
Meski berat membiarkan Anna berjuang sendiri, tapi Saga tetap menuruti kemauan mama Luisa. Mungkin sebaiknya memang dia tetap disana agar bisa menemani Anna melalui video call.
Dan saat ini, matanya sedang berkaca kaca saat melihat Anna yang meringis karena kontraksi. Rasanya, dia seperti ikut merasakan juga sakitnya.
Ya, Anna sudah memasuki pembukaan 3 saat tengah hari. Dan sepertinya, pembukaan berikutnya akan lebih cepat lagi.
Anna tersenyum saat melihat Saga menyeka air matanya. "Aku saja tak menangis, kenapa Kakak malah yang nangis?"
"Apakah sangat sakit?"
Anna menggeleng. "Hanya mules dikit, kayak habis makan cabe." Cabe segentong maksudnya, lanjut Anna dalam hati.
"Hebat."
"Maksudnya?" Anna menggigit bibir bawahnya sambil memegangi pinggang saat kontraksianya datang lagi.
"Saat kesakitanpun, masih bisa bisanya tersenyum dan becanda."
"Kau lupa, Anna itu wonder women." Mama Luisa yang tengah memijit pelan punggung Anna ikut bersuara. Dia berusaha menciptakan suasana serileks mungkin agar Anna tidak tegang dan seuanya berjalan cepat dan lancar.
"Benar sekali Mah. Anna kita adalah wonder women. Dan sebentar lagi, dia akan menjadi super mom," sahut Saga.
Anna tergelak mendengar itu.
"Kau dengar itukan baby girl. Mamamu ini seorang supermom, jadi ayo kita berjuang bersama agar segera selesai dan kamu bisa melihat dunia." Anna mengusap usap perutnya.
Panggilan dari Saga terpaksa dihentikan karena ada panggilan masuk dari mama Mila. Baru melihat wajah Anna, wanita sudah menangis dan mengatakan maaf berkali kali.
__ADS_1
"Mama gak perlu minta maaf. Anna yang harusnya minta maaf. Karena mungkin, Anna banyak salah sama mama."
Mila menggeleng cepat sambil menyeka air matanya. "Maaf karena membuat kamu harus lahiran tanpa didampingi Saga." Dia jadi teringat seperti apa sedihnya dia dulu saat melahirkan Saga.
Anna menggeleng cepat. "Aku ditemenin Kak Saga kok Mah. Dari tadi kami terus berinteraksi lewat video call. Mama jangan merasa bersalah. Anna baik baik saja." Mati matian Anna menahan tangis. Karena sesungguhnya, dia sedang tak baik baik sekarang. Dia memang bisa melihat dan mendengar suara Saga. Tapi dia tak bisa menyentuhnya langsung.
"Mama doakan semoga lahirannya lancar. Kamu dan baby sehat, tak kurang satu apapun. Mama menyayangimu Anna. Mama beruntung memiliki menantu hebat sepertimu."
"Aamiin." Detik itu juga, tangis Anna pecah. Rasanya dia tak pantas dipuji seperti itu. Dia sadar diri jika selama menjadi istri Saga, belum bisa berbuat banyak untuk keluarga suaminya itu. "Harusnya Anna yang bilang seperti itu Mah. Anna beruntung memiliki mertua yang sangat baik seperti mama dan papa El. Anna juga beruntung memiliki adik ipar seperti Kalani. Anna sayang kalian semua."
Anna mengakhiri panggilan dari Mila saat merasakan kontraksi yang makin hebat. Jarak kontraksinya dekat dan waktunya lama.
"Awww....sakit Mah." Anna merasakan desakan dari dalam. Rasanya dia sudah ingin mengejan. Dia menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan.
"Jangan mengejan dulu Bu, belum waktunya." Suster kembali melihat, ternyata sudah hampir lengkap pembukaannya. Segera dia mempersiapkan alas dan keperluan lainnya untuk melahirkan.
"Awwhhh." Tubuh Anna melilit lilit tak karuan menahan sakit yang begitu hebat. Disaat bersamaan, Saga kembali menelepon.
"Sayang, kamu baik baik saja?" Saga bisa melihat raut kesakitan diwajah Anna.
"Aku baik baik saja Kak. Aww.." Anna merintih sambil meliuk liuk tak karuan. Kali ini, dia tak bisa pura pura baik baik saja didepan Saga.
Saga tak tega melihat kesakitan Anna. Dia memejamkan mata sambil terus berdoa agar bayi mereka segera lahir.
"Tahan Anna, tahan. Inhale, exhale. Jangan mengejan dulu." Mama Luisa memperingati.
"Baby girl udah mau melihat dunia ya. Keluarlah segera sayang." Saga sungguh tak tega melihat kesakitan yang dirasakan Anna. "Papa melihatmu dari sini. Papa sayang kamu."
__ADS_1
"Pembukaannya sudah lengkap Bu. Silakan ikuti instruksi saya." Ujar dokter wanita yang menangani Anna.
Anna mengangguk paham. Mungkin ini puncak dari perjuangannya. Dia harus segera mengeluarkan baby girl agar tertebas dari sakit itu.
"Tarik nafas dalam dalam, buang dan dorong."
"Emmpptt..." Anna berusahan melakukan sesuai instruksi.
"Tidak apa apa Bu, kita coba lagi. Ingat, jangan berteriak."
Entah sudah keberapa kali Anna melakukan itu tapi belum berhasil juga. Keringatnya mengucur deras. Rasanya lelah sekali, tapi perjuangannya belum selesai.
"Ayo sayang, kamu pasti bisa." Saga tak henti hentinya menyemangati.
Anna melihat kelayar ponsel setiap dia selesai mengejan. Dia bisa melihat ketegangan diwajah suaminya. Dan tak hanya itu, suaminya itu berkali kali terlihat menyeka air mata.
"Ayo Bu kita coba lagi."
Anna mengangguk.
'Kamu pasti bisa sayang. Aku mencintamu, sangat mencintaimu.
"Dorong."
"Emmmpptt....." Anna mendorong sekuat tenaga hingga akhirnya.
"Alhamdulilah." Terdengar suara lega dokter dan dua orang suster. Dan tak lama kemudian.
__ADS_1
"Oek oek oek." Air mata Anna meleleh mendengar tangis bayinya. "Anak kita sudah lahir Kak." Ucapnya sambil menetap kearah ponsel.
Saga tak bisa berkata kata. Dia hanya mengangguk sambil menyeka air mata yang terus terusan mengalir. Ingin sekali dia memeluk Anna, mencium keningnya dan mengucapkan terimakasih, sayangnya, dia tak bisa melakukan itu.