Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
SEHARI SEBELUM BERPISAH


__ADS_3

Anna berdiri didepan almari. Mengambil beberapa baju Saga yang akan dia packing kedalam koper. Besok, suaminya itu akan pergi ke US. Jangan ditanya seperti apa perasaannya, yang pasti dia sangat berat untuk melepas Saga.


Tapi sekali lagi, dia tak boleh egois. Saga bukan hanya miliknya, tapi milik keluarganya juga. Dan tanggung jawab pria itu juga tak hanya padanya, tapi juga pada perusahaan.


Anna menyeka air matanya yang menetes. Hanya membayangkan ditinggal saja, sudah sesedih ini, apalagi menjalaninya. Belum lagi kalau nanti dia lahiran tanpa Saga, itu pasti sangat berat.


Anna terkejut saat Saga tiba tiba memeluknya dari belakang. Cepat cepat dia membersihkan sisa air mata agar Saga tak tahu jika dia habis menangis. Dia tak mau suaminya itu kembali ragu untuk pergi.


"Kakak sudah pulang?" Anna bahkan tak tahu kapan suaminya itu masuk kedalam kamar.


"Besok aku pergi, jadi hari ini sengaja pulang cepat agar bisa menghabiskan waktu lebih banyak denganmu." Saga meletakkan dagunya dibahu Anna. "Aku merindukanmu sayang."


Anna tersenyum mendengarnya. "Belum juga pergi, udah rindu aja," ledek Anna.


Anna membalikkan badan lalu mencium punggung tangan Saga. Setelah itu membantu melepas jas serta kemeja pria itu.


Saga mengernyit saat Anna menggantung kemejanya yang kotor.

__ADS_1


"Kenapa tak dimasukkan kekeranjang baju kotor?"


"Baju ini tak akan aku cuci. Aku akan mencium aromanya saat aku merindukan Kakak nanti."


Saga menghela nafas berat, menghampiri Anna lalu memeluknya dari belakang. "Jika kau ingin aku tetap disini, aku tidak akan pergi."


Anna kesal jika harus membahas ini lagi. Membuat dia jadi pengen nangis. Ingin sekali dia bilang jangan pergi, tapi dia tak mungkin melakukan itu.


"Tadi mama Mila telepon," ujar Anna.


"Oh ya? Mama bilang apa?"


Satu bulan tidak bertemu, mama Mila terlihat sangat kurus. Ya, ibu mana yang tidak akan sedih jika tahu putrinya mengidap leukimia. Dan Kalani, dia juga sempat mengobrol sebentar dengan adik iparnya itu. Gadis yang hanya terpaut usia satu tahun dibawahnya itu, tampak sangat kurus dan pucat. Dia tak bisa membayangkan jika barada di posisi Kalani. Mungkinkah dia masih tega menahan Saga disaat keluarganya seperti itu. Anna tak seegois itu.


Saga membalikkan tubuh Anna menghadap kearahnya. Diciumnya bibir sang istri dalam dan lama. "Aku mencintaimu Anna." Ujarnya saat pagutan bibir itu terlepas.


"Aku juga sangat mencintai Kakak." Anna memindai wajah Saga. Dia pasti akan sangat merindukan wajah itu mulai besok.

__ADS_1


Anna benci sekali situasi ini. Air matanya tak bisa ditahan meski dia sudah berusaha keras.


Saga berlutut didepan Anna, mensejajarkan wajahnya dengan perut buncit sang istri.


"Hai baby girl. Sepertinya 10 hari kedepan, papa akan sangat merindukanmu. Kamu juga pasti akan merindukan suara serta belaian papa." Suara Saga mulai bergetar karena menahan tangis. "Baik baik didalam sana, jangan merepotkan mama. Semoga saja, disaat pertama kamu melihat dunia, papa ada disisimu." Saga tak kuasa lagi menahan air matanya. Bayangan Anna melahirkan sendiri tanpa dia, menari nari dikepalanya.


"Dia pasti akan menunggu cinta pertamanya pulang sebelum lahir kedunia."


"Cinta pertama?"


Anna mengangguk. "Bukankah ayah adalah cinta pertama putrinya?"


Saga mengangguk setuju lalu mencium perut Anna beberapa kali. Selesai mencium, dia melantunkan sholawat nabi sambil menempelkan pipi diperut buncit tersebut. Air mata Anna makin deras mengucur. Kenapa harus berpisah disaat seperti ini? Kalau saja masih jauh dari hpl, dia pasti ikut Saga ke US.


Selesai bersholawat, Saga kembali berdiri. Menangkup kedua pipi Anna sambil menempelkan kening mereka.


"Nanti malam, gimana kalau kita menginap dihotel. Anggap saja honeymoon sebelum perpisahan kita."

__ADS_1


Anna langsung mengangguk setuju.


__ADS_2