
Tak terasa, sudah 6 bulan Yuni menjadi art diapartemen Anna. Dia tak jadi memecat Yuni karena kerja Yuni sangat bagus. Apartemen selalu bersih, tak pernah ada cucian menumpuk dan masakanya juga lumayan enak. Selain itu, tak ada tanda tanda tak baik yang dia tunjukkan. Bahkan sekarang, Yuni semakin dekat dengan Anna. Sering mengajari Anna memasak serta menjadi pendengar setia saat Anna mengomel karena dosen yang menyebalkan atau tugas kampus yang banyak.
"Non Anna, ini airnya udah mendidih." Yuni memanggil Anna yang sedang berada dikamar. Tadi Anna memang menyuruh Yuni merebus air karena dia handak membuatkan kopi untuk Saga.
"Iya mbak, bentar." Anna keluar kamar lalu menuju dapur. Diraciknya kopi untuk sang suami tercinta lalu menuang air mendidih kedalam cangkir tersebut. Urusan membuat kopi untuk Saga, itu hak mutlak Anna. Dia tak mengijinkan Yuni melakukan itu sama sekali, dan Yuni sangat paham itu.
"Non Anna kok gak makan malam? Emang gak lapar, biasanya makannya banyak." Yuni melihat makanan yang dia siapkan tadi tak tersentuh sedikpun.
"Lagi pengen makan mie aceh Mbak. Ini lagi nungguin Kak Saga." Jawab Anna sambil mengelus perutnya yang sudah membesar diusia kandungan 7 bulan lebih. Beberapa hari yang lalu, dia mengadakan acara 7 bulanan di rumah mama Luisa.
"Tumben Pak Saga belum pulang jam segini?"
"Lembur Mbak, tapi katanya tadi udah otw, mungkin bentar lagi sampai."
Benar apa yang dikatakan Anna, tak lama kemudian Saga pulang. Pria itu terlihat lelah karena hari ini banyak sekali kerjaan bahkan pulang hampir jam 10 malam.
Anna membawakan tas Saga, mengajaknya duduk disofa ruang keluarga lalu mengambilkan kopi untuknya.
"Makasih sayang." Ujar Saga sambil menerima kopi tersebut. Menyeruputnya sedikit lalu meletakkan diatas meja.
"Hallo baby girl, papa kangen banget sama kamu." Saga mengelus perut buncit Anna lalu menciumnya.
__ADS_1
Seperti paham dengan sapaan papanya, bayi diperut Anna langsung bergerak, menendang nendang hingga Anna meringis kesakitan. Saga mengusapnya lembut hingga baby dalam perut berhenti menendang.
"Sepertinya dia langsung girang papanya pulang," ujar Anna.
"Kamu udah makan?"
Anna menggeleng. "Lagi pengan makan mie aceh."
"Kenapa gak DO?"
Lagi lagi Anna menggeleng. "Pengen makan diluar sama Kakak." Jawabnya sambil bergelayut manja dilengan Saga.
Mobil yang dikendarai Saga mulai membelah jalanan, menuju kedai mie aceh langganan mereka. Sayang karena udah malam, mereka kehabisan. Terpaksa Saga muter muter mencari kedai lain demi Anna dan anaknya. Beruntung dia menemukan kedai mie aceh yang masih buka.
"Kenapa?" tanya Saga yang melihat Anna hanya makan sesendok lalu berhenti.
"Gak enak. Enak yang ditempat biasanya."
"Kan udah habis disana. Udah makan yang ini aja."
Anna menggeleng. "Kita cari kedai lain saja yuk Kak."
__ADS_1
Saga menghela nafas berat sambil meletakkan sumpitnya. Biasanya dia memang selalu menuruti semua kemauan Anna, tapi malam ini, dia sangat lelah. Banyak masalah dikantor hari inu, membuatnya lelah fisik dan pikiran.
"Kita delivery order aja ya kalau gitu." Saga memberikan penawaran.
"Mau makan ditempat." Rengek Anna.
"Ya udah ayo." Saga kembali menghela nafas berat lalu beranjak dari tempat itu untuk mencari tempat lain. Tapi setelah cukup lama muter muter, mereka tak menemukan kedai yang masih buka.
"Kita pulang aja ya, Kakak capek banget." Saga menguap sambil memijit mijit bahunya yang terasa pegal.
"Tapi aku masih lapar Kak."
Saga berdecak pelan lalu kembali melajukan mobilnya. Bukan mencari mie aceh, melainkan pulang.
"Kok pulang?" Anna mengernyit bingung saat menyadari mobil yang mereka tumpangi melewati jalanan pulang.
"Besok aja kita beli mie aceh ditempat langganan. Ini udah malam, kita pulang aja, Kakak capek banget."
Anna yang merasa ngidamnya belum keturutan langsung melipat kedua lengannya didada sambil cemberut.
"Gampang banget nyerah, gak mau usaha memenuhi keinginan istri yang lagi ngidam," gerutu Anna pelan.
__ADS_1