Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
DICORET DARI DAFTAR WARIS


__ADS_3

Pagi pagi, Luisa sudah datang keapartemen Anna. Wajah wanita itu terlihat sangat bahagia. Ditangannya ada dua kantong keresek besar berisi makanan dan buah buahan.


"Dasar anak nakal." Luisa meletakkan barang bawaannya diatas meja lalu menjewer telinga Anna.


"Mama apa apaan sih." Protes Anna sambil berusaha melepaskan telinganya dari jeweran Luisa.


"Kenapa gak bilang sama mama kalau kamu hamil? Malah Umi nyai yang orang lain kamu ceritain."


Anna menelan salivanya susah payah. Tak menyangka jika kebohongannya dua hari yang lalu berujung salah paham seperti ini.


"Untung umi nyai cerita sama mama. Mama jadi kayak orang bodoh tau gak, anaknya hamil malah gak tau apa apa. Ini, Mama bawain bahan makanan, cemilan dan buah buahan yang banyak. Mama gak mau calon cucu mama kekurangan gizi."


Anna membuka kresek yang tadi dibawa mamanya. Benar saja, banyak sekali stok makanan dan buah disana. Lumayan, dia tak perlu keluar uang buat makan seminggu ini.


"Mama sudah bilang sama Bi Ningsih. Mulai besok, dia setiap hari kesini, gak dua hari kayak biasanya. Dia mama larang pulang sebelum suamimu pulang. Pokoknya mama gak mau sampai terjadi sesuatu sama cucu mama. Kamu gak boleh sendirian diapartemen."


Anna tersenyum kecut. Sampai segitunya antusias mamanya untuk menyambut cucu. Bagaimana kalau ketahuan dia hanya berbohong?


Mendengar suara berisik diluar, Saga yang saat itu sedang bersiap siap kekantor, keluar untuk melihat siapa yang datang. Melihat mertuanya datang, segara dia mencium takzim punggung tangannya.


"Kamu juga Ga, kompak banget sama Anna. Istri hamil kok gak cerita cerita kemama. Ngomong ngomong, mama kamu udah tahu belum?"


"Hamil?" Gumam Saga sambil menyentuh keningnya. Bingung kenapa mertuanya sampai mengira Anna hamil.


"Jangan jangan orang tua kamu juga belum tahu ya?" tebak Luisa.


"Oh iya, mama hampir lupa. Ada titipan dari papa kamu."


Luisa membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah kartu sakti dari dompetnya.

__ADS_1


"Dari papa, hadiah kehamilan kamu. Bebas, mau kamu gunain buat apa saja." Mata Anna langsung berbinar melihat kartu tersebut. Ini jelas bukan miliknya dulu. Melihat jenis kartunya, jelas limitnya fantastis.


"Tapi An_" Anna buru buru menginjak kaki Saga saat suaminya itu hendak menceritakan yang sebenarnya.


"Makasih ma." Anna langsung menyambar kartu tersebut lalu memeluk mamanya. Kapan lagi coba, dapat rejeki nomplok seperti ini.


Saga menghela nafas, pusing melihat kelakuan Anna yang suka sekali bikin ulah. Padahal kemarin sudah dia marahi karena berbohong pada Rania dan umi, nyatakan bukannya kapok, dia malah kembali mengulangi.


"Sebentar ya Ma, Saga mau bicara dengan Anna dulu." Saga menarik lengan Anna setelah wanita itu melepaskan pelukkanya pada Luisa. Dia membawa Anna masuk kedalam kamar agar bisa leluasa bicara.


Saga merebut kredit card ditangan Anna lalu menggenggamnya erat.


"Kita bilang sama mama yang sebenarnya, sekalian kembaliin kartu ini."


"Enggak, enggak. Kembaliin Kak." Anna berusaha merebut kembali kartu itu tapi tak bisa karena Saga mengangkatnya tinggi tinggi.


"Enggak!" Seru Saga sambil melotot tajam, membuat Anna sedikit takut. "Aku gak mau ada kebohongan lagi. Kita kembalikan kartu ini."


"Tunggu." Anna menahan lengan Saga saat pria itu hendak keluar. "Nanti kalau ketahuan bohong, papa akan marah. Dan pas aku hamil beneran, gak akan dikasih hadiah kayak gini."


"Gak masalah, aku bisa kok menuhin kebutuhan kamu dan calon anak kita nanti."


Anna membuang nafas kasar. Susah juga membujuk Saga agar mau diajak kerja sama morotin papanya. Kalau bukan dia, siapa lagi yang akan menghabiskan harta orang tuanya, sesimpel itu pikiran Anna.


"Aku nanti pas hamil, ngidamnya lamborgini. Emang kakak bisa menuhin?"


Pletak


"Aww..."

__ADS_1


Anna meringis saat Saga menyentil dahinya. "Dimana mana, orang itu hamil dulu baru ngerasain ngidam. Bukan mikiran ngidamnya dulu sebelum hamil. Udah gak usah alesan, ayok keluar. Kita balikin kartu ini sama mama." Anna menghentak hentakkan kakinya kasar dengan wajah cemberut. Tak mau ada lagi drama, Saga menarik lengan Anna keluar kamar.


"Loh, kenapa dibalikin?" Luisa bingung saat Saga mengembalikan kartu kredit terssbut.


Saga menyentak lengan Anna agar wanita itu segera mengakui kesalahannya.


"Emm.....sebenarnya Anna tidak hamil. Waktu itu Anna hanya berbohong saja pada umi dan Rania."


"APA!" Luisa yang awalnya berdiri langsung terduduk lemas dikursi. Dia memegangi kepalanya yang nyut nyutan. Padahal tadi malam dia sudah gembar gembor digrup emak emak arisan, mau nraktir mereka karena Anna hamil. Dan suaminya, malah lebih parah lagi.


"Kamu tahu An." Luisa berkata lemas. "Pagi ini, papa sudah menyuruh asistennya untuk memesan makanan yang akan dibagikan pada seluruh karyawan kantor dan juga ke beberapa panti asuhan."


Anna dan Saga saling bertatapan, tak mengira jika papa Jeremi sampai melakukan hal seperti itu.


"Papa sangat bahagia saat tahu akan memiliki pewaris."


"Akan memiliki?" Anna mengernyit. "Bukankah dari dulu sudah punya. Anna kan pewaris tunggal papa."


Luisa berdiri sambil menatap Anna tajam. Nafasnya terdengar memburu karena emosi jiwa dengan tingkah putrinya.


"Kamu sudah dicoret dari daftar nama pewaris."


Luisa menghentakkan kakinya kasar lalu pergi begitu saja. Tak mempedulikan teriakan Anna yang mengatakan dia jahat. Tapi saat hendak membuka pintu, dia berbalik lalu kembali lagi.


"Kenapa Ma, Anna gak jadi dicoret kan Mah?"


Luisa hanya menanggapi pertanyaan itu dengan tatapan tajam.


"Makanan ini mama bawa pulang lagi." Luisa mengambil dua keresek makanan diatas meja lalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2