Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
OM GANTENG


__ADS_3

Bian berhasil mendekap Kalani sebelum gadis itu terjatuh karena tiba tiba pingsan. Ditatapnya wajah cantik tersebut dari dekat tanpa berkedip.


"Lepaskan adikku."


Bian yang masih bengong, kaget saat seseorang menarik Kalani dari pelukannya. Tubuh lemah Kalani terombang ambil diantar dua pria yang sama sama ingin menolongnya.


"Siapa kamu?" tanya Bian.


"Hei, kami yang harusnya tanya siapa anda." bentak Anna garang. "Apa hubunganmu dengan Kalani?"


"Suster, suster , tolong dia." Seru Bian pada suster yang lewat tak jauh dari mareka.


Anna berdecak sebal karena Bian mengabaikan pertanyaanya. Sementara Saga, dia mengangkat tubuh Kalani untuk mencari bantuan. Beruntung suster yang dipanggil Bian tadi segera mengambil brankar, hingga Saga bisa segera meletakkan Lani disana dan mengikuti suster yang mendorong brankar ke UGD.


Bian berjalan cepat mengikut suster menuju UGD, sementara Saga tak bisa terburu buru karena harus menunggu Anna yang tak bisa berjalan cepat.


Sesampainya di depan UGD, Saga langsung menghampiri Bian. Dia yakin ini hanya kesalah pahaman, tak mungkin Lani menjadi pelakor.


"Tolong jelaskan, apa yang sebenarnya terjadi? Dan apa hubungan anda dengan adik saya?"


"Jadi kamu kakaknya Kalani?" Bian memperhatikan wajah Saga, kalau dilihat lihat dia memang mirip dengan Kalani.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Saga mulai menaikan nada bicaranya. Geram karena Bian tak kunjung memberikan penjelasan. Saga menarik kerah kemeja pria itu. "Kenapa adik saya bisa sampai dilabrak istri anda?"


"Saya minta maaf karena kesalah pahaman ini. Sebenarnya tak ada apa apa antara saya dan Kalani."


Saga melepaskan cengkeramannya dikerah kemeja Bian sambil mendorongnya hingga pria itu terhuyung kebelakang.


"Saya sudah tahu itu, karena tak mungkin adik saya menjadi pelakor, dia gadis baik baik."


"Sekali lagi saya minta maaf."


"Minta maaflah pada Kalani." Anna yang geram ikutan bicara. "Dan satu lagi, bersihkan nama Lani. Aku lihat banyak orang yang merekam kejadian tadi. Jangan sampai ada yang memviralkan dan membuat nama baik Lani rusak."


Saga membuang nafas berat. Dia menyesal kenapa tak tahu jika gadis yang diteriaki pelakor itu adalah adiknya. Harusnya dia bisa menolong Lani, bukan malah ikut menonton seperti tadi.


"Ya, saya janji akan meminta maaf dan membersihkan nama baik Kalani. Untuk masalah video itu, saya akan menanganinya, kalian tak perlu khawatir. Dan untuk biaya rumah sakit, saya yang akan menanggungnya."


"Anda pikir saya tak ada uang untuk membayar tagihan rumah sakit adik saya?" Saga sedikit tersinggung.

__ADS_1


"Maaf, bukannya mau menyinggung, saya hanya ingin tanggung jawab."


Mendengar suara berisik diluar, suster langsung datang dan menegur mereka. Jadilah Saga dan Anna menyingkir, duduk dikursi tunggu. Sementara Bian, dia berdiri bersandar didinding, kadang kadang mondar mandir tak jelas. Pria itu juga tampak berkali kali melihat jam tangannya. Kalani memang sudah cukup lama didalam.


Melihat gelagat Bian, Anna jadi bertanya tanya. Benarkah orang yang tak ada hubungan apa apa bisa secemas itu? Tak ingin suaranya terdengar, dia berbisik ditelinga Saga.


"Kak, aku kok heran ya liat om ganteng itu. Kayaknya dia cemas banget sama kondisi Lani."


Saga mengerutkan kening sambil menoleh kearah Anna. "Ngomong apa kamu barusan?"


"Itu, om ganteng itu." Anna menunjuk dagu kearah Bian.


"Apa? Coba ulangi sekali lagi."


"Astaga." Anna berdecak sebal. Sejak kapan suaminya itu punya gangguan pendengaran. "Om itu."


"Enggak, kamu tadi gak gitu ngomongnya. Kamu tadi nyebut dia apa?" Tanya Saga geram.


"Om."


"Enggak, gak gitu."


"Om ganteng, tadi kamu nyebut begitu," sinis Saga.


Anna langsung menutup mulutnya dengan telapak tangan. Menahan tawa agar tidak terlepas. Lucu sekali melihat suaminya yang lagi cemburu.


"Ada yang lucu?" Saga sama sekali tidak ada tampang ingin becanda, kaku sekali.


"Hem, ada." Sahut Anna sambil tertawa pelan. "Kak Saga lucu kalau lagi cemburu." Anna mencubit lengan Saga karena gemas. Kalau saja tak ingat sedang ada di rumah sakit, sudah pasti bakal dia peluk cium.


"Beneran dia gak ada hubungan sama Lani? Kalau iya, kenapa kelihatan cemas banget, padahal Lani cuma pingsan doang, paling karena syok." Anna masih belum selesai dengan rasa penasarannya.


"Katanya sih gak ada hubungan. Lagian Lani gak mungkin jadi pelakor. Lagipula dia udah om om, mana mau Lani sama dia."


"Eits jangan salah. Jaman sekarang yang tua makin menggoda, makin hot."


Mata Saga langsung membeliak mendengar ucapan Anna. Sadar telah salah bicara, cepat cepat Anna mengklarifikasi.


"De, Desi yang bilang gitu bukan aku." Anna menggeleng cepat. Padahal Desi tak pernah ngomong gitu, hanya akal akalan dia saja. Malihat Saga yang masih cemberut, segera dia melingkarkan lengan dipinggang suaminya itu. "Mau muda atau matang apalagi tua, bagitu semua jelek. Karena yang ganteng cuma Kak Saga."

__ADS_1


Cup


Anna mendaratkan kecupan di pipi Saga, membuat mulut pria itu seketika terbuka lebar.


"Ini tempat umum Anna." Tekan Saga dengan wajah memerah. Dia melirik kearah Bian, untung pria itu tak melihat saat Anna mengecup pipinya. Kalau tidak, mau ditaruh dimana mukanya. Pasti dikira gak tahu diri, disaat adiknya pingsan, malah bermesraan.


"Apa nanti saat aku akan melahirkan, Kakak juga akan secemas om itu?"


"Tidak." Sahut Saga cepat.


"Ish nyebelin." Anna langsung menggeser duduknya sedikit menjauhi Saga lalu memiringkan badan membelakanginya.


Saga menggeser duduk mendekati Anna, melingkarkan lengan diperutnya yang buncit, sambil berbisik.


"Aku akan 100 kali lebih cemas daripada dia."


Senyum Anna langsung mengembang mendengarnya.


Tak lama kemudian, dokter yang menangani Kalani keluar. Keduanya, Saga dan Bian, langsung menghampirinya dengan raut cemas.


"Bagaimana keadaan adik saya dok?" tanya Saga. Bian sengaja diam karena merasa jika Saga lebih berhak.


"Anda keluarga pasien Kalani?"


"Iya benar."


"Ada yang harus saya bicarakan dengan anda, bisakah ikut keruangan saya?"


"Kenapa Dok, apa ada yang serius?" Bian merasa ada sesuatu yang buruk jika dokter sampai memanggil keluarga pasien keruangannya.


"Masih dugaan, kami belum bisa memastikan. Makanya saya ingin bicara dengan keluarga pasien. Saya ingin menyarankan pasien Kalani untuk menjalani beberapa pemeriksaan."


Perasaan Saga mendadak tidak enak. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang buruk pada Kalani. Tapi semoga saja itu tidak benar.


.


.


.

__ADS_1


Cerita Kalani gak akan diceritain detail disini. Cuma spil dikit aja. Entah nanti mau dibikin novel sendiri atau enggak.


__ADS_2