Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
KERIBUTAN


__ADS_3

Anna penasaran melihat orang orang berkumpul tak jauh dari tempatnya mengantri. Jiwa keponya meronta ronta, ingin mendekat untuk melihat keributan tersebut.


"Gak usah kepo urusan orang." Saga paham dengan kegelisahan Anna yang sejak tadi duduk berdiri, duduk berdiri, sambil melihat kearah keributan.


"Penasaran, kesana yuk." Rengek Anna.


"Duduk." Ucap Saga tegas, tak ingin dibantah.


Tapi bukan Anna namanya jika diam saja disaat seperti ini. Tak habis akal, dia bertanya pada sepasang suami istri yang baru saja melewati lokasi keributan.


"Ada pelakor yang dilabrak istri sah."


Mata Anna seketika membulat sempurna mendengar penjelasan orang tersebut. Dia yang memang benci pelakor, mengepalkan tangan kanannya lalu memukulkan pada telapak tangan kirinya. Ikut gemas dan ingin membantu mengahajar pelakor itu.


"Kita kesana." Anna menarik kasar lengan Saga. Tak pelak pria yang sedang duduk itu terpaksa berdiri.


"Itu bukan urusan kita sayang." Saga mendesis sebal. Dia memang tak berminat sama sekali mengurusi urusan orang lain, apalagi yang tidak dia kenal. Menurutnya hanya buang buang waktu saja.


"Ini urusanku juga." Sahut Anna menggebu gebu.


"Urusanmu?" Saga mengernyit bingung.


"Seluruh pelakor didunia ini, musuh bagi istri sah, itu artinya musuhku juga. Kita harus kesana, akan aku bantu wanita itu menghajar pelakor. Akan aku musnahkan seluruh pelakor dimuka bumi ini. Geram sekali, padahal suami orang yang diambil. Kalau suamiku, aku pas_"


"Gak akan berani." Potong Saga cepat. "Orang istrinya galak kayak kamu."


Anna seketika tergelak mendengar penuturan Saga.


Saga dan Anna mendekati keributan itu. Mengingat Anna yang suka berkelahi, dia mewanti wantinya untuk tidak ikut campur. Jangan sampai dia dan baby kenapa napa.

__ADS_1


Sementara di tkp, Bian melepaskan jasnya. berjongkok lalu menggunakan jas tersebut untuk menutupi kepala Kalani yang terbuka karena hijabnya hilang entah kemana. Kedua tangannya mengepal mendengar tangis pilu gadis yang tak tahu apa apa itu. Dia kembali berdiri sambil menatap tajam Tari. Giginya bergemeretak karena emosi.


Sedangkan Tari, dia menangis sambil memegangi pipinya yang panas. Banyak sekali ucapan simpati yang tertuju padanya. Kesempatan itu tidak dia sia siakan. Semakin dia menangis pilu untuk menarik simpati orang terutama emak emak.


"Tega kamu menamparku demi pelakor itu Mas." Tari menatap nyalang kearah Kalani yang berjongkok dilantai sambil menutupi kepalanya dengan jas. Dia tak bisa berbuat banyak, kabur dari sana, takut malah diserang emak emak karena benar benar dianggap pelakor.


"Pulang, kita selesaikan masalah kita di rumah." Bian tak mau masalah rumah tangganya jadi konsumsi publik. Ditambah lagi, ada gadis tak tahu apa apa yang jadi korban.


"Kenapa tidak kita selesaikan disini sekarang? Apa kau takut aku melukai simpananmu itu? Oh, jangan jangan dia hamil, makanya kalian mendatangi poli kandungan?" Tari tersenyum sinis.


"Ibu ibu sekalian." Tari menatap kearah para penonton. "Kalian jangan mudah tertipu, pelakor jaman sekarang berwajah polos, sok alim dengan mengenakan hijab, padahal hatinya busuk."


"Betul, betul." Sahut para penonton.


"Cukup Tari," bentak Bian.


Anna dan Saga yang tiba disana langsung menatap kearah pelakor tersebut. Sayanganya mereka tak bisa melihat wajahnya karena tertutup jas.


"Dia bukan wanita itu."


Tari menyeringai mendengar ucapan Bian. Jelas dia tak percaya begitu saja. Dia seperti berada diatas angin sekarang. Istri sah melabrak pelakor, sudah pasti dia banyak dukungan. Daritadipun sudah terdengar banyak sekali dukungan dari ibu ibu untuknya. Bahkan tak sedikit yang bersuara memintanya menghajar pelakor itu. Sepertinya emak emak disana juga ikutan geram.


Bian mendekati Tari lalu mencengkeram lengannya kuat. Dia membisikkan sesuatu yang tidak bisa didengar oleh semua orang.


"Pulang sekarang juga." Tatapan tajam serta ancaman yang baru dibisikkan itu membuat Tari takut. Akhirnya wanita itu memilih pergi.


"Yah...kok pergi sih Mbak, hajar dong pelakornya, jangan takut." Anna berteriak sangat keras, hingga semua orang disana menatapnya.


"Anna." Desis Saga sambil menarik lengan Anna dan memelototinya. "Aku bilang jangan ikut campur."

__ADS_1


Anna hanya nyengir, habis dia geregetan sekali dengan yang namanya pelakor.


Kalani yang hafal suara Anna langsung mengangkat wajahnya.


"Kak Saga." Sayang panggilannya tak terdengar karena kebisingan emak emak yang kecewa. Anna dan Saga juga sedang tak melihat kearahnya.


Bian menghampiri Kalani lalu membantunya berdiri.


"Kau tidak apa apa?" Dia sungguh merasa bersalah atas apa yang menimpa gadis itu. Apalagi melihat Kalani yang gemetaran hebat dan wajahnya pucat.


Anna geram sekali melihat adegan didepannya. Bisa bisanya istri sah pulang dengan kekalahan dan pria itu menolong selingkuhannya.


"Ayo kita pergi," ajak Saga.


"Tunggu, aku ingin lihat seperti apa wajah pelakor itu. Wajahnya harus benar benar aku ingat agar tak dekat dekat dengan kamu."


Saga membuang nafas kasar sambil geleng geleng. Apakah semua istri didunia ini seperti istrinya?


"Ayo." Saga menarik lengan Anna, dia tak mau kelewatan giliran hanya karena urusan orang lain.


"Tunggu." Anna menahan lengan Saga saat melihat pelakor tersebut mengangkat wajahnya. "Kalani!" Rasanya dia mau pingsan saat tahu pelakor itu adalah adik iparnya.


Mendengar Anna menyebut nama adiknya, Saga langsung membalikkan badan. Sama seperti Anna, dia syok saat tahu jika wanita itu adalah Kalani.


Sementara Bian, dia cemas melihat tubuh Kalani yang mengalami tremor dan pucat pasi.


"Kalani, kau baik baik saja?"


Tubuh Kalani tiba tiba oleng, beruntung Bian bisa menahan tubuh itu hingga tak sampai terjatuh kelantai, melainkan jatuh ke pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2