
Anna dan Saga sampai di apartemen malam hari. Sepulang dari kantor, mereka sengaja jalan jalan dulu sambil makan malam diluar. Saga ingin lebih banyak menghabiskan waktu berdua dengan Anna agar wanita itu lebih menikmati masa masa kehamilannya. Saga ingin menjadi suami siaga yang selalu ada untuk Anna sekaligus bisa diandalkan.
"Selamat malam Pak, Bu," sapa Yuni yang menyambut kedatangan mereka.
Bukannya menjawab, Anna malah sibuk memindai penampilan Yuni. Rok plisket selutut dipadu dengan kaos oblong. Rambut diikat dan wajah tanpa make up, hanya sedikit polesan lipstik saja agar tidak terlihat pucat. Tak ada yang aneh sejauh ini, tapi dia tetap harus waspada.
"Kamu yang paling cantik," bisik Saga ditelinga Anna. Dia tahu kearah mana tatapan Anna dan apa yang sedang dia pikirkan. Saat ini, membuat Anna merasa nyaman adalah prioritasnya.
"Maaf Pak, Bu, saya belum masak. Sebenarnya tadi mau tanya dulu Ibu sama Bapak makan diluar atau dirumah, tapi saya tak tahu nomor teleponnya. Takut masakan saya mubadzir, jadi saya tidak masak. Kalau kalian belum makan, saya masakkan sekarang."
Lagi lagi, Anna tak fokus dengan apa yang Yuni katakan, dia hanya fokus melihat gerak gerik Yuni, jaga jaga jika ada yang mencurigakan. Pembawaan Yuni sangat sopan. Bicaranya lembut dan lebih sering menunduk daripada menatap lawan bicaranya.
"Kami sudah makan diluar, tak perlu masak," jawab Saga.
"Apa Bapak mau saya buatkan kopi atau teh?"
"Tidak perlu." Jawab Saga cepat sebelum Anna sempat mengeluarkan kata kata. "Itu tugas istri saya." Saga menoleh kearah Anna sambil merangkul pinggangnya. "Tugas kamu hanya bersih bersih, nyuci, setrika dan pekerjaan rumah lainnya. Kalau yang berhubungan dengan saya, itu tugas istri saya. Dan kalau ada apapun, tanya dan bicarakan dengan istri saya, karena dia nyonya rumah disini. Yang paling berhak mengatur semua urusan rumah."
Senyum Anna melengkung mendengarnya. Rasanya benar benar diratukan oleh Saga. Makin cinta kalau begini.
"Baik Pak, Bu." Yuni mengangguk paham.
__ADS_1
Anna mendecak pelan. Sejak tadi kupingnya panas selalu dipanggil Bu. Mendadak berasa jadi emak emak.
"Istri saya sepertinya kurang nyaman dipanggil bu. Panggil saja Nona."
Anna menahan senyumnya. Tak mau dikira gila karena sejak tadi senyum senyum sendiri karena kelakuan suaminya. Suaminya itu bahkan seperti bisa membaca isi hatinya. Saga sungguh membuatnya merasa menjadi ratu dirumah ini.
"Baik Pak, eh Tuan." Yuni garuk garuk kepala, bingung mau memanggil apa pada Saga.
"Panggil saya Bapak saja." Yuni seketika mengangguk. "Oh iya satu lagi. Kamu saya kasih masa percobaan selama seminggu dulu. Jika istri saya cocok, kamu bisa lanjut. Jika tidak, maaf , sepertinya kami tidak bisa melanjutkan masa kerjamu." Yuni terlihat kaget mendengar itu. "Tapi tenang saja, saya tetap akan membayar gaji kamu full satu bulan." Saga tak mau merugikan siapapun disini.
Selanjutnya Anna menerangkan semua yang harus dan tidak boleh dilakukan Yuni dirumah ini. Salah satunya, dilarang memakai pakaian seksi. Selain itu, juga dilarang memasukkan siapapun, terutama pria keapartemen saat dia dan Saga tak ada.
Setelah menjelaskan semuanya, Anna dan Saga masuk kedalam kamar. Anna yang sejak tadi buat tersaga saga, langsung memeluk suaminya itu dari belakang.
"Buat?"
"Udah memprioritaskan aku dan meratukan aku dirumah ini."
"Udah kewajibanku." Saga membalikkan badannya, tersenyum sambil menangkup kedua pipi Anna. "Aku mencari art untuk menemanimu dirumah serta meringankan pekerjaamu, bukan menambah berat beban pikiranmu." Anna tersipu mendengarnya. Sungguh suami yang mengerti istri banget. "Sebagai balasannya, malam ini aku i_"
Anna meletakkan telunjuknya dibibir Saga. "Gak perlu dikatakan, aku udah paham." Sekarang giliran Anna yang maju lebih dulu untuk mencium Saga. Tangannya juga mulai bergerak untuk melepaskan satu persatu pakaian yang menempel ditubuh suaminya. Malam ini, giliran dia yang merajakan Saga diatas ranjang.
__ADS_1
"Ahhh...." Suara desa han keduanya memenuhi seisi kamar. Peluh membanjiri tubuh mereka. Keduanya berlomba lomba untuk memuaskan satu sama lain. Hingga mereka mengerang bersama saat gelombang kenikmatan itu datang.
Saga merebahkan tubuhnya disebelah Anna. Mengecup keningnya sambil mengucapkan terimakasih lalu menyeka keringat yang membasahi dahi wanitanya.
Anna memiringkan tubuhnya kearah Saga. Saling menatap, mengungkapkan cinta melalui mata. Hingga beberapa kemudian, tersenyum bersama sama.
"Setiap kali aku menatapmu, rasanya seperti jatuh cinta lagi dan lagi."
Wajah Anna merona mendengar ucapan Saga. Entah itu kejujuran atau hanya gombalan, apapun itu, dia bahagia saat ini.
Anna memindai wajah Saga dengan tangan kanannya. Beruntung sekali dia memiliki suami seperti Saga.
Terimakasih Pah, udah memilihkan jodoh yang tepat buatku.
Meski Anna tahu jika jodoh itu ada ditangan Tuhan dan sudah diatur. Tapi apapun itu, papanya sangat berjasa dalam terjadinya pernikahannya dengan Saga.
"Mau lagi?" Anna menawarkan diri.
"Cukup untuk malam ini Honey. Aku tak mau membuatmu kelelahan. Aku tak mau membahayakan janin yang ada diperutmu." Saga mengusap lembut perut Anna. Menggeser tubuhnya agak kebawah agar kepalanya bisa sejajar dengan perut Anna.
"Hallo Baby. Baik baik didalam sana. I love you." Saga mencium perut Anna beberapa kali.
__ADS_1
"I love you too Papah." Sahut Anna dengan menirukan suara anak kecil.