Cewek Tengil Itu Istriku

Cewek Tengil Itu Istriku
SEPERTI RANIA


__ADS_3

Saat hendak pulang, tak sengaja Desi melihat Anna yang duduk sendirian di taman samping kampus. Dihampirinya sahabatnya itu, dan diperhatikannya wajah Anna yang tampak murung.


"Lo kenapa?" Tanya Desi sembari duduk disebalah Anna. Mereka satu fakultas tapi beda tingkat karena Desi sudah masuk kuliah tahun lalu. "Biasanya pulang kuliah langsung pulang, dijemput suami tercinta. Tumben hari ini masih bengong disini?"


Anna sengaja mengatakan pada Saga jika hari ini, dia ada kelas tambahan. Karena itu, Saga belum datang menjemput.


"Ck, ditanya diem bae. Mending gue pulang deh." Desi hendak beranjak dari tempatnya duduk tapi lengannya lebih dulu ditahan oleh Anna.


"Gue lagi galau Des." Jawab Anna sambil tertunduk lesu.


"Galau, kenapa?" Desi kembali duduk disebelah Anna.


"Lo masih ingatkan tentang Kak Anaf yang dulu pernah gue ceritain ke elo? Dia meninggal dunia beberapa hari yang lalu karena kecelakaan."


"Innalillahi wainailaihi rajiun. Jadi lo sedih karena itu? Sabar ya An, sabar." Ujarnya sambil menepuk nepuk punggung Anna.


"Bukan." Anna menggeleng sambil menyingkirkan lengan Desi dari punggungnya.


"Lalu?" desi mengernyit.


"Istrinya Kak Anaf, Rania, dia jadi janda sekarang."


"Jadi lo galau karena kasihan sama Rania?"


Anna menghela nafas berat, dari tadi tebakan Desi salah mulu.


"Rania itu mantannya Kak Saga."


"Terus kenapa? Jangan bilang lo takut laki lo clbk ama mantannya itu, si Rania? Hello, sejak kapan Annaya jadi insecure kayak gini. Apa dia lebih cantik daripada lo?"

__ADS_1


Anna langsung berdesis sambil memelototi Desi. "Ya jelas cantikan gue kemana kemana lah."


Desi memutar kedua bola matanya malas. Berteman dengan Anna 4 tahun, membuatnya paham seperti apa watak sahabatnya itu. Tingkat percaya dirinya sangat tinggi. Sampai sampai bisa nabrak pewawat saking tingginya.


"Terus, apa yang bikin lo khawatir suami lo bakal clbk."


Anna menghela nafas berat. Bahkan helaannya sampai bisa terdengar oleh Desi.


"Gua tahu seperti apa cintanya Kak Saga ke Rania. Gue takut saat Rania menjadi janda, dia seperti mendapatkan celah untuk kembali pada mantannya itu. Selain itu, selama kami menikah, Kak Saga belum pernah menyatakan cintanya ama gue. Gue takut dia belum bisa move on dari Rania." Anna makin tertunduk. Inilah ketakutan terbesarnya. Ada celah yang bisa membuat Saga dan Rania kembali bersama.


Baru kali ini, Desi melihat Anna segalau ini. Dulu, tak pernah Anna ketakutan ditinggal cowok.


"Lo yakin Kak Saga gak cinta sama lo?"


Anna menggeleng, dia tak tahu pasti soal itu. Dalamnya lautan bisa diukur, tapi dalamnya hati seseorang, siapa yang bisa tahu. Meski selama menikah, Saga memperlalukannya dengan sangat baik, tapi pria itu tak pernah menyatakan cintanya.


"Ya kalo gitu, coba lo nyatain cinta duluan, terus tanya apakah dia cinta sama lo atau enggak?"


"Ya udah, tinggiin aja gengsi lo sampai langit ke tujuh. Entar kalau lo kehilangan Kak Saga, gak usah nangis nangis ke gue."


"Desi." Pekik Anna yang kesal. "Lo ngedoain gue jadi janda?"


Desi geleng geleng. Menghadapi Anna yang keras kepala, udah jadi santapannya selama bertahun tahun. Bahkan dulu, mulutnya sampai berbusa menasehati Anna biar mutusin Evan, tapi kekeh juga cewek itu bertahan.


"Gini nih, kalau otak ditaruh didengkul. Gak bisa bedain antara ngedoain ama memperingatin. Pantesan lo gak bisa keterima di universitas negeri," cibir Desi.


"Kayak lo bisa aja." Anna balik mencibir, karena memang kualitas otak mereka sebelas duabelas. Desi hanya nyengir saat kalimatnya dibalikkan.


"Bukankah kalian sudah sering berhubungan badan. Masa iya Kak Saga gak cinta sama lo? Emang gimana yang lo rasain saat kalian ngelakuin itu? Harusnya lo udah bisa ngelihat dari cara dia ngetreat elo."

__ADS_1


"Lo tahukan, cowok bisa ngelakuin itu tanpa cinta. Jadi ma_"


"Gak usah nyeramahin gue soal itu. Gue udah tahu. Kalau semua harus pakai cinta, kupu kupu malam gak laku dong."


Anna mendesis sebal. Kenapa yang dibahas malah melebar ke kupu kupu malam?


"Maksud gue, saat kalian ngelakuin itu, masa iya lo gak bisa lihat dari matanya?" Desi sampai menunjuk matanya sendiri agar Anna paham. "Ada binar binar cinta gak? Jangan bilang lo selalu merem kalau pas ngelakuin itu karena keenakan?" Desi tersenyum meledek.


Anna kembali duduk disebalah Desi. Kembali mengingat momen demi momen saat mereka menyatu. Saga memperlakukannya dengan sangat baik, sangat lembut. Bahkan ucapan terimakasih dan kecupan dikening, tak pernah absen Saga lakukan. Anna seperti melihat cinta dimatanya, tapi dia takut salah mengartikan.


"Gue gak mau terlalu percaya diri Des."


Tumben, batin Desi.


"Cinta Kak Saga buat Rania itu sangat tulus Des. Gue bisa lihat itu dulu. Bahkan dia menangis saat Rania menikah. Gue takut dia oleng saat Rania udah jadi janda. Gue gak mau kehilangan Kak Saga Des." Anna tiba tiba terisak, membuat Desi langsung merangkul bahunya.


"Ya lo usaha dong An, gimana caranya agar Kak Saga gak oleng. Agar Kak Saga lebih milih lo daripapa Rania? Lo mungkin lebih cantik dari Rania, tapi ingat An, cantik bisa membuat laki laki jatuh cinta. Tapi kenyamananlah yang bisa membuat laki laki stay, menetap."


Anna makin terisak mendengar penuturan Desi. Rania punya segalanya yang bisa membuat Saga nyaman. Seperti dialah sosok istri idamannya. Sedang dia, meski cantik, tapi sering membuatnya kesal. Apa mungkin Saga mau stay dengannya?


"Jadilah rumah bagi Kak Saga An. Bikin dia nyaman bersamamu dan tak ingin melirik yang lain terutama mantan. Jadilah istri idamannya. Aku yakin kamu bisa An."


Anna mengangguk meski dia sendiri tidak yakin. Menjadi istri idaman Saga, jelas bukan hal yang mudah.


"Apakah aku harus menjadi seperti Rania?"


"Kalau itu bisa membuat Kak Saga memilihmu, kenapa tidak?"


Anna mengangkat kepalanya yang bersandar dibahu Desi sambil menatap temannya itu.

__ADS_1


"Apa aku juga harus hamil seperti Rania?"


__ADS_2