
Setelah Anna dan Saga keluar, ketiga teman Putri langsung berebut masuk bilik toilet sampai desak desakan dipintu. Bukan karena kebelet buang air, melainkan kebelet mengambil ponsel milik Anna. Mereka bahkan tak ingat jijik lagi. Tangannya terulur untuk kedalam kloset demi ponsel apel krowak.
Putri dibuat melongo, sungguh teman tak ada akhlak. Sudah berkhianat, sekarang membiarkan dia yang basah kuyup dan kedinginan tanpa perasaan. Tak ada satupun yang berniat menanyakan keadaannya apalagi menolongnya.
"Ini milik gue."
"Enak aja, gue duluan yang ambil."
Dua orang malah sibuk tarik menarik ponsel sambil berdebat siapa yang lebih berhak. Padahal dibilik sebalah, ada ponsel Putri yang nganggur, tapi tak ada yang mau mengambil.
Kedua tangan Putri mengepal kuat, kesal pada teman temannya. Tapi dia masih harus menunggu dosen keluar sebelum mengamuk pada mereka.
Melihat dosen wanita keluar dari bilik toilet, Putri berusaha senyum seolah olah tak terjadi apa apa barusan. Setelah dosen keluar, dia siap untuk meledak.
"Heh kalian, dasar pengkhianat, bisa bisanya kalian melakukan ini padaku?" Putri berteriak sambil menghentak hentakkan kakinya kelantai.
Bukannya merasa bersalah, mereka malah sibuk menghidupkan ponsel Anna. Tapi karena terlalu lama terendam dalam air, ponsel tersebut mati. Tapi mereka masih berharap bisa nyala setelah dikeringkan.
"Dimana rasa setia kawan kalian hah? Bisa bisanya kalian malah berpihak pada Anna hanya gara gara uang."
"Gak usah berisik." Sahut salah satu teman Putri. "Kita itu cuma realistis. Daripada bantuin lo gak dapat apa apa, mending batuin Anna dapat 6 juta."
"Betul banget," sahut lainnya.
Hati Putri makin dongkol mendengarnya.
"Astaga, jadi kalian mengabaikan persahabatan hanya demi uang?"
"Tenang, kita gak mengabaikan lo kok. Ntar kalau transferan dari Anna masuk, kita bakal ngasih bagian buat lo."
"Kalian gak bohongkan, awas kalau bohong."
Ketiga teman Putri menyebikan bibir. Tadi aja ngatain gak setia kawan, sekarang giliran mau dikasih bagian, langsung girang. Mereka sudah hafal dengan sifat Putri.
.
__ADS_1
.
.
Sedangkan didalam mobil, Anna menggigil kedinginan meski dia sudah memakai jas milik Saga.
"Kak, dingin." Suara Anna sampai bergetar.
Melihat Anna yang pucat dan bibirnya membiru, Saga segera menepikan mobilnya lalu berhenti. Melepas sabuk pengaman lalu membuka satu persatu kancing kemejanya. Anna yang melihat itu hanya bisa bengong.
"Cepat buka baju kamu."
"Hah." Mata Anna membulat sempurna dan sebelah tangannya menutupi mulutnya yang menganga.
"Buraan Anna, katanya dingin."
Anna tak habis pikir, bisa bisanya Saga mengajaknya melakukan itu didalam mobil, dipinggir jalan raya seperti ini. Kaca mobil mereka memang tak tembus pandang, tapi bagaimana jika ada yang curiga melihat mobil bergoyang?
"Kak, emang harus dengan ngelakuin itu ya biar aku gak kedinginan?"
"Itu..." Anna menggigit jari telunjuknya karena malu mengatakannya secara gamblang.
Saga menepuk dahinya sendiri. Sepertinya Anna salah paham. Setelah membuka semua kancing kemejanya, Saga segera melepaskan kemeja itu dari tubuhnya. Menyisakan kaos dalam berwarna putih.
"Lepas bajumu yang basah lalu pakai ini." Saga menyodorkan kemejanya kearah Anna.
Anna melongo lalu tersenyum absurd. Sumpah, dia malu banget karena dikira mau diajak sunah Rasul didalam mobil.
"Kok malah bengong, katanya dingin. Minta dibantuin ngelepas?"
Anna menggeleng cepat. Sudah cukup dia malu karena salah paham tadi, tak mau bertambah malu dengan menyuruh Saga membantunya melepas baju.
Saga kembali melajukan mobil, sementara Anna mulai melepas pakaian basah yang menempel ditubuhnya. Tapi saat tinggal pakaian dalam, mendadak dia ragu.
"Sekalian itu juga, kan basah."
__ADS_1
Anna akhirnya melepas semuanya lalu mengenakan kemeja biru muda milik Saga. Rasanya aneh, semriwing karena dia tak memakai apapun dibalik kemeja itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi tadi?" Saga merasa janggal dengan penjelasan Anna pada dosen tadi. Tak mungkin jika temannya ulang tahun, Anna malah ikutan basah kuyup sementara yang 3 orang tidak. "Dan ponsel siapa yang tadi kamu pakai buat nelpon Kakak? Dimana ponsel kamu?"
"Em...."Anna memainkan jemarinya, ragu untuk menceritakan yang sesungguhnya.
"Kamu bisa membohongi semua orang, tapi tidak dengan aku Anna." Saga melirik tajam kearah Anna.
"Em....tadi itu.." Anna akhirnya menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup tutupi. Saga sampai menahan nafas saat Anna bilang tubuhnya dipegangi dua orang lalu disemprot air. Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya dan janin dalam kandunganya.
"Kenapa kamu berbohong pada dosen tadi?"
"Aku sudah membalasnya Kak, aku rasa itu sudah cukup."
"Tapi aku tak bisa terima itu An." Rahang Saga tampak mengeras. Istrinya dibulli, jelas dia tak bisa diam saja.
Anna meraih tangan Saga lalu menggenggamnya. Dia ingin meredakan emosi suaminya. "Sudahlah Kak, aku baik baik saja."
"Tapi bagaimana kalau mereka mengulangi perbuatannya lagi?" Saga menatap tajam Anna sebentar lalu kembali fokus kejalanan.
"Mereka tak akan berani."
"Tidak ada jaminan mereka tak melakukan lagi Anna."
"Aku bisa menjaga diri Kak. Kakak gak usah khawatir." Anna melingkarkan tangannya dilengan Saga lalu menyendarkan kepalanya di lengan kokoh itu.
"Masalahnya saat ini bukan hanya kamu Sayang, tapi ada baby diperut kamu. Aku tak mau terjadi apa apa pada kalian berdua."
Hati siapa yang tak terbang melayang jika dicemaskan seperti itu. Anna benar benar merasa beruntung karena memiliki suami seperti Saga.
Melihat Saga yang hanya mengenakan kaos dalam yang ketat, tiba tiba timbul gejolak dalam diri Anna. Dia yang tersaga saga tak bisa desiran darahnya.
"Apa kakak tidak dingin tak pakai baju?" Bisik Anna dengan nada sedikit sensual. Tanganya mulai bergerak meraba dada bidang suaminya.
"Berhenti Anna, jangan nakal."
__ADS_1