Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
PANIK


__ADS_3

Yuni panik melihat Anna yang tiba tiba pingsan. Beruntung Anna dalam posisi duduk disofa sebelum pingsan, jadi dia tak terjatuh, hanya tersandar disofa. Setelah menepuk nepuk pipi Anna tapi tak kunjung sadar, Yuni pergi untuk mencari minyak angin. Setelah dioleh dibeberapa bagian wajahnya, Yuni bernafas lega karena Anna akhirnya sadar.


"Kak Saga, Kak Saga." Anna langsung menangis sambil terus menyebut nama suaminya. berusaha untuk duduk tegak meski kepalanya sangat pusing.


"Ada apa Non, kenapa Non Anna tiba tiba pingsan?" Yuni masih sangat penasaran.


"Kak Saga Mbak, Kak Saga." Anna bicara sambil terus menangis, membuat Yuni semakin cemas sekaligus panik.


"Pak Saga, ada apa dengan Pak Saga?"


"Kak Saga kecelakaan Mbak."


"Innalillahi wainailaihi rajiun."


Mendengar Yuni mengucapkan kalimat tersebut, Anna makin kencang menangis. Yang ada dipikirannya, kalimat itu hanya ditujukan untuk orang meninggal saja.


"Kenapa ngomong gitu, Kak Saga belum meninggal. Dia belum meninggal, suamiku belum mati." Teriak Anna sambil mencengkeram bahu Yuni kuat. Mata melotot tajam, sampai sampai Yuni takut.


"Tega banget Mbak Yuni ngatain suami aku meninggal." Anna menarik narik bahu Yuni sambil wanita tersebut terguncang hebat. Anna berteriak teriak histeris. Tak lama kemudian, dia kembali tak sadarkan diri.


"Non, Non Anna." Untuk kedua kalinya, Yuni dibuat panik. Dengan tangan gemetaran, dia mengambil minyak angin lalu mengoleskan seperti tadi. Sayangnya kali ini tak berhasil, Anna tak kunjung sadar sampai Yuni menangis saking bingungnya.


"Non Anna, bangun Non. Jangan bikin saya takut Non." Yuni tahu harus minta bantuan pada siapa karena kata Anna tadi, Saga kecelakaan. Hendak menelepon orang tua Anna, sayang dia tak mempunyai nomornya. Mau pakai ponsel Anna, ponsel tersebut sudah terkunci otomatis dan dia tak bisa membukanya.

__ADS_1


Sementara Saga, dia mengemudi dengan kecepatan tinggi karena mencemaskan Anna dan bayi mereka. Kai tak henti henti beristigfar sambil memegangi dada karena senam jantung. Berkali kali dia meminta mengambil alih kemudi tapi Saga tak mengindahkannya sama sekali.


"Pelan Ga, pelan. Kalau cara nyetir lo kayak gini, yang ada Anna gak papa tapi malah kita yang metong."


Saga tetap tak menggubris ucapan Kai. Mengemudi dengan kecepatan tinggi, menekan klakson terus menerus agar kendaraan didepannya minggir. Diumpati berkali kapi oleh pengemudi lain karena dianggap ugal ugalan.


"Gue belum nikah Ga. Belum tahu enaknya surga dunia. Jangan kirim gue ke neraka dulu, gue belum tobat." Rasanya Kai tak bisa bernafas. Tubuhnya mengalami tremor saking takutnya.


"Kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk pada istri dan anak gue, habis lo Kai. Jangan harap lo masih bisa menghirup oksigen saat itu." Teriak Saga frustasi.


"Istigfar Ga, istighfar. Doa yang baik baik aja semoga Anna gak papa, jangan malah mikir yang buruk."


Meskipun jarak mereka sangat dekat, tapi mereka berbicara sambil teriak teriak seolah bicara pada orang tuli.


Beruntung lokasi proyek yang mereka datangi tadi lumayan dekat dengan apartemen Saga. Jadi tak butuh waktu lama bagi Saga untuk sampai diapartemen.


Tak menghiraukan Kai, Saga langsung keluar dan berlari keunitnya. Mengumpat sambil menekan tombol lift berkali kali karena tak kunjung terbuka. Orang disebelahnya sampai menatap heran, tapi Saga tak peduli akan itu.


Begitu memasuki unitnya, Saga makin cemas mendengar Yuni menangis sambil memanggil manggil nama Anna.


Saga berlari menghampiri Anna dan Yuni. Duduk disebelah Anna lalu menarik kepala istrinya itu kedalam dekapannya.


"Sayang, Anna, bangun sayang." Saga menepuk nepuk pelan pipi Anna.

__ADS_1


"P, Pak Saga." Yuni kaget melihat Saga dalam kondisi baik baik saja. "Pak Saga baik baik saja?" Tangis Yuni terhenti, dia menatap Saga cengo. Tak tampak sedikitpun luka, lalu kenapa katanya tadi lecelakaan?


"Iya Mbak saya baik baik saja. Daritadi Anna belum siuman juga?" Ini sudah cukup lama dari waktu Anna pingsan tadi.


"Tadi sudah sadar Pak, tapi pingsan lagi."


"Astaga. Sayang bangun sayang." Saga mengambil minyak angin dimeja, mengoles kesekitaran wajah Anna.


Ting tong ting tong


Diluar, Kai menekan bel berkali kali karena dia ditinggal Saga tadi. Dia harus menunggu lumayan lama sampai akhirnya Yuni membukakan pintu.


"Antar gue kerumah sakit." Ujar Saga begitu melihat Kai. Dia tak bisa menunggu lagi sampai Anna sadar.


"Coba dibangunin dulu. Ditepuk tepuk atau dikasih minyak kayu putih," saran Kai.


"Udah bego, lo pikir kita bodoh kayak lo," bentak Saga.


Kai tiba tiba berlari kedapur.


"Hai, mau kemana lo? Ayo buruan anter gue ke rumah sakit," teriak Saga.


Ternyata Kai kedapur untuk mengambil air. Dia mengisi mangkuk dengan air kran lalu kembali ketempat Anna. Dia mendekati Anna lalu mencipratkan air tersebut kewajah Anna.

__ADS_1


"Apa apaan lo." Saga menampik tangan Kai karena tak terima istrinya diperlakukan kayak gitu.


"Diem, bentar lagi pasti sadar." Kai terus melakukannya hingga jemari Anna bergerak dan matanya perlahan lahan terbuka.


__ADS_2