
Pagi ini, Anna bergelayut manja dilengan Saga, mengantarkannya hingga kepintu saat hendak berangkat kerja. Semalam mereka bergelut diatas ranjang berkali kali hingga pagi ini, Anna merasakan tubuhnya remuk dan bagian intinya sedikit perih. Bukan tanpa sebab, melainkan karena satu tujuan, Anna ingin cepat hamil.
"Tidur lagi sana kalau masih ngantuk. Hari ini gak ada kelaskan?"
Anna menggeleng pelan. Raut kelelahan masih terlihat jelas diwajahnya.
"Maaf ya, udah bikin kamu kelelahan semalam." Saga mengusap lembut kepala Anna. Emang kalau udah urusan ranjang, dia suka kalap. Ingin lagi dan lagi.
"Gak masalah, kan biar cepet hamil." Anna nyengir sambil mengusap perutnya yang langsing.
"Ya udah, kakak berangkat dulu. Hati hati dirumah." Saga mencium bibir Anna lalu mengecup keningnya sekilas.
Andai aja sambil bilang I Love you, pasti lebih romantis.
"Nanti langsung pulang ya? Gak usah lembur, gak usah mampir kemana mana." Untuk kedua kalinya, Anna mengingatkan itu. Tadi pagi, saat membantu Saga berpakaian dia sudah mengatakan hal tersebut.
"Iya."
Setelah Saga keluar, Anna kembali mengunci pintu. Sekarang waktunya beraksi. Cepat cepat Anna menuju kamar. Bukan mau tidur lagi, melainkan mengambil ponsel dan mencari resep cake. Ya, dia ingin membuat cake. Semalam dia sudah menelepon mamanya, memintanya untuk mengirim peralatan membuat kue keapartemennya.
Setelah mendapatkan cake yang sesuai keinginannya, dia gegas menuju supermarket untuk membeli bahan bahannya. Begitu sampai apartemen, ternyata sudah ada Bi Ningsih yang membawa semua peralatan membuat cake.
"Apa perlu saya bantuin Non?"
"Gak usah Bi. Anna ingin membuat sendiri. Kalau lihat video tutorialnya sih gampang. Semoga saja emang segampang itu." Anna tampak sangat bersemangat. Tak tahu saja dia jika praktek lebih sulit dari teori.
Hari ini, 4 bulan pernikahan Anna dan Saga. Tiba tiba saja muncul ide dikepala Anna membuat kejutan kecil kecilan untuk sang suami. Bukankah kata Desi dia harus berubah, harus menjadi istri idaman Saga. Jadi dia putuskan untuk membuat cake sendiri agar mendapatkan nilai plus dimata Saga.
__ADS_1
Anna mulai mengeksekusi semua bahan. Dapur yang awalnya bersih dan rapi, mendadak sangat berantakan. Bagaimana tidak, hanya memecahkan telur saja, Anna kesulitan. Berkali kali, cangkang telur ikut masuk kedalam baskom.
Mencium aroma cake yang begitu sedap, Anna yakin jika dia telah berhasil. Tapi saat membuka oven dan melihat hasilnya, dia langsung tertunduk lemas. Cake yang dia buat bantat, tidak mengembang.
"Sepertinya kurang lama saat memixer Non. Atau lupa belum masukin pengembang." Ujar Bi Ningsih yang sedang mencuci peralatan kotor yang baru dipakai Anna.
"Gitu ya Bi. Ya udah Anna bikin lagi aja."
Tanpa kenal lelah, Anna kembali membuat cake. Dan percobaan kedua ini, alhamdulilah berhasil mengembang. Anna sampai jingkrak jingkrak saking senangnya. Tapi saat hendak dia keluarkan dari cetakan, ternyata susah.
"Non Anna sepertinya lupa mengasih mentega pada cetakannya."
Anna menepuk dahinya. Yang dibilang Bi Ningsih memanglah benar, dia lupa mengoles mentega kecetakan sebelum menuang adonan.
"Tapi gak papa Non, bisa dikeluarin pelan pelan meski nanti bentuknya jadi tidak rapi. Tapikan mau dihias, jadi gak masalah."
Anna menutupi ketidak sempurnaan bentuk ceke itu menggunakan butter cream. Dia baru tahu jika menghias tart itu tidak mudah. Padahal dari video yang dia tonton, terlihat sangat mudah. Tapi pada prakteknya, ternyata sangat susah.
Anna tertunduk lesu melihat hiasan cakenya yang bisa dibilang sangat jelek.
"Bagus kok Non. Untuk pemula seperti Non Anna, ini sudah bagus. Bibi yakin jika Den Saga pasti bangga dengan pencapaian Nona hari ini."
"Bibi yakin?" Anna masih terlihat lemas.
"Sangat yakin." Bi Ningsih berusaha menyemangati. "Sekarang bibi simpan cake nya di kulkas ya?"
Anna mengangguk lalu duduk termenung. Membiarkan Bi Ningsih membereskan dapur yang super kotor dan berantakan.
__ADS_1
Disaat bersamaan, terdengar bunyi bel.
"Biar Anna aja yang buka Bi." Ujar Anna saat Bi Ningsing hendak menuju ruang tamu. Cewek itu yakin jika diluar, pasti kurir yang membawa pesananya.
Ternyata dugaan Anna sangat tepat. Seorang kurir ekspres menyerahkan sebuah paket untuknya. Dengan wajah riang, Anna membawa paket tersebut kedalam kamar dan langsung membukanya. Ternyata isinya adalah lingeri warna pink yang kemarin dia pesan disebuah toko online.
Anna mencoba baju dinas itu lalu mematut dirinya didepan cermin.
"Aish, apa ini tidak memalukan?" Anna mendadak ragu. Pakaian itu terlalu terbuka, bahkan seperti tak ada bedanya dengan telanjang.
Demi Kak Saga Anna. Kamu gak boleh malu.
Anna menyemangati dirinya sendiri. Dia yakin Saga akan menghajarnya habis habisan saat dia terang terangan menggoda seperti ini. Membayangkan keganasan suaminya diranjang, dia jadi ngilu. Tapi tak apa, toh dia juga menikmati. Dan yang lebih penting, semoga rahimnya segera terisi kecebong Saga.
Melihat jam yang sudah sore, mendekati jam kepulangan Saga. Anna memoles make up tipis tipis diwajahnya. Dia juga memakai gaun pendek yang hanya sebatas paha dengan belahan dada sedikit rendah. Gaun itu yang akan dia gunakan untuk menyambut Saga. Baru nanti malam, dia akan memakai lingeri. Karena rencananya, dia ingin mengajak Saga makan dulu dan potong cake.
Selain menyiapkan makanan yang tadi dimasak Bi Ningsih, Anna juga menyiapkan cake dan kopi diatas meja. Dan sekarang, dia hanya perlu menunggu kedatangan Saga.
Jam berjalan begitu cepat, Sekarang sudah pukul 6 lebih. Bukankah harusnya Saga sudah sampai dirumah sebelum pukul 5?
Anna mengambil ponsel untuk menghubungi Saga, tapi panggilannya tidak terjawab.
Mungkin Kak Saga masih kejebak macet karena besok weekend. Atau kalau tidak, mungkin dia ada meeting penting.
Anna masih berusaha berpositif. Tapi hingga pukul 9 malam Saga tak kunjung pulang, perasaan Anna jadi tak karuan.
Kemana kamu Kak? Kamu gak lagi menjenguk Rania di rumah sakitkan?
__ADS_1
Air mata Anna hampir meleleh memikirkan kemungkinan tersebut.