
Anna tersenyum saat Saga menggandengnya keluar dari toko kue. Sayang, kata itu terus terngiang dikepalanya. Apakah mungkin Saga sudah jatuh cinta padanya? Anna menoleh kesebelah. Menatap Saga dari samping sambil tersenyum.
Ternyata Kak Saga ganteng banget.
"Kamu itu bisa gak sih, sebentar aja gak bikin masalah. Hobi banget berantem. Gak di cafe gak di mall, berantem mulu kerjaan kamu."
Saga terus nyerocos, tanpa tahu jika Anna sama sekali tak mendengarkannya.
"Jangan bilang kalau kamu berantem gara gara rebutan Evan?"
Merasa tak ada tanggapan, Saga menoleh kesamping. Dia melihat Anna senyum senyum sendiri sambil menatap genggaman tangan mereka.
Astaga, jangan jangan sejak tadi dia ngelamun dan gak denger aku ngoceh?
Saga seketika menghentikan langkahnya, tak pelak, Anna-pun ikut berhenti lalu menatap Saga.
"Kenapa kamu senyum senyum?"
"Hah!" Anna gelagapan mendapatkan pertanyaan tiba tiba itu.
"Kamu gak lagi ge er kan gara gara tadi aku panggil sayang?"
Anna kaget karena Saga seperti bisa membaca pikirannya. Jujur saja dia memang sedang ge er, tapi terlalu gengsi untuk mengakui.
"Aku cuma akting tadi. Itung itung balas budi karena dulu kamu pernah bantu aku didepan Rania."
Entah kenapa, ada rasa kecewa dihati Anna.
"Ya, aku tahu. Sangat tahu." Anna pura pura jutek. Pura pura jika dia tak ge er dan tak kecewa saat tahu yang sebenarnya.
"Ya udah ayo pulang, kita langsung kerumah mama."
Mendengar Saga menyebut nama mama, Anna seketika teringat sesuatu. Kue, ya, kue tadi belum sempat dia bawa, masih tertinggal dimeja kasir.
"Kenapa?" tanya Saga.
"Kue....nya, ketinggalan."
Saga menggaruk garuk kepalanya. Kali ini tak bisa dia menyalahkan Anna karena dialah yang tiba tiba menarik cewek itu keluar.
__ADS_1
"Sudahlah, kita gak usah bawa apa apa," pungkas Saga.
"Tapi aku gak enak sama mama Kak. Seenggaknya aku harus membawa buah tangan saat berkunjung kerumah mertua. Ditambah lagi mama sedang sakit, mana mungkin aku datang dengan tangan kosong."
Saga menghela nafas. Ribet sekali sih pemikiran perempuan. Kemana mana harus bawa buah tangan. Padahal dia tahu jika mamanya tak mengharapkan itu, hanya mengharap kedatangan mereka.
"Kita nyari dulu ya Kak, aku gak enak gak bawa buah tangan."
"Kamu udah bawa buah, udah ayok." Saga menarik tangan Anna menuju eskalator yang tak jauh dari mereka.
Anna memperhatikan kedua tangannya bergantian. Kosong. Bagaimana mungkin Saga mengatakan dia membawa buah?
"Gak usah dipikirin." Saga tahu jika Anna sedang bingung saat ini.
"Perasaan aku gak bawa buah." Anna masih saja memikirkannya.
"Tuh." Saga menunjuk dagu ke arah dada Anna, membuat gadis itu langsung menyilangkan kedua lengan didadanya.
"Kak Saga mesum." Seru Anna sambil melotot. Dia tak menyangka jika suaminya yang kaku dan dingin itu, bisa berkata demikian. Dia lupa jika saat ini sedang berada ditempat umum. Ucapannya yang lumayan kencang tadi membuat perhatian orang di eskalator seketika tertuju padanya dan Saga. Bahkan beberapa orang yang ada didepan mereka langsung menoleh kebelakang.
Melihat Anna menutupi dada dan berseru demikian, tak pelak membuat mereka perfikiran negatif
"Dia istri saya Bu." Buru buru Saga merangkul bahu Anna sambil tersenyum kecut. Takut dikeroyok masal gara gara dikira mau melecehkan. Sedangkan Anna, dia tersenyum absurd dengan muka merah padam karena malu.
Sesampainya dibawah, Saga langsung menarik Anna kepintu keluar. Seharian ini dia benar benar dibuat lelah tenaga dan fikiran oleh Anna. Tak henti henti istrinya itu bikin ulah.
Saga melajukan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Sesampainya disana, dia dan Anna langsung menuju kamar mamanya.
Mila, wanita itu begitu senang melihat anak dan menantunya datang. Tubuh yang seharian ini terasa lemas, mendadak seperti mendapatkan kembali tenaga.
"Maaf ya Mah, kami tidak bawa apa apa." Anna merasa sangat sungkan.
"Tak masalah sayang. Kalian datang kesini saja, mama sudah seneng banget."
Mereka lalu mengobrol. Mila menanyakan bagaimana rumah tangga mereka setelah pindah. Sebenarnya dia berharap Anna dan Saga tinggal dirumahnya, tapi dia tak mungkin melarang saat mereka mau mandiri.
Tak lama kemudian, Elgar datang. Dia senang melihat istrinya kembali tersenyum dan terlihat lebih segar.
"Yang dikangenin datang, langsung sehat kayaknya?"
__ADS_1
Saga dan Anna segera menghampiri papanya untuk mencium tangan. Setelah itu mereka memberi tempat sang papa untuk duduk disebelah mama.
"Mau aku bikinin kopi mas?" tawar Mila. Dia tahu jika suaminya itu hanya mau minum kopi buatannya.
"Gak usah Ma, kamu kan lagi sakit."
"Gimana kalau Anna aja yang bikinin Pah, sekalian bikinin buat Kak Saga juga?"
Saga seketika tersedak ludahnya sendiri. Bisa bisanya wanita yang tak bisa apa apa itu menawarkan membuat kopi. Sejak menikah saja, belum pernah Anna membuatkannya minuman.
"Boleh, papa juga pengen ngerasain kopi bikinan mantu."
Mendengar itu Anna langsung bangkit dari duduknya. Wajahnya tampak bersemangat, entah apa yang ada diotaknya saat ini.
"Gulanya jangan banyak banyak sayang, papa gak suka manis. Dan jangan pakai air dispenser." Mila mengingatkan.
Anna mengangguk lalu keluar kamar menuju dapur.
Perasaan Saga jadi tak tenang. Ingat seperti apa kejadian saat mereka masak dulu, dia sangat yakin jika seumur hidup, Anna tak pernah bikin kopi. Jangan jangan bedanya gula dan garam saja, dia tidak tahu. Kalau sampai ada kejadian kopi asin, mamanya bakal tahu jika dulu, Anna hanya pura pura saja bisa masak.
"Saga ke toilet bentar ya Mah." Saga beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju pintu keluar.
"Mau kemana?" Pertanyaan mamanya menghentikan langkah Saga. "Dikamar mama juga ada toilet, ngapain keluar?" Mila tersenyum melihat wajah resah Saga. Dia tahu jika Saga hanya beralasan.
"Kamu khawatirin Anna? Biarkan saja dia belajar Ga."
Saga terkejut mendengar penuturan mamanya.
"Mama sudah tahu jika Anna itu belum bisa masak, juga belum bisa melakukan pekerjaan rumah apapun. Ibu Luisa yang memberi tahu mama."
Saga kembali ketempat semula, duduk disebuah kursi didekat ranjang mamanya. Mila meraih tangan Saga lalu menggenggamnya.
"Belum bisa bukan berarti tidak bisa. Mama yakin, suatu saat dia pasti mau belajar. Kuncinya, kamu harus sabar."
Kalau tadi Saga yang perasaannya tidak enak, sekarang gantian papanya. Mendadak dia takut jika Anna akan memberikannya kopi rasa aneh.
"Nanti bagaimanapun rasa kopinya, kalian berdua pura pura enak saja. Jangan bikin Anna down dan gak mau belajar. Minum sampai habis biar dia senang."
"WHAT!" Pekik Saga dan Elgar bersamaan. Yang benar saja, masa mereka harus menghabiskan kopi yang masih belum ada kejelasan tentang rasanya itu.
__ADS_1