Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
INGIN HAMIL


__ADS_3

Desi, gadis itu melongo melihat siapa yang berjalan kearah mereka. Pria tampan dengan kemeja biru muda yang lengannya dilipat hingga siku. Kaca mata hitam yang bertengger diatas hidungnya yang mancung. Dan kaki jenjang berbalut celana bahan warna hitam, membuat penampilan pria itu begitu perfect. Sampai sampai membuat Desi enggan berkedip.


"An, Anna." Dia menepuk nepuk bahu Anna yang saat itu masih sibuk menyeka ingusnya menggunakan tisu.


"Apa sih Des?" Anna menggeser duduknya. Tepukan Desi lumayan sakit juga.


"Laki lo An. Laki lo kesini."


"Hah." Anna masih belum paham. Tapi saat dia menegakkan kepala, dia kaget melihat Saga berjalan kearah mereka berdua.


Kok Kak Saga bisa tahu aku ada disini? Mampus kalau sampai dia tahu aku bohong soal kelas tambahan.


Anna menggigit bibir dalamnya karena cemas.


"Kok Kak Saga tahu aku ada disini sih Des?" lirih Anna yang panik sekaligus cemas. Merasa tak ada tanggapan, Anna menoleh kesamping. Dia langsung menepuk lengan Desi yang saat itu terbengong bengong melihat Saga. Gak terima suaminya dipelototin kayak gitu.


"Paan sih An?" Seru Desi sambil menyingkirkan tangan Anna. Sedangkan matanya, masih terfokus pada Saga. "Suami lo ganteng banget." Kata pujian itu reflek keluar daru bibirnya.


Brukk


Anna mendorong Desi hingga cewek itu terjatuh dari kursi.


"Anna." Seru Desi tertahan karena tak mau dikira bar bar oleh Saga. "Apa apaan sih lo?" Protesnya sambil memelototi Anna dan membersihkan celananya dari debu dan daun kering yang menempel.


"Hus hus, pulang sana." Anna berdiri, menggerakkan tangannya seperti sedang mengusir anak ayam.


Bukannya pulang, Desi malah tersenyum sambil menyapa Saga.


"Hai Kak, masih inget gak sama aku? Yang dulu ketemu di club?"


Anna menggeram kesal melihat Desi yang malah kecentilan.

__ADS_1


Saga menggaruk garuk tengkuknya sambil tersenyum absurd. "Maaf, aku lupa."


"Hwa ha ha ha ha." Tawa Anna seketika meledak melihat wajah kecentilan Desi yang tiba tiba merah padam. Tanpa ba bi bu lagi, cewek itu langsung pergi dari sana sambil menghentak hentakkan kaki karena kesal.


"Temen kamu tadi? Gak jelas banget orangnya." Ujar Saga sambil menatap kepergian Desi.


"Emmm...Kak Saga kok tiba tiba kesini, pakai masuk lagi, tumben?"


Saga duduk ditempat yang tadi diduduki Desi. Dia menepuk sisi sebelahnya agar Anna ikutan duduk.


Pletak.


"Aww.." Pekik Anna sambil meringis saat Saga tiba tiba menyentil dahinya.


"Itu hukuman buat pembohong kayak kamu."


Anna menunduk sambil mengusap keningnya yang sedikit sakit. Saga memang tak melakukannya dengan kuat, tapi tetap saja terasa sedikit panas.


"Darimana Kakak tahu?"


"Gak penting. Yang penting jangan diulangi lagi, Kakak gak suka."


Anna mengangguk pelan. Baru beberapa saat lalu bertekad untuk menjadi istri yang baik, yang sholehah, eh...udah ketahuan bohong. Makin minuskan nilainya.


"Ya udah ayo pulang." Saga berdiri lalu mengulurkan tangan kanannya kehadapan Anna. Senyum cewek itu langsung merekah. Jadi ter Saga Saga kan? Disambutnya tangan suaminya itu lalu melangkah sambil bergandengan keluar kampus.


Beberapa pasang mata tampak memperhatikan mereka. Tapi Anna tak ambil pusing. Menggandeng suami setampan Saga, justru membuatnya makin percaya diri. Dia menatap Saga yang ada disampingnya. Hatinya mantap ingin berubah menjadi lebih baik. Dia tak mau kehilangan Saga.


Mobil yang dikendarai Saga mulai memecah kepadatan jalan. Matanya fokus menatap jalan yang ramai lancar, sesekali menoleh kearah Anna yang sejak tadi hanya diam. Aneh sekali.


"Besok jangan pakai rok sependek itu. Kalau bisa pakai celana saja saat kuliah, atau kalau enggak, rok panjang." Saga kurang nyaman melihat rok Anna yang ketika dibuat duduk, berada diatas lutut.

__ADS_1


"Iya."


Saga mengernyit mendapati jawaban sedatar itu, tanpa diikuti protes apapun. Biasanya Anna akan mencari pembenaran lebih dulu alias ngeyel mempertahankan prinsipnya.


"Kamu kenapa?" Saga melihat wajah murung Anna. Cewek yang biasanya selalu bawel dan ceria tiba tiba jadi murung dan tak banyak protes, jelas membuatnya bertanya tanya. Ada apa dengan Anna?


"Ayo kita punya anak." Ujar Anna sambil menunduk dan memainkan jari jarinya.


"Maksud kamu?" Saga masih ingin memastikan lebih jelas. Takut salah mengartikan ucapan yang sebenarnya sudah jelas itu.


Anna menoleh kesamping, menatap kedua manik mata Saga, lalu berkata dengan yakin. "Aku ingin hamil."


Cittt...


Saga reflek menepikan mobilnya lalu mengerem mendadak.


"Kak Saga." Teriak Anna yang kaget. Wajahnya seketika pias dan jantungnya berdegup sangat kencang.


Saga bisa mendengar beberapa pengguna motor mengumpatinya. Persetan dengan itu. Saat ini, dia hanya perlu klarifikasi tentang ucapan Anna barusan.


"Hamil?"


Anna mengangguk pelan.


"Tapi kenapa? Kenapa tiba tiba kamu pengen hamil? Bukankah hari itu kita sudah sepakat untuk menunda hingga 2 atau 3 tahun kedepan?"


"Aku berubah pikiran, aku ingin hamil sekarang."


"Apa kau yakin? Hamil itu butuh kesiapan yang matang An. Gak cuma fisik, tapi juga mental. Apa kamu yakin sudah siap? Apa kamu bisa menjalani kehamilan saat masih awal kuliah seperti ini? Ini gak mudah An."


"Aku tahu, dan aku sudah siap."

__ADS_1


Tentu saja Saga bahagia dengan keputusan Anna ini. Dia juga ingin segera memiliki anak. Tapi mengesampingkan hal itu, masih terlintas pertanyaan direlung hati Saga. Apa yang membuat Anna tiba tiba ingin hamil?


__ADS_2