Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
PRASANGKA


__ADS_3

Anna sampai di apartemen dengan perasaan jengkel. Bisa bisanya Saga tak memberi tahu dari awal jika tak bisa menjemput. Setelah dia menunggu lebih dari 30 menit, baru bilang tak bisa menjemput, menyebalkan.


Anna merebahkan tubuh lelahnya diatas ranjang. Saat hampir tertidur, ponselnya berbunyi, ada telepon dari mamanya. Luisa memberi kabar tentang kematian Hanafi.


Anna menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. Rasanya masih belum percaya jika pria yang sudah dia anggap sebagai kakak itu pergi secepat ini.


"Papa masih ada diluar kota, lusa baru pulang. Kita kerumah duka sama sama, ajak Saga sekalian."


Anna menggigit bibir bawahnya. Air matanya meleleh saat teringat Hanafi. Meski tak banyak, tapi kenangan bersama pria itu cukup membekas diingatan Anna.


"An, Anna, kamu dengar mamakan?"


"I, iya Ma. Nanti Anna ajak Kak Saga sekalian."


Setelah itu sambungan telepon diputus. Anna melihat galeri ponselnya. Ada beberapa foto dia dan Hanafi disana.


Kak Anaf, aku gak nyangka Kakak akan pergi secepat ini.


Anna tak kuasa menahan laju air matanya. Saat melihat fotonya diresepsi pernikahan Hanafi, matanya langsung tertuju pada Rania. Ya, Rania, mantan terindah Saga.


Apa mungkin Kak Saga pergi kepemakaman Kak Anaf tadi? Apa karena itu dia tidak menjemputku dan tidak bisa dihubungi?


Perasaan Anna tiba tiba kacau. Jika tadi dia sedih karena kematian Hanafi, sekarang dia berubah galau karena mantan Saga, telah menjadi janda.


.


.


.


"Anna, Anna."


Anna mengerjabkan matanya saat pipinya terasa ditepuk tepuk. Ternyata Saga yang melakukannya, pria itu baru pulang dan mendapati istrinya tidur.

__ADS_1


"Sudah mau magrib, bangun."


Anna meregangkan ototnya sambil menguap lalu duduk. Dia memperhatikan Saga yang tengah melepas kemejanya dan menyisakan kaos dalam.


"Kakak kalau gak bisa jemput itu, konfirmasi lebih dulu. Ditelepon gak diangkat, di chat gak dibalas, akukan jadi cemas." Anna meluapkan kekesalannya.


Saga menghampiri Anna lalu duduk disebelahnya.


"Maafin Kakak ya." Ujar Saga sambil menyentuh puncak kepala Anna. Hal yang paling sering Saga lakukan.


"Emang tadi Kakak ada urusan apa sampai gak bisa jemput, di telepon juga gak diangkat?"


Saga menghela nafas berat saat ingat dari mana dia barusan. "Aku ke pemakaman Hanafi, dia meninggal karena kecelakaan."


Deg


Jadi dugaanku benar.


"Aku sudah tahu kabar itu dari mama. Tapi kenapa Kakak tak mengabariku, atau mengajakku sekalian?"


*Buru buru, kenapa? Bukankah dia tak dekat dengan Kak Anaf. Bahkan bisa dibilang tak begitu kenal. Lalu kenapa dia sampai segitu terburu burunya sampai tak sempat mengabariku. Apa ini karena Kak Rania? Apa dia terlalu mengkhawatirkan mantannya itu?


Tidak, tidak Anna, kamu gak boleh berfikiran negatif tentang suami kamu. Aku yakin Kak Saga kesana hanya untuk taksiah, hanya untuk berbela sungkawa, tidak ada niatan lain*.


Saga menggerak gerakkan telapak tangannya didepan wajah Anna.


"Kok bengong?"


"Mama ngajakin kita kerumah duka lusa, papa masih diluar kota saat ini. Tapi karena Kakak udah kesana, gak papa kalau kakak gak ikut. Biar aku sama mama papa aja."


"Gak masalah aku kesana lagi. Gak enak nolak ajakan papa."


Gak enak nolak ajakan papa, atau pengen ketemu Rania? Astaga Anna, gak boleh suudzon.

__ADS_1


"Aku mandi dulu ya, gerah. Tolong pesenin makanan, aku lapar." Saga hendak bangkit dari ranjang tapi ditahan oleh Anna.


"Mandi bareng yuk, aku juga belum mandi?"


"Udah mau magrib An. Kalau mandi bareng, yang ada makin lama. Aku mandi dulu ya."


Anna mengangguk sambil tersenyum kecut. Padahal biasanya, Saga yang selalu mengajaknya mandi bareng, tapi kali ini, dia menolak. Semoga saja alasannya benar karena hampir magrib, takut gak keburu sholat, bukan alasan yang lain.


.


.


.


Hari ini, Anna dan kedua orang tuanya serta Saga, takziyah kerumah duka. Papa Jeremi mengungkapkan bela sungkawa dan permintaan maafnya karena baru bisa datang. Pak Kyai bisa memaklumi itu, dia tahu kalau Jeremi adalah orang yang sangat sibuk.


Jeremi dan Luisa, sengaja tak bertanya tentang kronologi kematian Hanafi, mereka tak mau membuat Kyai dan Umi Nyai kembali terluka.


Rania tidak nampak ikut menemui tamu, membuat Anna bertanya tanya, dimana wanita itu.


"Kak Rania, dia baik baik sajakan Umi?"


Seketika air mata Umi meleleh, membuat Anna merasa jika salah bertanya.


"Rania dirumah sakit. Kondisinya drop, dia harus bedrest beberapa hari."


Bukannya fokus mendengarkan cerita Umi tentang kondisi Rania, Anna malah sibuk memperhatikan mimik wajah suaminya. Saga terlihat sedih, semoga saja hanya karena rasa simpati, bukan lainnya.


"Kasihan sekali Rania. Dia ditinggal suaminya saat hamil muda."


Saga tampak terkejut, begitupun dengan Anna.


"Jadi Rania hamil Umi?" tanya Luisa.

__ADS_1


"Iya, baru beberapa minggu. Rasanya seperti baru kemarin Hanafi dan Rania mengunjungi pondok untuk menyampaikan kabar gembira itu, tapi Hanafi, Hanafi..." Umi kuasa menahan air matanya. Dia tak mampu melanjutkan ceritanya.


__ADS_2