Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
DIPOTONG


__ADS_3

"Ciee....ada yang wajahnya seger banget nih pagi ini." Kai tak sengaja bertemu Saga dikoridor menuju ruangannya.


Saga tak menggubris sama sekali. Dia malah sibuk tersenyum dan mengangguk pada karyawan yang menyapanya.


"Gimana, semalam udah gol belum?"


Saga langsung menginjak kaki Kai dan memelototinya. Bisa bisanya teman laknat itu membahas hal seperti ini di tempat umum. Ini sudah seminggu sejak dia menikah, akan sangat memalukan jika orang tahu dia baru melakukan malam pertama.


Meski berjalan agak pincang dan mendesis kesakitan, Kai tetap mengikuti Saga hingga keruangannya.


"Ngapain lo ikut kesini, balik ke ruangan lo." Hardik Saga saat melihat Kai mengikutinya sampai kedalam..


"Yaelah Ga, gue masih penasaran nih. Pengan tahu lo masih perjaka apa enggak?"


Saga mendesis pelan sambil memelototi Kai. Emang apa urusannya dengan Kai jika dia masih perjaka atau tidak. Anna saja bahkan tak bertanya soal itu. Kadang suka bikin kesel emang, pria sering bertanya tentang keperawanan, tapi wanita, jarang sekali mempermasalahkan tentang keperjakaan, tidak adil.


"Gak usah kepo deh." Saga meletakkan tas diatas meja lalu duduk dikursi kebesarannya.


"Dasar, kacang lupa kulitnya." Sindir Kai. "Kemarin aja kalau pas lagi galau, gue mulu yang dicurhatin. Sekarang giliran udah enak, udah ehem ehem, udah belah duren, gue dilupain." Kai menyebikkan bibir.


Saga menghela nafas, dia tahu seperti apa temannya itu. Kalau gak segera dikasih tahu, bisa bisa seharin ini dia akan diteror oleh Kai.


"Ga, gimana?"


Tuh kan bener, udah nanya lagi. Tingkat kekepoannya memang diatas rata rata.


"Udah."


"Hah, udah." Pekik Kai sambil menggebrak meja Saga, membuat teman sekaligus atasannya itu terjingkat kaget.


"Hei kambing, gue bos lo. Bisa bisanya lo nggebrak meja gue, minta dipecat?"


Bukannya takut, Kai malah melanjutkan bahasannya. "Beneran udah gak perjaka lo Ga?"


"Hem." Jawab Saga santai sambil membuka tas lalu mengeluarkan laptop.


Kai berjalan mengitari maja lalu memeluk Saga sambil menepuk nepuk punggungnya. "Selamat Bro, selamat. Akhirnya si perkutut ketemu sarangnya juga." Ujarnya sambil tertawa lebar.


"Lebay." Saga mendorong badan Kai hingga pelukannya terlepas.


"Gimana, bener gak kata gue. Sekali nyoba, pasti ketagihan. Mau lagi dan lagi, kayak iklan wafer."

__ADS_1


Saga menghela nafas. Heran juga pada temannya itu. Kai tak hanya hafal semua nama keryawati cantik dikantor ini, tapi sampai iklan tv pun, dia hafal.


"Ngomong ngomong, berapa ronde semalam?"


Huft, Saga menghela nafas berat. Merepotkan sekali punya teman yang amat sangat kepo seperti Kai.


"Sepuluh."


"WHAT!" Kai langsung melotot mendengarnya. "Apa gak lecet punya bini lo dihajar sepuluh ronde?" Kai geleng geleng dengan mulut menganga.


"Mau lecet, mau enggak, bini binu gue, ngapain lo yang ribet?"


Kai garuk garuk kepala. Benar juga apa yang dikatakan Saga. Tapi kalau benar benar sepuluh ronde, dia patut mengacungi Saga 4 jempol karena kekuatannya.


"Kayaknya, bentar lagi lo jadi bapak deh Ga. Bayangin, semalam sepuluh ronde." Kai mengangkat ke 10 jarinya. "Pasti langsung bunting si Anna."


"Anna belum mau hamil." Sahut Saga cepat.


"Loh, kenapa? Kalian bukan orang kismin yang masih mikir buat nabung sebelum punya anak. Tuh anak lo, baru lahir aja, udah terjamin hidupnya, secara dia bakal jadi penerusnya Pak Jeremi."


"Anna belum siap, usianya masih terlalu muda. Selain itu, kita masih butuh pengenalan lebih dalam lagi. Lo tahu sendirikan, gimana gue dan Anna nikah, kita baru kenal, belum pernah pacaran juga."


Kai terlihat manggut manggut. "Bener juga sih. Mending kalian puas puasin pacaran dulu. Bikin cinta itu segera datang. Setelah kalian merasa saling mencintai, mungkin itu saat yang tepat untuk memiliki anak."


Itu juga yang jadi pertimbangan Anna dan Saga. Cinta, mereka ingin cinta itu tumbuh dulu. Saat pondasi rumah tangganya sudah kokoh, mereka baru akan memikirkan soal momongan.


Sepulang dari kantor, Saga dibuat geleng geleng dengan ulah istrinya. Anna terlihat sibuk dengan hp didepan tv yang menyala. Entah apa yang dia tonton, hp atau tv?


Kondisi apartemen sangat berantakan. Sudah tiga hari ini mereka tinggal di apartemen baru, tapi sudah tiga hari juga, dia tak pernah melihat Anna membersihkan rumah ataupun beberes.


Ini juga yang jadi pertimbangan Saga untuk menunda momongan, Anna belum dewasa, belum paham akan tanggung jawabnya.


"Anna, kamu gak bersih bersih rumah hari ini?" Tanya Saga sambil sembari memunguti wadah snack yang ada diatas meja lalu membuangnya ketempat sampah.


"Aku udah telepon mama tadi. Katanya besok ada art yang kesini buat bersih bersih." Sahut Anna dengan mata masih fokus pada layar ponsel.


"Kamu kan gak ada kerjaan dirumah, kenapa gak kamu aja yang kerjain?"


"Ogah, males."


Saga memijit pelipisnya, kepalanya terasa pusing menghadapi istri macam Anna.

__ADS_1


"Tapi ini lantainya udah kotor banget, kamu vacum bentar dong."


"Aduh Kak Saga, bawel deh. Aku lagi sibuk nih." Anna mengalihkan pandangan dari ponsel menuju Saga.


Saga mengerutkan kening. "Sibuk apa?"


"Main sosmed."


Saga berdecak sebal. Sejak kapan main sosmed bisa dianggap kesibukan? Tak mau banyak bicara lagi, Saga kebelakang untuk mengambil vacum. Jangan salah, bukan dia yang mau membersihkan rumah, tapi dia mengambilkan untuk Anna.


"Nih udah aku ambilin, cepet bersihin rumah."


Anna mendengus melihat vacum disebelahnya. Seumur umur, belum pernah dia menggunakan alat itu, dan tak berminat menggunakannya.


"Aku gak bisa pakai itu, Kakak aja yang vacum." Sahut Anna santai.


Saga berdecak, mengembalikan vacum cleaner ke tempat semula lalu kembali mendatangi Anna dengan membawa sapu.


"Nih sapu. Jangan alasan lagi gak bisa cara makainya?"


Anna garuk garuk kepala sambil nyengir. Dia memang sudah biasa melihat orang menyapu, tapi kalau ditanya, apa dia pernah menyapu, jawabannya tentu tidak.


"Aduh." Tiba tiba Anna meringis sambil memegangi perutnya. "Mules, mau BAB." Anna hendak mengambil jurus langkah seribu alias kabur, tapi Saga lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.


"Gak usah alasan, cepat nyapu. Kalau gak mau, jatah bulanan kamu kakak potong setengah," ancam Saga.


Bukannya takut, Anna malah tersenyum miring. "Kalau gitu, jatah kakak juga aku potong setengah."


"Jatah, jatah apaan?"


"Ran-jang." Jawab Anna sambil menyeringai lebar. Sangat yakin kalau dia punya jurus jitu untuk menaklukkan Saga.


"Potong aja. Lagian aku tiap hari cuma tidur di sebelah ranjang doang. Gak masalah jika aku hanya dikasih jatah ranjang separuh. Lagian ranjang itu terlalu besar." Saga dengan jumawa melihat kedua tangannya didada.


Sementara Anna, dia langsung menepuk dahinya.


"Bukan itu yang aku maksud."


"Lalu?"


"Jatah olah raga diranjang yang dipotong. Kalau jatah bulananku dipotong, jatah olah raga ranjang kakak juga aku potong setengah."

__ADS_1


"Setengah gimana?"


"Boleh masuk sampai setengah doang, gak boleh mentok." Anna tertawa ngakak melihat Saga melongo. Dia tak mau membuang kesempatan, segera berlari kedalam kamar demi lolos dari tugas piket alias nyapu.


__ADS_2