Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
PERSIAPKAN DIRIMU


__ADS_3

Saga yang baru masuk kamar, tersenyum mendapati Anna yang masih tidur nyenyak meski sudah hampir pukul 12 siang. Dia membuka tirai kamar agar sinar matahari masuk dan mengganggu tidur nyenyak Anna.


Benar juga, Anna seketika menggeliat sambil menguap saat merasakan cahaya yang mengganggu matanya. Dia mengerjab ngerjabkan mata untuk menyesuaikan dengan cahaya.


"Udah siang sayang, bangun." Semalam mereka bercinta sampai pagi karena dimulai dari tengah malam. Baru berhenti saat adzan subuh untuk menunaikan sholat lalu tidur.


"Masih ngantuk." Anna ogah ogahan membuka mata. Tubuhnya terasa remuk. Entah berapa kali mereka melakukannya semalam hingga seluruh tulang Anna terasa terlepas dari tubuhnya, lemas sekali.


Saga mendekati Anna lalu mengecup keningnya. "Aku udah masak, kita sarapan dulu yuk."


"Masak?" Anna mengernyit sambil menatap Saga.


"Iya, anggap saja sebagai permintaan maaf karena kemarin..." Saga ragu melanjutkan kalimatnya.


"Bilang cake buatanku gak enak?"


Saga tersenyum absurd sambil garuk garuk kepala.


"Yuk sarapan, setelah itu kita kerumah sakit."


"Ngapain, jenguk Rania?"


Saga langsung menyentil dahi Anna karena gemas. Kenapa semua semua harus disangkut pautkan dengan Rania sih?


Anna mengusap dahinya yang panas sambil cemberut. Mengubah posisinya menjadi duduk lalu meringsek memeluk Saga.


"Kita jenguk Kai. Tapi kalau kamu mau jenguk Rania sekalian, ya gak papa."


Anna tampak berfikir, membuat Saga geleng geleng. "Gak usah njenguk kalau ragu."


"Aku takut Kakak oleng gara gara Rania."

__ADS_1


Saga tergelak mendengar kejujuran istrinya. "Emang kamu pikir, aku serapuh orang orangan sawah sampai oleng? Kamu itu terlalu parno An, terlalu memikirkan hal yang belum pasti terjadi." Saga meraih kedua tangan Anna lalu menggengamnya. "Sebuah hubungan itu harus dilandasi dengan kepercayaan Anna. Selamanya kamu gak akan tenang jika terus curiga padaku. Buang rasa curiga itu. Yakinlah bahwa dihatiku, hanya ada kamu. Kamu seorang Annaya." Saga mencium lama kening Anna.


"Aku memang terlalu parno kalau berhubungan dengan Rania. Karena aku tak sesempurna dia Kak."


"Cinta itu bukan perihal sempurna, tapi saling melengkapi."


Anna menganggukkan kepala. Hatinya sedikit tenang, tapi tak bisa sepenuhnya lega. Rania tetap saja menjadi momok menakutkan baginya.


"Makan yuk, kakak udah lapar nih." Saga mengusap perutnya yang kerongcongan. Dia memang belum makan dari kemarin sore, perutnya hanya terganjal cake saja.


"Emang kakak masak apa?"


"Emm..." Saga ragu untuk mengatakan. "Langsung dilihat aja, yuk." Saga menarik Anna turun dari ranjang. Menggandenganya keluar kamar menuju dapur. "Habis makan kita mandi bareng ya?"


"Enggak," jawab Anna cepat. "Aku tahu itu modus Kakak buat minta jatah. Capek semalam aja belum ilang."


Saga garuk garuk kepala karena modusnya ketahuan.


Dari kejauhan, terlihat dua piring makanan diatas meja. Anna benar benar tak sabar ingin tahu apa yang dimasak suami tercintanya itu.


"Hehehe....mie instan."


Anna memasang senyum terpaksa. Padahal daa bayanganya, Saga akan membuatkannya steak atau nasi goreng, tapi ternyata....mie instan.


.


.


.


.

__ADS_1


Saga menggandeng lengan Anna memasuki sumah sakit. Ditangan Anna, ada kue yang dia beli untul Kai.


"Aduhh...sakit...aduh..." Anna melihat seorang wanita dengan perut beras tengah didorong diatas brankar, sepertinya, mau melahirkan. Wanita itu mengaduh kesakitan sambil memegangi perutnya.


Anna reflek memegangi perutnya, tiba tiba saja, dia menjadi takut untuk hamil.


"Kenapa?" Tanya Saga saat Anna tiba tiba menghentikan langkahnya.


"Apa melahirkan itu sangat sakit?"


"Mana aku tahu." Jawab Saga santai. Tapi saat memperhatikan wajah Anna dengan seksama, dia tahu jika wanita itu sedang ketakutan. Saga mengikuti arah pandang Anna. Saat itulah dia tahu apa yang membuat Anna seperti ini.


Saga merangkul bahu Anna, mengajak wanita itu kembali melanjutkan langkah menuju ruang rawat Kai.


"Tidak akan sakit jika kamu ikhlas. Pahala wanita melahirkan itu sangat besar. Kamu takut?"


Anna mengangguk.


"Lalu kenapa hari itu bilang pengen hamil?"


Anna diam saja, tak mungkin dia bilang kalau dia ingin hamil karena ikut ikutan Rania.


"Jangan bilang kalau karena Rania hamil?"


Langkah Anna kembali terhenti. Dia tak menyangka jika Saga akan menebak dengan benar.


"Apa kita tunda dulu aja ya Kak?"


Saga menghela nafas lalu tersenyum menatap Anna. "Aku gak bisa janji. Karena sudah dua malam, aku mengeluarkannya didalam. Dan pastinya kamu juga tahu, itu masa subur kamu."


"Apa!" Anna menutup mulutnya tak percaya. Benar apa yang dikatakan Saga, dia dalam masa subur. Biasanya, Saga akan memakai pengaman saat masa subur. Melihat seperti apa kerja keras mereka dua malam ini, rasanya mustahil tidak hamil.

__ADS_1


"Sudah terlanjur." Sahut Saga sambil menahan tawa melihat ekspresi ketakutan Anna. "Segera persiapkan dirimu dan juga baju hamil, karena setelah ini, perutmu akan membuncit." Bukannya kasihan, dia malah menggodanya.


Anna menunduk, memperhatikan perutnya sambil mengusapnya pelan. Membayangkan perutnya yang lansing akan menjadi buncit.


__ADS_2