
Saga berjalan mendekati Anna. Duduk disisi sofa dimana Anna tertidur sambil menatap wajahnya yang sedikit sembab dan pucat. Ada perasaan bersalah dihati Saga. Mungkinkah dia sudah keterlaluan menghukum Anna?
Saga membelai pipi Anna menggunakan punggung tangannya.
"Aku sangat merindukanmu sayang." Seharian ini, sejujurnya Saga juga menderita. Dia tidak bertemu klien, melainkan berdiam diri di apartemen Kai. Rasanya ingin sekali pulang. Ingin menjawab saat Anna menelepon, serta ingin sekali membalas chatnya. Tapi sekuat hati, ia nenahan itu. Dia ingin memberi efek jera pada Anna.
Saga menaruh tas nya diatas meja. Memposisikan kedua tangannya di lutut dan punggung Anna, lalu mengangkatnya.
"Kak Saga." Anna tiba tiba terbangun.
"Tidurlah lagi."
Anna menggeleng. "Kak Saga udah makan?"
"Udah."
Wajah Anna seketika sedih mendengar itu. Padahal dia ingin sekali Saga mencicipi rendang buatannya.
"Tapi sekarang lapar lagi." Saga tahu jika Anna pasti ingin dia memakan rendang buatannya.
Senyum Anna merekah seketika. "Turunkan aku, biar aku siapin makanan."
Setelah Saga menurunkannya, dengan penuh semangat Anna berjalan kedapur. Mengambil rendang yang ada diatas meja lalu menghangatkannya sebentar di microwave.
"Mau aku buatin minuman hangat? Teh, kopi, susu, coklat atau apa?" Saking semangatnya, Anna sampai menyebutkan berbagai jenis minuman, sudah mirip kayak pelayan warung.
"Teh hangat saja."
Saga duduk disalah satu kursi yang ada didapur. Menatap Anna yang sibuk membuat teh. Menjadikan Anna seperti yang dia mau, jelas tidak bisa, tapi merubah Anna menjadi lebih baik, itu tugas dia sebagai suami.
Begitu teh yang dia bikin sudah siap, Anna langsung membawanya ketempat Saga. Tapi tiba tiba kepala terasa sangat pusing. Bumi yang dia pijak seperti berputar dan pandangannya mengabur.
__ADS_1
"An, Anna kamu kenapa?" Melihat Anna yang mulai oleng, Saga bergegas menghampirinya.
Pyar
Cangkir teh yang dipegang Anna jatuh hingga pecah. Beruntung Anna tak terjatuh karena Saga berhasil menahan tubuhnya.
"An, Anna, An." Saga panik melihat Anna yang tiba tiba pingsan. Segera dia angkat tubuh Anna menuju ruang keluarga dan menurunkannya diatas sofa. Ditepuk tepuknya pipi Anna perlahan dan terus memanggilnya. "Sayang bangun sayang."
Wajah Anna terlihat sangat pucat, tak pelak Saga makin cemas dibuatnya.
Saga kembali kedapur untuk mencari obat dikotak p3k yang ada dipojok ruangan. Mencari minyak angin atau apapun yang sekiranya bisa untuk menyadarkan Anna. Dia bernafas lega saat menemukan minyak kayu putih disana. Gegas dia kembali ketempat Anna dan mengoleskannya disekitaran wajah Anna.
"Sayang, jangan bikin aku khawatir," Saga bermonolog. Dalam hati dia terus berdoa agar Anna baik baik saja.
Saga mengucapkan syukur saat melihat Anna membuka mata.
"Sayang, kamu gak papakan? Apa yang sakit?" Raut cemas sangat terlihat diwajahnya.
"Panas..." Rintih Anna sambil melihat kearah kakinya. Ternyata kakinya memerah akibat ketumpahan teh panas tadi.
"Astaga sayang, itu harus segera diobati." Saga kembali lagi kedapur. Mengambil salep luka bakar dikotak p3k, serta seember air dari kamar mandi.
Saga berjongkok dibawah sofa, membantu Anna memasukkan kedua kakinya kedalam ember berisi air.
Anna merasa sedikit enakan. Panas di kakinya sedikit reda karena terendam air dingin. Selesai dibasuh air dingin, Saga mengeringkannya dengan handuk kecil lalu mengolesi dengan salep luka bakar.
"Kakak udah gak marah lagi sama aku?"
Saga tersenyum sambil memegang tangan Anna. "Udah jangan dibahas. Tapi lain kali, jangan diulangi lagi."
Anna mengangguk cepat dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Kok malah mau nangis?" Saga duduk disebelah Anna lalu memeluknya.
"Jangan diemin aku lagi. Lebih baik marahin aja, tapi jangan dicuekin kayak tadi. Hiks hiks hiks." Anna tak bisa menahan air matanya.
Saga menyeka air mata Anna lalu mencium keningnya lama.
"Aku sayang Kak Saga." Ucap Anna pelan sambil mengeratkan pelukannya dipinggang pria itu.
"Aku juga sayang kamu."
Saga melepaskan belitan tangan Anna lalu menatap wajahnya yang pucat.
"Kamu kenapa bisa sampai pingsan tadi? Kamu sakit?"
Anna menggeleng. "Cuma pusing. Seharian ini, aku belum makan."
"Astaga Anna." Saga menepuk dahinya sendiri sambil berdecak pelan.
"Aku gak bisa makan kalau kakak marah sama aku."
Saga sungguh menyesal telah mendiamkan Anna seharian ini. Istrinya itu sampai pingsan gara gara tak makan seharian. Saga menuju dapur, mengambil makanan untuk mereka berdua lalu kembali lagi ketempat Anna.
"Kakak suapin ya?"
Anna langsung mengangguk cepat. Panas dikakinya tak lagi terasa melihat Saga kembali perhatian padanya. Suapan demi suapan meluncur kedalam mulutnya. Dia yang memang sangat kelaparan, memakannya dengan sangat lahap. Terkadang ganti Anna yang menyuapi Saga.
"Enak sekali rendang buatan kamu."
"Beneran Kak?"
"Hem." Saga mengangguk dengan mulut penuh makanan. "Aku mau nambah habis ini."
__ADS_1
Tak terkira sebagianya Anna melihat Saga menyukai rendang bikinannya. Dia berjanji pada diri sendiri, setelah ini akan lebih giat lagi belajar memasak.