
Menjelang masa persalinan, Anna merasakan sulit tidur. Rasanya sungguh tak nyaman. Miring kiri, kanan, telentang, semua itu tak bisa membuatnya tidur dengan nyenyak. Ditambah lagi seringnya buang air kecil, membuat Anna sering terbangun di malam hari.
Seperti malam ini, dia kembali lagi terbangun karena rasa ingin buang air kecil. Tapi saat menoleh kesamping, dia tak menemukan Saga disana. Dimanakah pria itu tengah malam seperti ini?
Anna ke kamar mandi karena hasrat ingin buang airnya sudah tak tertahan. Keluar dari kamar mandi, dia mendengar suara Saga dari arah balkon.
"Tapi ini sudah mendekati hari persalinannya."
"___"
"Aku tak mungkin meninggalkan Anna."
Sayup sayup, Anna bisa mendengar Saga yang sedang menelepon entah dengan siapa.
Anna kembali keranjang. Pikirannya tak karuan karena ucapan Saga tadi. Meninggalkan Anna, apa maksudnya?
"Sayang, kamu bangun?"
Anna terkejut saat mendengar suara Saga. Karena melamun, dia tak tahu kalau Saga sudah kembali masuk kedalam kamar.
"Kenapa, gak bisa tidur?"
Anna mengangguk.
Saga naik keatas ranjang lalu duduk disebelah Anna. Dia mengelus perut buncit istrinya lalu mencium beberapa kali.
"Apa baby nendang terus sampai kamu gak bisa tidur?"
Anna menggeleng. "Dia sudah tak seaktif minggu minggu lalu. Seperti kata dokter, ruang geraknya sudah sempit."
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu bangun, buang air kecil lagi?"
Anna mengangguk. Dia menggenggam tangan Saga lalu menyandarkan kepala didadanya.
"Apa ada masalah?" tanya Anna.
Saga mengeryit sambil melihat wajah Anna. "Masalah?" Dia malah mengulang kata itu.
"Tadi aku gak sengaja denger Kakak telepon. Ada apa?"
Saga menghela nafas lalu mengecup kepala Anna. "Tidak ada apa apa."
"Jangan bohong." Anna mencubit perut Saga hingga pria itu meringis karena geli.
"Jangan pikirkan apa apa. Tak ada masalah, semua baik baik saja."
Anna berdecak kesal. Dia merasa Saga sengaja menutup nutupi sesuatu darinya. Beberapa hari ini, suaminya itu terlihat berbeda, seperti ada masalah berat. Anna tahu jika keluarga Saga memang sedang ada masalah. Tapi mungkinkah Saga sedang memikirkan itu?
"Apa Kak Saga menganggap aku sebagai istri?"
Saga mengerutkan dahi diberi pertanyaan seperti itu.
"Kalau aku memang dianggap istri. Setidaknya bicarakan semua masalah denganku. Aku juga ingin dianggap ada Kak." Suara Anna mulai bergetar, dia sedang menahan tangis.
"Tidak ada apa apa sayang. Aku hanya sedang memikirkan keadaan Lani, hanya itu." Kondisi Kalani memang salah satu yang dipirkirkan Saga. Setelah melewati beberapa pemeriksaan, Kalani dinyatakan mengidap leukimia. Kenyataan itu membuat keluarga Saga, terutama mama Mila sangat syok. Tapi sebenarnya, ada masalah lain juga, tapi Saga tidak mau Anna jadi kepikiran.
Anna melepaskan genggaman tangannya. Berbaring miring memunggungi Saga karena dia tak mau Saga melihatnya menangis. Dia yakin Saga ada masalah, tapi pria itu masih saja tak mau mengaku, menyebalkan. Meski selama ini dia dianggap masih kecil dan tengil, dia tetap ingin dianggap istri dan diajak berbagi masalah.
Paham jika Anna sedang marah, Saga ikut berbaring lalu memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Apa aku sangat tidak bisa diandalkan sebagai istri? Sampai sampai Kakak tidak mau cerita apapun padaku?"
Melihat Anna terisak, Saga jadi merasa bersalah.
"Maaf." Saga mencium bahu Anna beberapa kali. Saga dilema, mungkinkah dia memang harus membicarakan ini dengan Anna?
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Saga memutuskan untuk bicara.
"Papa memintaku untuk ke US."
"US?" Anna membalikkan badan menghadap Saga.
"Hem." Saga mengangguk. "Ada urusan pekerjaan yang sangat urgen. Tak bisa diwakilkan, mereka hanya mau jika papa atau aku sendiri yang datang. Kau tahukan, papa sedang ada di Singapura untuk pengobatan Kalani. Ditambah lagi kondisi mama yang kurang baik."
Mila terpukul saat tahu kondisi Kalani. Sampai sampai dia ikutan drop. Dan papa El, dia berat sekali untuk meninggalkan Mila dan Lani berdua saja di Singapura.
"Kakak akan pergi?" Hanya menanyakan itu saja, dada Anna sudah terasa sesak.
Saga menggeleng. "Aku tak mungkin meninggalkanmu. Perkiraan melahirkan 2 minggu lagi. Aku sudah janji akan menemanimu melahirkan, jadi jangan pikirkan apa apa lagi. Aku akan tetap disini menemanimu." Saga mencium kening Anna lama.
Air mata Anna meleleh. Disaat seperti ini, dia ingin Saga selalu disisinya. Tapi rasanya egois jika memaksakan itu disaat kondisi keluarga Saga juga sedang terpuruk.
"Berapa lama?"
"Aku tidak akan pergi."
"Katakan dulu berapa lama?" Desak Anna sambil menangis.
"7- 10 hari."
__ADS_1
Perkiraan melahirkan Anna 2 minggu lagi. Tapi jelas itu tidaklah akurat, bisa maju atau mundur.
"Pergilah." Dengan berat hati, Anna mengucapkan itu.