menangis pada Anna, namun dia sendiri, saat ini matanya mulai berkaca kaca.
"Ada papa dan mama, tak perlu mengkhawatirkan Anna." Tukas papa Jeremi. "Kami akan memastikan Anna dan calon anak kalian baik baik saja. Fokuslah pada pekerjaan agar lebih cepat selesai. Semoga saja anak kalian lahir saat kamu sudah pulang."
"Papa gak boleh ngomong gitu," sela mama Luisa.
"Kenapa?"
"Kalau emang sudah waktunya lahir, lebih cepat itu lebih baik, jangan nunggu bapaknya pulang dulu. Lahiran maju dari hpl itu lebih baik, karena tak terlalu lama was was. Justru kalau udah waktunya, tapi gak keluar keluar, itu yang mengkhawatirkan. Kalau memang bayi kalian lahir saat Saga tidak ada, itu sudah takdir, kamu harus ikhlas Saga. Yang penting doakan saja supaya lahirannya lancar, Anna dan anak kalian sehat walafiat, tak kurang satu apapun."
"Aamiin." Anna dan Saga mengaminkan doa mama Luisa.
"Anna itu kuat, wonder women, kamu jangan terlalu khawatir. Dulu aja saat sekolah, hobinya berantem dan selalu menang. Melahirkan pasti hal yang mudah bagi dia," lanjut mama Luisa.
Anna langsung tergelak sambil menangis. Mamanya sungguh luar biasa hebat, bisa bisanya membandingkan berkelahi dengan melahirkan.
Tak bisa berlama lama, Saga harus segera pergi. Anna melambaikan tangan sambil berusaha untuk tersenyum.
__ADS_1