
Seperti apa yang dikatakan papa Jeremi siang tadi. Sore ini mereka bertiga jalan jalan keliling komplek. Menikmati semilir angin dan langit senja yang sangat indah. Perut yang besar, membuat Anna cepat merasa lelah. Berkali kali mereka terpaksa berhenti karena Anna yang mengeluh kecapekan. Dan kali ini, mereka berheti ditaman untuk istirahat sekaligus membeli batagor.
"Anna sudah mau melahirkan ya Bu?" tanya tetangga komplek teman arisan mama Luisa yang tak sengaja dibertemu.
"Hpl nya beberapa hari lagi Bu," jawab Luisa.
"Perutnya udah kelihatan turun sekali, kayaknya gak lama lagi itu." Ujarnya sambil memperhatikan perut Anna.
Anna yang hendak memasukkan batagor kedalam mulut jadi urung gara gara ucapan ibu itu. Sebentar lagi? Semoga saja tidak, dia masih belum siap. Dia ingin Saga sudah pulang saat dia lahiran nanti. Dia ingin menggenggam tangan Saga saat berusaha mengeluarkan bayi mereka. Dia juga ingin Saga mengusap pinggangnya saat dia sedang merasakan sakitnya kontraksi.
"Saya doakan semoga lahirannya lancar,"
"Aamiin." Luisa dan Jeremi mengaminkan bersama sama.
Setelah ibu tersebut pergi, Luisa menoleh kearah Anna. Dia baru tahu kalau ternyata, putrinya itu sedang menangis.
"Kenapa?" Tanya Luisa sambil menggenggam tangan Anna.
"Anna gak mau melahirkan dulu Mah, Anna mau ditemenin Kak Saga." Air mata Anna turun makin deras. Dia tak akan sanggup melahirkan tanpa Saga.
"Ada papa, gak usah khawatir." Papa Jeremi menarik kepala Anna lalu menyandarkan ke dadanya.
"Ada mama sama papa sayang. Kami akan selalu menemani kamu." Luisa mengeratkan genggaman tangannya. Seolah olah sedang menyalurkan kekuatan pada Anna. Sebagai orang yang juga pernah melahirkan, dia tahu seperti apa perasaan Anna saat ini. Dukungan dari suami memang yang paling dibutuhkan, tapi jika situasi tak mengijinkan, mau gimana lagi.
__ADS_1
"Bukankah kamu bilang hari ini Saga pulang?" tanya Papa Jeremi.
Anna menggeleng. "Urusannya belum selesai Pah. Kemungkinan 5 hari lagi baru pulang."
Papa Jeremi membelai rambut Anna sambil sesekali mencium puncak kepalanya. "Jika memang kamu ditakdirkan melahirkan tanpa Saga, kamu harus ikhlas. Papa yakin kamu wanita yang hebat, wanita yang kuat."
"Wonder women." Mama Luisa ikut menimpali.
"Ya, benar. Kamu wonder women, kamu pasti bisa."
Anna mengangguk meski dia sendiri tak yakin bisa. Melahirkan tanpa suami, pasti sangat berat.
Karena hari semakin gelap, mereka memutuskan untuk pulang. Tak seperti saat berangkat tadi yang ceria dan penuh celoteh, pulangnya, Anna lebih banyak diam.
"Kenapa, ada masalah? Kenapa kamu nangis? Apa baby girl rewel, atau apa? Gak ada yang sakitkan? Kalau ada apa apa, minta papa nganterin ke dokter."
Anna sampai bingung mau menjawab yang mana. Pertanyaan dari suaminya terlalu banyak hingga dia tak tahu harus menjawab yang mana dulu.
"Aku baik baik saja Kak." Anna berusaha menunjukkan senyumnya.
"Kau tidak sedang berbohongkan?"
"Aku hanya menangis karena terlalu merindukanmu.
__ADS_1
Saga menghela nafas berat. Sebenarnya diapun sama seperti Anna, merasakan rindu yang luar biasa.
"Tadi malam, aku mimpi menggendong seorang bayi yang sangat cantik. Wajahnya kebule bulean mirip kamu. Kulitnya kemerah merahan, matanya coklat, hidung mancung, dan rambutnya sedikit pirang, mirip rambut kamu." Saga terlihat bersemangat sekali menceritakan tentang mimpinya.
Anna mengelus perut sambil tersenyum, membayangkan seperti apa cantiknya bayi dimimpi Saga. Mungkinkah putri mereka akan secantik itu?
"Sepertinya Kakak udah sangat tidak sabar untuk melihat baby girl." Anna menunduk, tangannya tak berhenti mengelus perut buncitnya.
"Aku memang sudah tak sabar, tapi lebih tak sabar lagi, ingin segera pulang dan memelukmu. Aku merindukanmu sayang."
Wajah Anna merona merah. Saga sangat pintar membuatnya baper. "Aku juga sangat merindukan Kak."
Saga melihat jam tangannya. Kesal sekali pada waktu yang tak memberi mereka banyak kesempatan. "Jangan begadang lagi malam ini. Aku harus segera kerja. I love you."
"I love you too."
Anna rebahan diatas ranjang setelah sambungan telepon tertutup. Dia menatap langit langit kamar sambil membayangkan wajah Saga. Kadang dia heran dengan pasangan yang bisa ldr bertahun tahun, sedangkan dia, 2 minggu saja rasanya sudah seperti 2 tahun, lama sekali.
Anna turun dari ranjang lalu mengambil kemeja milik Saga. Mengenakannya sambil memejamkan mata, membayangkan jika Saga sedang memeluknya.
Anna kembali naik keatas ranjang. Tumben sekali jam segini dia sudah merasa ngantuk. Entah efek kelelahan jalan jalan sore tadi atau kekenyangan habis makan, Anna langsung tertidur.
Tengah malam, Anna terbangun karena perutnya terasa sakit. Dia bingung mendeskripsikan sakit itu, sedikit mulas, dan terasa seperti sakit pinggang saat haid. Dan sakit itu tidak lama, hanya sebentar, tapi selanjutnya, dia kembali merasa sakit.
__ADS_1
"Mungkinkah aku akan segera melahirkan?" Anna menutup mulutnya dengan telapak tangan.