
Tak mendapati Anna diatas ranjang, Saga berjalan menuju kamar mandi. Kosong, tak ada Anna disana. Saga meletakkan teddy dan buket bunga diatas ranjang. Turun kebawah dengan harapan Anna ada didapur atau tidur dikamar orang tuanya meski itu rasanya tidak mungkin.
Ternyata ada Bi Darmi didapur. Wanita tua itu tengah membuatkan teh hangat yang hendak dia berikan pada Saga.
"Den Saga, baru saja bibi mau mengantarkan teh hangat ke kamar."
"Terimakasih Bi." Saga menerima teh tersebut, menyeruputnya sedikit lalu meletakkan di atas meja. Andai saja Anna yang membuatkan, rasa lelahnya habis perjalanan jauh pasti langsung hilang.
"Bi, kenapa Anna tak ada di kamar? Apa dia tidur dengan mama?"
"Emmm.." Bukannya menjawab, Bik Darmi malah garuk garuk kepala.
"Ada apa Bi?"
"Anu Den, Non Anna gak ada dirumah."
"Kemana?" Saga mengerutkan kening.
"Tadi sore pergi diantar Pak Joko. Tapi sampai sekarang bibi gak lihat dia pulang. Gak tahu pergi kemana? Mending tanya ke tuan atau nyonya saja." Bi Darmi takut salah memberi informasi.
Saga berdecak pelan, tampak kekesalan diwajahnya. Kenapa Anna tak minta ijin dulu padanya saat pergi, apalagi sampai tengah malam seperti ini? Padahal tadi siang mereka masih melakukan video call, tapi Anna tak mengatakan apapun.
Saga hendak menelepon Anna, tapi baru ingat jika ponselnya tadi dia letakkan dikamar.
__ADS_1
Dari pada naik lagi untuk mengambil ponsel, Saga memilih menuju kamar mertuanya. Mengabaikan rasa sungkan dengan mengetuk pintu saat tengah malam seperti ini.
Tak berapa lama kemudian, Jeremi membukakan pintu. Wajahnya terlihat kusut, efek bangun tidur.
"Saga." Pria itu terkejut mendapati menantunya sudah ada dirumah. Anna bilang, suaminya baru akan pulang 2 hari lagi.
Saga meraih tangan mertuanya lalu mencium punggung tangannya.
"Kapan kau pulang?"
"Baru saja. Maaf karena udah ganggu Papa larut malam seperti ini. Kalau boleh tahu, Anna dimana?"
"Oh..Anna, dia menginap dirumah Desi. Dia bilang bosan dirumah terus, apalagi gak ada kamu. Eh tunggu tunggu, Anna bilang udah minta ijin sama kamu."
Semoga saja Anna menepati janjinya untuk tidak masuk ke tempat seperti itu lagi.
Jeremi mengepalkan kedua telapak tangannya. Rahangnya mengeras, emosi karena Anna ternyata telah membohonginya. Bisa bisanya dia kecolongan seperti ini. Hanya dengan Anna bersikap baik dan penurut beberapa hari ini, dia telah lengah. Percaya begitu saja saat Anna bilang sudah dapat ijin dari Saga.
"Biar papa suruh orang buat nyari dia."
"Gak usah Pah, biar Saga saja. Saga tahu dimana rumah Dessi." Tanpa menunggu persetujuan, Saga segera menuju kamar, mengambil kunci mobil yang memang saat di mau berangkat ke China dulu, dia tinggal disini.
Jeremi berdecak kesal. Lagi dan lagi putri tengilnya itu bikin masalah.
__ADS_1
Ternyata kamu belum berubah juga Anna.
Saga melupakan lelahnya, mengendarai mobil menyusuri jalan yang mulai lenggang karena tengah malam. Padahal yang ada diangannya tadi tidaklah seperti ini. Dia pikir sesampainya rumah, bisa memeluk Anna, melepas penat serta rindu dengan tidur sambil berpelukan. Menceritakan kejadian apa saja yang mereka lalui hampir dua minggu ini. Tapi semua itu tinggal angan. Karena nyatanya, istrinya itu tak ada dirumah, entah ada dimana sekarang.
Saga masih berusaha untuk menelepon Anna, sayangnya tidak diangkat. Perasaan Saga jadi tak tenang.
Tok tok tok
Tengah malam, hampir jam 12, dia mengetuk pintu rumah Desi. Semoga saja dia tak dianggap maling. Kalau saja dulu dia menyimpan nomor Desi, pasti tak akan seperti ini. Karena dianggap tak penting, dia langsung menghapusnya kala itu.
Tok tok tok
Saga tak menyerah meski sudah cukup lama dia mengetuk. Dan akhirnya, pintu terbuka. Muncul seorang pria dan wanita paruh baya dari dalam. Wajah mereka tampak tegang, mungkin takut karena ini tengah malam, bukan jamnya orang bertamu.
"Maaf karena mengganggu tengah malam." Saga mengulurkan tangannya. "Saya Saga, suami Anna, teman dari Desi."
"Oh ...kamu suami Anna." Sahut pria dihadapannya dengan wajah lega. Segera dia menjabat tangan Saga sambil memperkenalkan diri sebagai ayah Desi.
"Mau jemput Anna? Ayo silakan masuk, biar kami panggilkan Anna. Sepertinya dia sudah tidur."
Saga lega mendengarnya, itu artinya, Anna benar benar ada disini.
"Kak Saga." Tiba tiba Anna muncul dari dalam bersama Desi. Sambil mengulum senyum, dia menghampiri Saga lalu memeluknya.
__ADS_1
"Anna." Lirih Saga sambil melepaskan pelukan Anna. Dia tentu malu karena ada Desi dan orang tuanya disana.