Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
KABAR DUKA


__ADS_3

Saga yang sedang sibuk dengan setumpuk dokumen diatas meja, dikagetkan dengan kedatangan seseorang yang masuk tanpa mengetuk terlebih dulu. Siapa lagi kalau bukan Kai. Saga ingin menegur, tapi melihat wajah pias sahabatnya itu, dia jadi urung.


"Lo udah tahu belum Ga?"


Saga mengernyit bingung, tahu apa yang dia maksud.


"Hanafi Ga, Hanafi." Kai terlihat panik.


"Hanafi?" Saga seperti familiar dengan nama itu. Tapi siapa?


"Suaminya Rania." Sahut Kai cepat.


Pantas saja dia seperti mengenal nama itu. Tapi, kenapa Kai membahas soal suami Rania? Bukankah mereka tak akrab? Bahkan bisa dibilang tak kenal.


"Dia meninggal dunia."


Mata Saga seketika membulat sempurna. Hanafi, pria yang hari itu bersanding dengan Rania dipelaminan. Dan yang hari itu datang keresepsi pernikahannya, meninggal?


"Dia mengalami kecelakaan kemarin. Di jalan puspa indah. Sebuah kontainer yang supirnya mengantuk, menabrak mobilnya. Hanafi kritis dan dibawa kerumah sakit. Dini hari tadi, dia dinyatakan meninggal. Supir kontainer serta supir Hanafi, meninggal ditempat kejadian."


Kecelakaan, kemarin? Saga jadi ingat saat dia melewati kemacetan kemarin. Itu dijalan puspa indah, sama persis dengan apa yang Kai ceritakan.


Rasanya Saga masih belum bisa percaya. Maut, tak ada sesiapa yang tahu kapan datangnya. Pria yang sholeh dan baik seperti Hanafi, tiba tiba saja meninggal diusia yang masih sangat muda. Tiba tiba Saga teringat Rania. Wanita itu, seperti apa keadaan wanita itu sekarang?


"Ga, Saga, ngapain lo malah bengong?"


Ucapan Kai menyadarkan Saga dari lamunannya.


"Kapan almarhum disemayamkan Kai?"

__ADS_1


"Katanya siang ini."


"Kita kesana sekarang."


Saga segera membereskan mejanya. Mengambil kunci mobil lalu melemparkannya pada Kai. Sementara dia, mengambil jas serta kaca mata hitam yang tersimpan dilaci meja kerjanya.


Ternyata rumah duka penuh sesak. Meski Hanafi dan Rania warga baru dikomplek perumahan itu, tapi sikap mereka yang ramah dan mudah membaur, membuat meraka langsung diterima dengan baik. Tak hanya warga, keluarga dan rekan sejawat. Banyak santri dari pesantren yang datang kerumah duka untuk mengantarkan almarhum ke peristirahatan terakhir.


Saga dan Kai bertemu dengan ayah Hanafi serta papa Rania. Sedangkan Rania, wanita itu tak nampak sama sekali.


Kai dan Saga turut mengantarkan almarhum ke pemakaman. Baru disanalah, dia nampak Rania meski dari jarak lumayan jauh. Wanita bergamis putih itu menyandarkan kepala dibahu sang mama. Baru tampak naik turun, seperti sedang terisak. Pemandangan yang Saga lihat sungguh menyayat hati. Meski dia tak bisa melihat jelas bagaimana wajah Rania, Saga yakin, jika wanita itu sangat berduka saat ini.


Rania, wanita itu tak mampu menahan air matanya. Meski sudah dia tahan, tapi sesak didadanya memaksa air matanya meleleh. Segera Rania menghapus air matanya. Tidak, dia tidak boleh menangis. Dia tak mau menyusahkan kepergian Hanafi. Dia harus harus ikhlas melepaskan kepergian suami yang baru menikahinya 4 bulan. Disaat madu cinta sedang manis manisnya, dia ditinggal untuk selamanya oleh sang suami.


"Kalau kamu tidak kuat, lebih baik pulang saja sayang." Ujar umi Hanafi. Dia tak sampai hati melihat wajah menantunya yang sudah pucat pasi. Rania sedang hamil, kesehatannya dan janin dalam kandungan, menjadi prioritas keluarga besar mereka.


Tanpa terasa, air mata Saga meleleh melihat kesedihan mendalam yang dirasakan Rania. Sejak dulu, dia memang paling tak bisa melihat Rania menangis. Kebahagiaannya sangat singkat. Tapi dia yakin, Rania adalah wanita yang kuat. Dia sudah membuktikannya sejak kecil, dengan hidup baik bersama papanya meski dia tak pernah melihat sosok ibu kandungnya, karena wanita itu telah meninggalkan Rania sesaat setelah melahirkannya kedunia.


Anna, seketika Saga teringat istrinya itu. Dia berdecak saat menyadari sudah terlambat menjemput Anna. Saga mengambil ponsel yang ada dikantung jasnya. Benar saja, ada beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari Anna. Ponselnya dia buat mode silent sejak ikut mensholatkan alm Hanafi tadi, sampai saat ini, dia lupa mengubah kembali modenya.


Maaf Kakak gak bisa jemput. Pulang naik taksi, jangan mampir kemana mana


Ditempatnya, Anna berdecak kesal melihat isi pesan dari Saga. Dia sudah menunggu hampir 30 menit, dan ternyata suaminya itu tak bisa menjemput. Tahu seperti ini, dia pulang sejak tadi, tak perlu menunggu.


Anna segera memesan taksi online. Berjalan menuju gerbang dan menunggu disana. Tiba tiba sebuah mobil berhenti didekatnya.


"Anna." Panggil seseorang yang baru saja keluar dari mobil tersebut. Dia adalah Fero, salah satu mahasiswa populer dikampus Anna.


"Kak Fero."

__ADS_1


"Mau pulang?"


Anna menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Aku antar yuk."


"Maaf gak usah. Aku udah pesen taksi online."


"Batalin aja, biar aku antar kamu pulang." Fero sedikit memaksa.


"Sekali lagi maaf, aku gak bisa."


"Kenapa?"


Anna menghela nafas kasar. Dia paling males kalau nanggepin cowok yang ngeyel dan pemaksa seperti Fero. Sudah kesal karena Saga tak bisa menjemput, ditambah kedatangan Fero, membuatnya dobel kesal.


"Aku udah nikah."


"Jadi gosip hari ini, yang bilang kamu udah nikah, itu bener?"


"Iya."


"Suami kamu gak jemput?"


Sekali lagi Anna membuang nafas kasar. Padahal dia sudah menunjukkan raut tak nyaman, tapi Fero seakan tak mau tahu.


"Suami aku itu bisnisman, bukan pengangguran yang bisa antar jemput setipa saat." Jawab Anna jutek. Kemarin dia masih bisa bersikap baik pada katingnya itu. Tapi hari ini, melihat sifatnya, dia jadi ilfeel.


Sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka berdua. Seorang pria keluar sambil melihat ponsel.

__ADS_1


"Dengan mbak Annaya?"


"Iya Pak." Anna bernafas lega karena taksi pesanannya sudah datang. Berlama lama degan Fero hanya membuatnya makin kesal.


__ADS_2