Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
JANGAN PULANG


__ADS_3

Air mata Anna makin deras mengalir saat beberapa orang yang baru saja mendapatkan nasi kotak gratis mendatanginya dan mendoakannya. Mereka terlihat sangat tulus. Tak ada yang dipinta papa Jeremi saat membagikan tadi. Dia hanya menyampaikan jika sebentar lagi akan menjadi kakek. Tapi orang orang baik itu, dengan sendirinya mendatangi Anna dan mendoakan kelancaran persalinannya.


Wanita hamil yang tadi Anna lihat bersama suaminya juga mendatanginya.


"Sepertinya kita sama sama sedang berjuang ya Mbak?"


Anna mengangguk sambil menyeka air mata.


"Semoga saja kita sama sama dilancarkan persalinannya."


"Aamiin." Sahut Anna dan mama Luisa bersama sama.


Wanita itu tiba tiba mengerang sambil memegangi pinggangnya. Ya, dia sedang mengalami kontraksi. Sang suami langsung mengusap lembut pinggang bagian belakangnya.


"Ayo kita masuk, biar dicek lagi sudah pembukaan berapa." Ajak suami wanita itu.


"Kami masuk dulu ya Mbak." Pamit wanita tersebut.


Anna menganguk. "Semoga bayinya segera lahir dengan selamat."


"Aamiin, doa yang sama untuk Mbak."


Anna duduk sambil meringis saat merasakan kontraksi. Sayang dia tak seberuntung wanita tadi yang didampingi suami. Yang bisa mengusap pinggangnya saat dia mengalami kontraksi.


Kak Saga, aku merindukanmu.


Anna menggigit bibir bawahnya sambil menengadahkan wajah. Tidak, dia tak boleh menangis. Dia wanita yang kuat.

__ADS_1


Anna menunduk lalu mengelus perutnya. "Hai baby girl, udah pengen banget ya lihat dunia? Mama juga udah gak sabar pengen ngelihat kamu. Jangan ngambek ya, jika saat kamu lahir nanti, bukan papa yang menyambutmu. Papa sayang kamu nak, tapi papa sedang tidak bisa bersama kita sekarang."


Mama Luisa yang ada disebelah Anna ikut menangis mendengar kalimat demi kalimat yang terucap dari bibir Anna. Dia tak menyangka jika putri tengilnya, sudah semakin dewasa sekarang.


"Ayo kita berjuang bersama. Meski tanpa papa, kita pasti bisa."


Anna mengcengkeram erat tangan mamanya. Kali ini, dia merasakan kontraksi yang lebih lama dan lebih sakit dari yang tadi.


Dan disaat bersamaan, ponselnya berdering. Ada panggilan video call dari Saga. Anna tak langsung menganggat. Sengaja dia biarkan dulu sampai dia merasa kontraksinya sudah reda dan dia bisa tersenyum lagi.


"Hallo, my Hubby." Sapa Anna begitu wajah Saga muncul dilayar ponselnya.


Saga mengernyit saat melihat latar dibelakang Anna. Jelas ini bukan rumah atau kampus.


"Kamu ada dimana?"


Anna mengarahkan kamera kesekitaran, membuat Saga seketika kaget. Melihat banyak sekali orang berpakaian pasien dan perawat, dia tak ragu lagi.


"Yap, benar sekali." Anna tertawa ringan, sementara Saga, masih dengan kecemasanya. Apalagi saat sadar jika Anna sedang memakai pakaian pasien.


"Melahirkan?"


Lagi lagi Anna mengangguk, membuat lutut Saga seketika terasa tak bertulang. Dia yang baru selesai kerja dan tiba dihotel, langsung terduduk lemas diatas ranjang.


"A, aku akan pulang sekarang."


Belum sempat Anna mengatakan apapun, Saga sudah menutup teleponnya. Pria itu segera mencari tiket untuk pulang secepatnya.

__ADS_1


Ditempatnya, Anna merasakan cairan yang merembers melewati pahanya. Tubuhnya gemetaran antara bingung dan takut.


"Mamah, Mah, Pah." Teriak Anna memanggil kedua orangnya yang berada tak jauh darinya, sedang mengobrol dengan teman lama yang kebetulan bertemu disana.


Melihat wajah Anna yang panik dan pucat, dengan tergopoh gopoh mama Luisa dan papa Jeremi menghampiri.


"Cairanku keluar Mah." Anna menunjukkan telapak tangannya yang basah setelah menyentuh bagian bawahnya.


Segera papa Jeremi mengambil kursi roda dan membawa Anna kedalam agar segera ditangani dokter. Karena tak ada suami, mama Luisa yang mendampingi Anna selama didalam.


"Masih tetap pembukaan 1 Bu. Tapi biasanya pembukaan lebih cepat setelah pecah ketuban. Tapi jika pembukaan tak kunjung bertambah, mungkin akan diinduksi."


"Tidak." Sahut mama Luisa cepat. Dia pernah merasakan betapa sakitnya diinduksi. Dia tak mau Anna merasakan itu. "Dicaesar saja jika pembukaannya tak kunjung bertambah."


Bagi Anna, normal atau caesar tak ada masalah selama itu yang terbaik untuknya dan anaknya.


"Ditunggu dulu saja Bu, semoga saja pembukaannya cepat setelah ini. Karena kebanyakan, seperti itu setelah ketuban pecah."


Mama Luisa langsung mengangguk. Setelah itu dokter keluar dan hanya meninggalkan dua orang perawat didalam.


"Mah, Kak Saga bilang, dia akan mencari tiket untuk pulang secepatnya."


"Tidak." Sahut mama Luisa lugas. "Jangan biarkan dia pulang sekarang. Perjalananan dari US ke Jakarta 20 jam lebih. Ketuban kamu sudah pecah, harus segera melahirkan. Lebih baik dia melihat melalui video call saja."


"Tapi Mah." Mata Anna kembali berkaca kaca.


"Anna, kali ini dengarkan mama. Takutnya kalian malah tak bisa video call saat Saga ada dipesawat. Lebih baik Saga ada disana. Biar dia bisa menemanimu melalui video call."

__ADS_1


Disaat bersamaan, ponsel Anna berdering, ada panggilan dari Saga.


"Biar mama saja yang bicara dengannya."


__ADS_2