
Saga dan Anna berada didalam mobil menuju rumah orang tua Anna. Dalam perjalanan, Anna terus terusan bergelayut manja dilengan suaminya. Rindu yang ditahan hampir 2 minggu akhirnya bisa terobati. Demi apapun, dia tak mau berpisah lagi, karena rindu itu sangat berat.
"Aku tuh kangen banget sama Kakak. Kenapa gak bilang kalau malam ini pulang? Tau gitukan aku bisa jemput."
Saga tak menyahuti sama sekali. Matanya terfokus kejalan, tak melirik Anna meski wanita itu mengajaknya ngobrol.
"Kak Saga kok diem aja sih?" Anna melepaskan tangannya dari lengan Saga. Menatap kesal kearah Saga dengan kedua tangan dilipat didada.
"Kakak gak kangen ya sama aku?"
"Aku lagi nyetir An, dirumah aja kalau mau ngomong."
Anna berdecak sebal. Sudah lama berpisah, tapi pas ketemu malah diam saja. Kayak gak ada rindu rindunya sama sekali.
Akhirnya mobil yang dikendarai Saga sampai juga dirumah papa Jeremi. Jika biasanya Saga akan membantu Anna membuka pintu, lalu menggandengnya, hal itu tak terjadi malam ini. Saga keluar dari mobil lalu berjalan begitu saja meninggalkan Anna.
Kok aku ditinggalin, nyebelin banget sih Kak Saga. Pulang dari China, kenapa tiba tiba berubah gini sih?
Anna menggerutu sambil berjalan memasuki rumah. Karena ini tengah malam, rumah sudah sepi, bahkan hanya sedikit saja lampu yang menyala.
Saat memasuki kamar, mata Anna seketika berbinar melihat boneka teddy dan bunga diatas ranjang. Dengan riang gembira, dia memeluk teddy itu sambil mencium aroma bunga mawar yang wangi.
__ADS_1
Romantis banget sih kak Saga.
Anna melihat kearah suaminya, pria itu tengah sibuk melepas kemejanya. Segera Anna meletakkan teddy serta bunga, berjalan mendekati Saga dan langsung memeluknya dari belakang.
"Kangen." Ujar Anna sambil menyandarkan kepalanya dipunggung Saga yang terbuka. Rasanya nyaman sekali bisa mencium wangi tubuh Saga yang sangat dia rindukan.
"Lepas Anna." Saga melepas paksa belitan tangan Anna. Berjalan menuju almari untuk mengambil baju ganti. Anna memang menyimpan beberapa baju Saga disini. Karena biasanya, dua minggu sekali mereka menginap disini.
"Kak Saga kenapa sih? Gak kangen sama aku?"
Saga membuang nafas kasar, memakai kaos lalu berbalik menatap Anna. Tapi tatapan itu tak seperti biasanya, bukan lagi tatapan penuh cinta, melainkan amarah. Menjadikan Anna gelisah tak karuan.
"Bohong." Bukannya menjawab, Anna malah mengulang kata itu, membuat Saga makin kesal.
"Kenapa bohong sama papa. Bilang jika kamu udah minta ijin sama aku?"
Anna menunduk sambil memainkan jemarinya. Tak berani menatap Saga karena dia memang salah.
"Kau tahukan, sejak kamu berstatus istriku. Kemanapun kakimu melangkah, harus atas seijinku. Lalu kenapa kamu tak meminta ijinku saat mau menginap dirumah Desi?"
Anna masih tertunduk takut. Tak ada sepatan katapun yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1
"Jawab Anna." Suara Saga mulai meninggi, membuat Anna makin gemetar ketakutan.
Saga berjalan mendekati Anna, memegang sebelah bahunya dan mengangkat dagu Anna. Dia ingin Anna menatapnya saat dia bicara. Karena mata tak akan berbohong.
"Kenapa kamu gak minta ijin dulu sama aku? Kenapa Anna?" bentak Saga.
"Mmm, Maaaf." Suara Anna bergetar. Belum pernah dia melihat Saga semarah ini. Air mata mulai turun membasahi pipinya.
Saga mengumpat pelan, kalau sudah seperti ini, mana bisa dia lanjut marah lagi. Saga paling tidak bisa melihat orang yang dia cintai menangis.
"Tidurlah." Saga melepaskan bahu Anna. Pergi kekamar mandi untuk mengguyur tubuhnya yang terasa lengket dan penat.
Anna terduduk ditepi ranjang sambil sesenggukan. Kenapa dia tadi tak minta ijin, karena sebenarnya niat awal Anna adalah pergi ke pesta Laras. Saat Pak Joko menurunkannya didepan rumah Desi, Anna segera memesan taksi menuju tempat pesta Laras.
Tapi begitu sampai didepan club, Anna ragu untuk masuk. Tidak, dia tidak boleh mengingkari janjinya pada Saga. Dia harus bisa menjaga kepercayaan suaminya itu. Akhirnya Anna memutuskan untuk kembali ke rumah Desi.
Selesai mandi, Saga melihat Anna yang masih terduduk ditepi ranjang sambil menangis.
"Tidurlah, sudah malam. Besok kamu harus kuliahkan?"
Saga merebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang. Perjalanan dari Beijing ke Jakarta tidaklah sebentar, dia sangat lelah saat ini.
__ADS_1